
"Mas! Boleh aku tanya sesuatu?" Fadila menatap suaminya yang masih asik bercanda dengan Anan di pangkuannya.
Karena memang belum waktunya untuk bersalaman dengan pengantin. Jadi pasangan itu masih santai dan bisa bercanda bersama.
"Apa?" Arnan melihat Fadila sejenak dan kembali bercanda dengan Anan yang begitu bahagia saat ini.
"Em ... Gimana ya?" Pandangan Fadila beralih pada anaknya yang masih tertawa karena baru di gelitik daddy nya.
"Anan! Ikut Mama yuk, Nak!" Dwi dan Devan tiba-tiba naik ke pelaminan.
"Mau makan, Ma." Anan mengulurkan kedua tangannya minta gendong.
Dan Devan lah yang menyambut uluran tangan bocah gembul itu. "Ayo kita makan yang banyak, biar makin gembul badan kamu," ucap Devan sembari mengecup pipi Anan.
"Bialin, kata Mami ndak massalah untuk ssekalang," sahut Anan yang membuat Dwi serta pasangan pengantin itu terkekeh.
"Anan, kok gitu sih! Papa jadi sedih," kata Devan pura-pura sedih.
"Ssayang Papa." Anan mengecup pipi Devan agar tak sedih lagi.
"Ugh, manisnya anakku. Kita cari makanan sekarang."
Anan terpekik senang karena Devan mengangkatnya layaknya akan terbang.
"Kalian aman dan bisa mesra-mesraan sekarang. Si bocil biar jadi urusan kami," ucap Dwi menatap Fadila dan Arnan sebentar.
Gadis itu turun menyusul Devan dan Anan yang sudah menunggu di bawah.
Fadila dan Arnan hanya melihat saja kepergian Dwi dan Devan yang membawa Anan untuk makan dan minum. Meski di dekat kursi pengantin mereka ada botol minuman dan beberapa cemilan yang terbungkus rapi.
"Oh iya, kamu tadi mau tanya apa?" Arnan menatap Fadila yang membalas tatapannya.
Wanita itu jadi teringat kembali dengan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa nama belakang Anan, ada nama Mas?" Tanya Fadila.
"Oh, karena dia anak kita berdua, jadi ya harus ada nama daddy nya di belakang namanya," sahut Arnan santai.
"Tapi ..."
"Sst, Mas sudah urus semuanya. Buku nikah kita sudah selesai, kamu tinggal tanda tangan saja nanti. Dan akte kelahiran Anan, juga sudah Mas ganti dengan yang baru."
Fadila kaget mendengar ucapan suaminya ini. Sejak kapan pria itu melakukan semua itu? Bahkan ia tidak pernah tahu.
"Kapan Mas melakukan itu semua?" Tanya Fadila tak percaya.
__ADS_1
"Sewaktu kita di Amerika. Mama sama Papa yang uruskan buku nikahnya di sini. Sedangkan Mas, urus akte kelahiran Anan yang sebelumnya atas nama saudaranya Sinta. Mas gak mau anak kita di ambil orang lain, walaupun itu cuma di akte," jelas Arnan.
Fadila melongo mendengar penjelasan suaminya. Bagaimana bisa seperti itu? Kalau masalah buku nikah, oke lah. Bisa di urus dengan mudah karena mereka sama-sama tidak punya pasangan.
Tapi akte kelahiran yang sejak awal sudah di cetak dan tercatata di sebuah intansi rumah sakit. Bagaimana bisa di rubah seenaknya dan di cetak ulang?
"Mas, serius? Itu akte sudah jadi dan tercatat sejak Anan lahir loh, Mas. Itu sudah 4 tahun berlalu," kata Fadila.
"Memangnya kenapa? Buktinya Mas bisa dapatin akte Anan yang baru. Dengan nama Ananda Syahputra Affandi, artinya dia putra kita berdua."
Arnan tersenyum pada Fadila yang masih melongo tak habis pikir dengan sang suami yang serba bisa.
"Oke lah kalau kamu kasih nama belakang kamu buat Anan, gak ada masalah sama aku. Tapi masalahanya Mas, akte itu di keluarkan pihak rumah sakit 4 tahun yang lalu." Fadila mencoba mengutarakan kebingungannya.
"Mas, hubungi yang punya rumah sakit. Minta dia buat ulang aktenya, gampang kan."
"Hah?" Semakin melongo tak percalah Fadila dengan jalan pikiran suaminya.
"Kenapa? Gak percaya?" Fadila menggeleng.
"Rumah sakit tempat kamu melahirkan Anan dulu. Itu punya rekan kerjanya Mas, bahkan Mas punya beberapa persen saham di situ," jelas Arnan.
Fadila menghela napas setelah mendengar penjelasan suaminya. Baru ia paham kenapa semua itu bisa terjadi.
"Kenapa?" Tanya Arnan mengelus pipi Fadila kala mendapati istrinya itu geleng kepala menatapnya.
"Gak kenapa-kenapa, Mas. Cuma sepertinya kamu banyak menanam saham di mana-mana. Aku pernah dengar tentang kamu yang jadi pemilik banyak saham."
Fadila tersenyum canggung pada suaminya karena mengetahui hal itu. Ia takut di cap sebagai orang sok tahu atau apa lah.
Arnan tersenyum geli melihat wajah canggung istrinya. Ia mencubit gemas dagu Fadila, untung saja mereka di tempat ramai. Kalau tidak sudah pasti akan lebih dari cubitan biasa.
"Gak papa Mas jadi penanam saham di mana-mana. Asal tanam bibitnya di kamu saja, gak kemana-mana," goda Arnan yang membuat Fadila melotot.
"Maksud Mas, apa? Apa ada niat buat kemana-mana juga?" Sewot Fadila pada suaminya yang malah tertawa. "Enggak sayang, Mas gak berani."
"Awas saja kalau Mas berani macam-macam di luar sana! Aku habisi senjata kamu," ancam Fadila yang membuat Arnan menghentikan tawannya.
Sadis juga istriku, batinnya.
"Enggak sayang, Mas gak pernah macem-macem kok. Cuma satu macem saja," ucap Arnan memeluk Fadila yang cemberut.
"Jangan cemberut gitu cantik," lanjutnya sembari mengecup tangan kanan Fadila mesra.
Istri mana yang tak luluh mendapat perlakuan manis seperri itu. Apa lagi tatapan penuh cinta Arnan semakin membuatnya tak berdaya.
__ADS_1
Ini kah cinta yang sesungguhnya? Kalau memang iya, alangkah manis dan indahnya, batin Fadila.
Di sisi lain tempat pesta pernikahan ...
Dwi, Devan, Sinta dan Robert sedang duduk bersama dalam satu meja. Tak lupa pula di kecil Anan yang sedang makan makanan ringan bersama Devan.
Tiba-tiba Sinta memukuli bahu Dwi dengan cepat dan pandangannya yang tertuju pada satu arah.
"Dwi! Dwi! Si brengsek datang." Dwi yang tadinya kesal seketika terdiam saat mengetahui aiapa yang di maksud Sinta.
"Ngapain si mantan ke sini?" Tanya Dwi entah pada siapa.
"Ya undangan lah, masa ngemis. Ada-ada saja kamu ini," Sinta memukul pelan pundak Dwi.
"Tapi siapa yang undang dia?" Tanya Dwi lagi.
"Kamu lupa cerita mas Riki tentang dia yang di kasih semua aset sama perusahaan mertuanya untuk ganti rugi." Sinta mengingatkan.
"Ah iya, dia jadi semakin kaya sejak saat itu," ucap Dwi.
"Lihat tuh istri sama anak mereka, anak itu pasti yang dulu di kandung waktu mereka nikah." Tebak Sinta saat melihat Febri menggendong seorang anak kecil.
Ya, orang yang di bicarakan Dwi dan Sinta adalah Febri dan Baby yang hadir di pernikahan Fadila dengan Arnan.
"Ck, ck, ck, langgeng ya mereka. Tahan banget tinggal sama dua nenek lampir," ucap Dwi sembari geleng kepala.
"Sst! Jangan sembarangan ngomong, ada Anan di sini." Sinta mengingatkan Dwi lagi.
Bagaimanapun juga di sana ada Anan, anak kandung dari Febri. Meski bocah itu tahunya Arnan adalah daddy nya. Tapi tetap saja Febri adalah ayah biologisnya.
"Lihat! Lihat! Mereka naik ke pelaminan. Kira-kira masih tanda gak ya mereka sama Fadila?" Heboh Sinta.
"Gak tahu, bisa iya bisa gak juga. Karena Fadila semakin cantik dan berbeda sama yang dulu," sahut Dwi.
"Kalian bisik-bisik apa?" Tanya Robert heran saat mendapati kedua gadis itu sejak tadi bisik-bisik dan menatap satu arah.
"Ah enggak, cuma lagi bahas hal penting yang harus di dengar Anan saja," alibi Sinta.
"Memangnya apa? Sampai kalian harus bisik-bisik." penasaran Devan setelah membersihkan mulut Anan.
"Gak pake tahu," ucap Dwi.
"Hah! Maksudnya?" Tanya Robert kurang paham.
"Rahasia ..." kompak Dwi dan Sinta yang membuat Robert hanya bisa geleng kepala.
__ADS_1