
Hari ini Fadila akan pergi ke sekolah tempat Anan akan mendaftar. Sekolah yang di rekomendasikan sang mertua.
"Berangkat jam berapa, sayang?" Tanya Arnan saat Fadila sedang memakaikan dasinya.
"Tunggu Sinta datang, Mas." Fadila tetap fokus pada kegiatannya merapikan dasi dan kerah kemeja suaminya hingga selesai.
Keduanya berjalan keluar kamar untuk menuju lantai bawah. Karena hari ini Arnan sudah mulai masuk bekerja di kantor, jadi tidak bisa mengantarkan anak dan istrinya kesekolah.
"Maaf ya, Mas gak bisa ikut. Nanti ada rapat bulanan sekalian evaluasi," ucap Arnan.
"Gak papa, Mas. Fokus saja bekerja, nanti siang aku sama Anan ke sana bawa makan siang," sahit Fadila.
"Gak usah bawa makanan, sayang. Nanti Mas yang pesankan, kalian datang saja." Fadila mengangguk sembari tersenyum manis pada suaminya.
Wanita itu dengan telaten mengurusi sang suami, mengambilkan makan dan menyiapkan air minum. Arnan tersenyum bahagia karena di layani oleh istrinya layaknya seorang raja. Hal itu pula yang membuat Arnan memberikan segala yang terbaik untuk Fadila.
Arnan menyiapkan banyak pelayan untuk membersihkan rumah dan memasak. Pekerja kebun dan satpam serta seorang supir yang siap mengantarkan kemanapun Fadila ingin pergi.
Arnan ingin istrinya hanya mengurusnya dan anak mereka saja. Tanpa harus di pusingkan dengan segala keperluan rumah.
Fadila tidak menolak semua yang suaminya lakukan untuknya. Wanita itu malah senang dan emrasa sangat spesial bagi sang suami. Apa lagi Fadila selalu bebas ingin melakukan apapun dan berbuat apapun yang ia inginkan selama itu tidak membahayakan dirinya sendiri.
"Hati-hati nanti di jalan," ucap Arnan ebari pamit pada Fadila yang sedang mengecup tangannya.
"Mas, juga hati-hati." Arnan mengecup kening Fadila lalu masuk ke dalam mobil yang sudah ada supirnya.
Arnan tidak ingin repot menyupir sendiri kalau maish ada orang yang bisa melakukannya. Selain itu, Arnan juga bisa membantu orang lain dengan memberikan pekerjaan. Meski terlihat sederhana namun sangat berarti bagi orang lain.
Setelah mobil Arnan keluar dari gerbang rumah, Fadila bermaksud hendak masuk kembali ke dalam rumah. Namun langkahnya tertahan saat ada mobil lain yang masuk kehalaman rumahnya.
Senyum Fadila mengembang saat tahu mobil siapa yang masuk itu.
"Mami ..." Panggil Anan yang baru saja keluar dari mobil di bantu Sinta.
Bocah gembul itu berlari mendekati Fadila lalu memeluk Maminya.
"Kangen, Mami." Fadila mengecup wajah Anan saat mendengar ucapan anaknya.
__ADS_1
"Mami, juga kangen sama kesayangan Mami ini."
"Seperti gak ketemu bertahun-tahun saja. Padahal setiap malam video call," ucap Sinta meledek ibu dan anak di depannya.
"Buna, kemalin juga gitu waktu aku balu pulang naik pesawat. Buna, cium aku tlus bawa aku pelgi ke lumah kakek Vian. Aku ndak boleh pulang ke sini, tlus ndak boleh jauh-jauh dali Buna juga," oceh Anan yang membuat Sinta mendelik tak percaya.
Bagaimana mungkin bocah kecil kesayangannya itu sudah mengerti cara membela seseorang? Bahkan ucapannya membuat Sinta sedikit kikuk, karena memang Sinta dan Dwi selalu menelpon video pada Fadila dengan alasan kangen Anan saat sedang liburan di Bali.
"Ah, ayo kita pergi sekarang." Sinta mengalihkan perhatian ibu dan anak itu.
"Sebentar, aku ambil tas dulu." Fadila masuk ke dalam rumah, sementara Sinta membawa Anan untuk masuk ke dalam mobil lagi.
"Naik mobil kamu saja ya, Sin. Nanti turunkan kami di kantor Daddy nya Anan setelah semuanya selesai." Fadila masuk ke dalam mobil Sinta setelah kembali membawa tasnya.
"Beres semua bisa di atur," ucap Sinta.
Mobil melaju membelah jalanan menuju sekolah kanak-kanak. Hingga tiba di sekolah itu, Fadila dan Sinta lebih dulu melihat-lihat lingkungan sekolah untuk lebih meyakinkan pilihan mereka.
"Gimana menurut kamu, Sin? Kalau aku sih oke," kata Fadila.
"Oke juga sih, ayolah kita daftarkan kesayangan kita ini," sahut Sinta sembari menjawil pipi Anan yang sejak tadi berjalan menggandeng tangan Fadila.
"Aku besok sekolah di situ, Mi?" Tanya Anan saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Iya, Anan harus jadi anak baik dengan belajar yang rajin dan jangan nakal," sahut Fadila.
"Kalau Anan nakal nanti gak punya teman," sambung Sinta.
"kenapa anak nakal ndak punya teman, Bun?" Tanya Anan penasaran.
"Karena anak nakal itu gak di sukai orang lain," jawab Sinta.
"Kenapa bisa ndak suka? Kalau olangnya ganteng sepelti aku juga ndak ada yang suka?"
Fadila dan Sinta menatap Anan dengan pandangan tak percaya. Darimana pula datangnya rasa percaya diri bocah kecil ini hingga bisa mengklaim dirinya ganteng.
"Mau seperti apa pun rupa kita, kalau kita nakal dan jahat gak akan ada orang yang mau, Nak." Fadila menjelaskan seadanya pada Anan, berharap anak itu mengerti.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong dari mana kamu tahu kalau kamu itu ganteng, Nak?" Tanya Sinta lebih penasaran dengan hal itu.
"Dali Daddy, kata Daddy aku ganteng sepelti Daddy."
Jawaban Anan membuat Fadila menghela napas panjang. Ternyata ulah suaminya yang mengajari anak mereka seperti itu.
"Like father like son," ucap Sinta yang semakin membuat Fadila mendengus.
Sesampainya di mall, mereka segera mencari keperluan Anan untuk sekolahnya.
"Mau tas yang mana, sayang?" Tanya Fadila sembari menunjukkan dua model tas baru pada Anan.
"Ndak mau yang ada gambalnya, Mi. Itu punya anak kecil," sahut Anan yang lagi-lagi membuat Fadila dan Sinta melongo.
"Hah, punya anak kecil? Memangnya kamu sudah sebesar apa, Nak? Kamu bahkan masih sekolah di taman kanak-kanak," kata Sinta.
"Tapi aku sudah besal, Buna. Kata Daddy kalau sudah besal ndak boleh punya balang yang ada gambal-gambal sepelti itunya."
Fadila menepuk keningnya, ingat kejadian di hotel di mana sang anak selalu bertanya kenapa daddy nya selalu memakai baju yang polos. Dan hampir semua barang milik daddy nya tidak memiliki gambar.
Di sanalah jawaban Arnan membuat anaknya ingin seperti sang daddy yang terlihat sudah besar dan dewasa.
"Ya sudah pilih sendiri, kamu mau tas yang mana?" Pasrah Fadila.
Anan benar-benar memilih tas yang tidak memiliki gambar. Walau masih tergolong tas anak-anak juga.
"Mau yang ini, Mami. Aku mau dua, ya?" Kening Fadila mengkerut mendengar permintaan anaknya. "Satu saja, Nak. Kan tas kamu sudah ada dua sama yang biasa di bawa pergi," ucap Fadila.
"Ndak mau itu lagi, Mi. Itu tasnya anak kecil, aku sudah besal."
Fadila menghela napas lalu mengangguk saja, dari pada menolak dan ujung-ujungnya Anan akan tetap mendapatkan apa yang di inginkannya dari sang daddy.
Setelah memilih tas, kini mereka beralih ke peralatan sekolah lainnya. Hingga semua yang di butuhkan untuk sekolah Anan sudah cukup. Mereka memutuskan untuk ke gerai es krim, istirahat sejenak sebelum nanti Fadila pergi ke kantor suaminya.
"Nanti kalian sama supir, aku masih ada urusan dengan Robert. Kami ingin mencari cincin pertunangan," ucap Sinta di sela menikmati es krimnya.
"Iya, nanti kami juga bisa minta jemput kalau kamu gak bisa anter," ujar Fadila.
__ADS_1
"Sama supirku saja, sekalian nanti bapaknya pulang. Karena aku mau sama Robert dan kemungkinan pulangnya agak lama juga."
Fadila hanya mengangguk saja menanggapi ucapan Sinta.