
Selesai makan malam bersama dengan keluarga ayah Beni. Kini mereka semua duduk bersama di ruang keluarga.
Anan tentu saja menjadi bintang utama di sana. Bocah itu membuat semua orang dewasa di sekitarnya tertawa. Terutama saat bertengkar dengan Dwi karena rebutan ibu Kiki.
Di tengah-tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba ayah Beni mengulurkan sesuatu pada Fadila.
"Apa ini, Yah?" Tanya Fadila.
"Bukalah, lalu tanda tangani berkas itu." Ayah Beni tersenyum tipis.
Fadila tidak langsung membuka map di depannya. Wanita itu lebih dulu menatap sang suami untuk meminta pendapat. Dan setelah Arnan mengangguk, barulah Fadila menyentuh map itu.
Membuka dan membaca apa yang tertulis di sana. Kedua mata Fadila melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Yah! Ini ..." Fadila menatap ayah Beni tidak percaya.
"Tanda tanganilah, Nak. Itu hadiah dari Ayah dan Ibu atas pernikahanmu," ucap pria itu santai.
Fadila sungguh shok mendengar ucapan ayah Beni. Membaca surat di tangannua saja is sudah kaget. Di tambah lagi pernyataan langsung pria itu.
"Ayah ... Serius? Ini banyak banget loh Yah pendapatannya."
Arnan hanya diam saja tanpa mau menyela dan ikut campur dengan urusan istrinya. Selama sang istri dan anaknya tidak dalam masalah.
"Sudah, tanda tangani saja suratnya. Itu hak kamu dan Anan, Ayah sama Ibu memang sudah berniat memberikan itu sejak lama. Tapi karena pekerjaan Ayah, jadinya sekaeang baru di kasih," jelas ibu Kiki santai.
"Tapi, Bu. Ini saham 10% dari perusahaan Ayah yang di kelola Mas Surya, kan? Nanti apa kata Mas Surya dan Mbak Dewi. Lagi pula keuntungan dari saham ini sangat banyak," ucap Fadila.
Bukan bermaksud menolak pemberian dari ayah Beni dan ibu Kiki. Fadila hanya takut jika anak-anak ayah Beni sendiri belum mendapatkan apa-apa.
"Mereka sudah mendapatkan bagiannya masing-masing, Nak. Itu tinggal bagian kamu, dan itu sudah jadi hak kamu," ucap ayah Beni memberitahu.
"Tanda tangan saja, Fa. Kami sudah punya kok," kata Dwi ikut menimpali.
Fadila kembali menatap suaminya meminta pendapat. "Bagaimana, Mas?" Tanyanya.
Arnan tersenyum pada Fadila yang tampak begitu menghargai dirinya. Meski itu hak Fadila ingin menerima atau tidak, wanita itu tetap bertanya dan meminta pendapatnya.
__ADS_1
"Itu hak kamu sayang, mau menerima atau tidak. Semua keputusan ada di tangan kamu," ucap Arnan.
Fadila diam dan menatap map di tangannya. Pandangannya beralih pada Anan yang sedang bermain bersama Dwi. Bukan sombong karena suaminya sudah kaya, Fadila hanya masih memikirkan resiko kedepannya.
"Ayah, bisa menjamin kalau itu sudah sepenuhnya milik kamu, Nak. Tidak akan ada masalah apapun di kemudian hari."
Ayah Beni mengatakan apa yang di pikirnya menjadi beban bagi Fadila.
Fadila tersenyum pada ayah Beni dan ibu Kiki. Setelah menghela napas panjang, Fadila menanda tangani berkas itu.
"Bawalah itu pulang, selebihnya biar pengacara yang mengurusnya. Kamu hanya perlu mengurus cucu Ayah ini," ucap ayah Beni sembari mengelus kepala Anan yang dapat di jangkaunya.
"Jangan lupa cucu baru, ya?" Goda ibu Kiki yang membuat Fadila menunduk malu.
Mereka kembali bergurau bersama setelahnya. Hingga saat waktu semakin malam, Arnan memutuskan untuk membawa pulang anak dan istrinya.
"Besok-besok main ke sini ya, anak Mama. Supaya Mama punya temen," ucap Dwi sebelum melepas kepergian Anan dan kedua orang tuanya.
"Aku mau ikut pelgi ke pantai, Ma. Besok kami pelginya," ucap Anan senang.
Dwi cemberut mendengar ucapan Anan.
"Ndak mau, aku mau ikut Mami sama Daddy ke pantai di jauh," tolak Anan.
"Di jauh mana, sayang?" Tanya ibu Kiki yang kurang paham maksud cucunya.
"Di sana, Nek. Jauh, naik pesawat." Anan menunjuk ke sembarangan arah.
"Hati-hati ya di sana, jangan nakal." Ayah Beni mengusap kepala Anan.
Meski belum paham maksud Anan, yang penting di iyakan saja agar bocah itu senang.
Setelah berpamitan, mobil Arnan meninggalkan pekarangan rumah ayah Beni.
"Memangnya mereka mau kemana, Dwi?" Tanya Ibu Kiki yang maish penasaran.
"Bulan madu, Bu. Tapi ya gak tahu mau ke mana," sahut Dwi apa adanya.
__ADS_1
"Kok Anan di bawa? Apa gak lebih baik di tinggal saja." Heran ibu Kiki dengan ke ikut sertaan Anan dalam rangka bulan madu orang tuanya.
"Kalau Anan ikut, namanya bukan honeymoon lagi Bu, tapi babymoon," ucap Dwi.
"Bayi bulan maksudnya?" Tanya ibu Kiki mengartikan kata terakhir anaknya.
"Bisa jadi," kata Dwi mengangguk.
"Ada-ada saja bahasa jaman sekarang ya, Yah. Jaman kita dulu kalau habis menikah ya sudah, gak ada istilah moon moonan itu," ucap ibu Kiki yang sejak tadi merangkul lengan suaminya.
"Namanya juga anak jaman now, Bu. Beda sama anak jaman old alias jaman dulu. Dulu makan ubi sekarang makan keju, dulu makan nasi jagung sekarang makan burger."
Pasangan paruh baya itu terkekeh bersama, sedangkan Dwi berjalan lebih dulu menuju kamarnya. Ia tidak mau ngenes melihat kemesraan orang tuanya, sementara dirinya mulai di pingit.
....
Mobil Arnan memasuki halaman rumah mereka dan berhenti di depan pintu. Arnan mengambil alih tubuh anaknya untuk dia gendong.
Mereka masuk ke dalam rumah bersamaan karena Arnan yang menggandeng istrinya.
"Selamat datang kembali Tuan Muda, Tuan Muda Kecil, Nyonya Muda." Suara kepala pelayan itu terdengar malas saat menyapa Fadila.
Namun siapa yang perduli dengan hal itu, Fadila malah semakin menggandeng mesra suaminya. Ingin menunjukkan pada wanita yang di perkirakan Fadila bibit pelakor. Bahwa dirinya dan suaminya sangat pantas dan serasi.
Sesampainya di kamar, Arnan meletakkan Anan di kasur bocah itu sendiri. Membukakan pakaian Anan dan hanya menyisakan ****** ***** saja. Setelahnya mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
"Selamat tidur anak kesayangan Daddy," ucap Arnan mengecup kening Anan sayang.
Setelahnya pria itu keluar dan menuju kamarnya sendiri. Tadi Fadila di mintanya untuk masuk kamar mereka lebih dulu sementara dia mengantar Anan.
Tapi saat akan menyentuh pegangan pintu, alis pria itu terangkat kala mendapati pintu yang tidak tertutup rapat. Masuk ke dalam dan mendpaati pintu yang menuju ruang ganti dan kamar mandi terbuka.
"Tumben banget pintu kebuka semua," gumam Arnan.
Saat akan membuka suara untuk memanggil istrinya. Arnan di kejutkan dengan suara teriakan Fadila yang begitu menggelegar di ruang ganti.
"KELUARR"
__ADS_1
Arnan berjingkat kaget dan segera berlari menuju ruang ganti. Dan saat di depan pintu, tiba-tiba saja Fadila muncul menyeret seseorang yang merupakan kepala pelayan.
"Ada apa sayang?" Tanyanya bingung dan khawatir.