PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
KISAH CINTA TAK SEMPURNA


__ADS_3

“Jawab mi.” Ucap Arsya seraya mendekat ke arah Wafa dan Karolina.


“Bukan seperti itu Arsya.”


“Lalu seperti apa mi?? Tadi aku jelas mendengar kalau mami ingin membalas budi dengan cara menikahkan Wafa dengan ku.”


Karolina terdiam, ia menatap Wafa yang menunduk. Tetesan air mata mulai terlihat berjatuhan membasahi punggung tangannya yang saling meremas. Ucapan Arsya benar-benar menyakiti Wafa.


Ucapan Arsya juga semakin membuktikan kalau Arsya memang tidak mencintai Wafa. Wafa tahu hal itu, dari awal pernikahan mereka tanpa cinta dan tak ubahnya seperti kesepakatan semata. Tapi beberapa bulan telah berlalu, ternyata perasaan Arsya pada Wafa tidak berubah.


Tanpa berkata apapun, Wafa beranjak dari sana, ia menghapus air matanya dengan kasar, kemudian menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Entah pada siapa Wafa harus marah, Wafa lebih merasa kesal pada dirinya sendiri yang dengan mudah jatuh cinta pada Arsya. “Ternyata aku terlalu berharap.” Batinnya seraya berlari dan mengunci dirinya sendiri di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar.


“Kamu keterlaluan Arsya!!” Sentak mami.


“Siapa yang keterlaluan? Aku atau mami? Mami menjadikan aku sebagai alat untuk membalas budi.”


“Arsya cukup, Wafa pasti terluka mendengar ucapan kamu.”


Arsya terdiam, ia seolah mengingat kembali apa yang ia ucapkan tadi. Arsya pun tersadar, “Shiiittt.” Umpatnya.


Arsya berlali menyusul Wafa ke dalam kamar, tapi wafa tak berada di sana. “Sayang kamu dimana??”

__ADS_1


Arsya beranjak ke balkon, namun di sana Wafa juga tak ada. Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat Arsya yakin jika Wafa berada di dalam sana. Ia pun mengetuk pintunya.


Tok..tok..tok


“Sayang buka, aku mau bicara sama kamu.” Ucap Arsya.


Tak ada jawaban dari dalam sana, Arsya memutuskan untuk membiarkan Wafa tenang dan dia akan menunggu Wafa keluar dari dalam sana saja.


Beberapa menit berlalu, Wafa masih belum juga keluar dari dalam sana. Arsya mulai merasa cemas, ia kembali menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya.


“Wafa, sayang. Kamu bisa buka pintunya sebentar??”


CEKLEK


“Sayang, maaf.”


“Maaf untuk apa mas?? Kamu gak salah apa-apa kok.”


“Kata-kata aku tadi pasti menyinggung mu, maaf sayang. Aku gak bermaksud mengatakan kalau..”


“Kalau kamu terpaksa menikahi ku??” Wafa tersenyum getir, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. “Tidak usah meminta maaf mas, aku gak papa kok. Aku cuma kaget aja, dulu kamu maksa aku supaya aku nerima kamu, dan ternyata kamu juga terpaksa melakukan itu. Apa aku boleh bertanya??”

__ADS_1


Arsya menatap Wafa dengan tatapan menyesal, kemudian ia pun mengangguk.


“Apa sebenarnya yang menjadi alasan kamu mau menerima rencana mami saat itu mas?? Bukankah jika kamu tidak mau sebaiknya menolak?? Tapi kamu justru memaksa ku dan meyakinkan aku supaya aku menerima rencana mami juga.”


Arsya terdiam, mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Wafa. Kalau dirinya memaksa Wafa menerima rencana itu karena awalnya Arsya merasa tersinggung dengan penolakan Wafa. Karena tidak pernah ada perempuan yang berani menolak Arsya selain Wafa.


“Kenapa diam mas??” Tanya Wafa lagi.


“Sayang aku, aku…”


“Gak bisa jawab kan mas??”


Arsya kembali diam, ia takut salah bicara dan membuat masalahnya dengan Wafa semakin meruncing.


Lagi-lagi Wafa tersenyum getir, senyuman yang mampu membuat Arsya merasakan sakit ketika wajah sendu dan mata sembab Wafa jelas tak mampu di sembunyikan lagi.


“Sayang…” Arsya mendekat, ia membawa Wafa ke dalam dekapannya.


Tak seperti biasanya, jika Arsya memeluk Wafa, perempuan itu akan dengan senang hati membalas pelukan itu dengan erat. Kali ini Wafa hanya diam seraya terisak, ia tak membalas atau pun menolak. Dan Arsya merasa ada sesuatu yang hilang saat kedua tangan istrinya tak membalas belitan tangannya di punggung perempuan itu.


“Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf.”

__ADS_1


Wafa masih tak menjawab, perempuan itu hanya terisak meratapi kisah cintanya yang tak pernah sempurna.


__ADS_2