
Tok tok tok
"Masuk."
Iwan masuk ke dalam ruangan Arnan dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Arnan yang juga masih memeriksa berkas mendongak saat pintu terbuka.
"Maaf, Pak. Perwakilan perusahaan Anggar Grup sudah datang dan sudah berada di ruang meting," ucap Iwan mengingatkan.
"Baiklah." Arnan berdiri dari duduknya dan menutup berkas yang tadi di kerjakannya.
Arnan berjalan keluar dari ruangannya di ikuti oleh Iwan di belakang. Mereka turun menuju ruangan meting bersama.
Memasuki ruangan meting, Arnan dapat melihat ada tiga orang di dalam yang sudah menunggunya. Ketiganya melihat ke arah Arnan yang berjalan dengan wajah datar dan dinginnya.
Arnan merasa seperti dejavu dengan yang sedang di hadapinya kini. Bukankah hal seperti ini sudah pernah terjadi saat aku di Amerika, batin Arnan.
"Selamat pagi, Tuan Arnan. Senang bertemu dengan Anda langsung," ucap seorang pria yang umurnya sepantara dengan Arnan.
"Selamat pagi juga, Tuan Pandu." Arnan menerima uluran tangan Pandu karena ia harus profesional dalam bekerja.
"Terimakasih sudah memberi kami kesempatan untuk menunjukkan diri dan kemampuan kami dalam dunia ini, Tuan." Arnan mengangguk walau sebelah alisnya berkerut karena ucapan pria di depannya.
Padahal yang mau mereka bahas adalah masalah kerja sama dalam pembangunan yang akan di ajukan oleh pihak Pandu. Tapi kenapa jadi membahas kemampuan dalam dunia? Hubungannya apa? Memangnya Arnan penguasa dunia?
"Saya bukan penguasa dunia, di atas kekuasaan yang saya miliki. Masih ada yang lebih berkuasa dan lebih sukses lagi," ucap Arnan tetap stay cool.
"Ya ya ya, tapi anda adalah pengusaha muda yang sangat berpengaruh. Bahkan perusahaan Anda sudah sangat banyak tersebar di beberapa dunia. Bahkan di dunia kita saja sudah banyak cabang perusahaan Anda yang tersebar di beberapa negara. Dengan segala bidang yang berbeda-beda tapi tetap satu tujuan untuk kesuksesan," kata Pandu dengan senyum lebarnya.
Ini orang aneh banget gak sih? Memangnya dia hidup di berapa dunia? Ada berapa dunia yang dia punya? Perasaan dari tadi ngomongnya kok kurang nyambung, batin Iwan.
"Langsung saja presentasikan proposal Anda, Tuan Pandu." Arnan yang mulai malas mendengar semua ucapan Pandu langsung meminta presentasi.
"Santai saja Tuan Arnan, waktu kita masih ..."
"Tidak banyak," sela Arnan menatap tajam Pandu.
__ADS_1
"Baiklah," kata Pandu akhirnya.
Melihat tatapan tajam yang di berikan oleh Arnan membuat nyali Pandu menciut. Apa lagi wajah tak bersahabat mulai terlihat dari Arnan, membuat Pandu takut kalau proposalnya di tolak.
Pandu akhirnya mempresentasikan proposalnya dengan baik dan cukup memuaskan. Arnan mengangguk setelah Pandu selesai presentasi.
Arnan juga melihat lebih jeli lagi isi proposal yang ada di hadapannya. Dan syukurnya semuanya bagus dan tidak ada yang mencurigakan.
"Saya akan terima kerja sama ini," ucap Arnan yang membuat Pandu tersenyum semakin cerah.
"Terimakasih, Tuan Arnan. Saya sudah menduga kalau anda pasti akan menerima kerja sama ini dengan baik."
"Saya tidak mau ada kesalahan sedikit saja saat sudah menandatangani proposal itu. Saya percayakan semuanya dengan Tuan Pandu. Dan perlu saya ingatkan satu hal, sedikit kesalahan yang kalian lakukan harus kalian ganti dua kali lipat. Karena sebagai pebisnis tentu anda paham kalau keuntungan adalah yang utama," jelas Arnan.
Pandu mengangguk semangat dan yakin kalau ia mampu melaksanakan apa yang di minta oleh Arnan.
"Kalau begitu untuk kelanjutan kerja sama ini, Nona Neta yang akan menghandle semuanya." Pandu menjuk seorang perempuan di sampingnya.
Perempuan yang sejak tadi memandang Arnan penuh minat dan kagum. Bahkan meski Arnan bersikap acuh dan dingin, perempuan itu tidak pernah gentar untuk terus memandang pemandangan indah di hadapannya.
"Salam kenal, Tuan Arnan. Saya Neta, semoga kerja sama kita bisa terjalin dengan lancar ke depannya," ucap wanita bernama Neta itu mengulurkan tangannya pada Arnan.
Arnan tidak ingin terlalu lama bersentuhan dengan perempuan yang terlihat jelas kalau dia menggoda dengan pandangan genitnya.
Waduh! Calon-calon perusak rumah tangga ini mah, batin Iwan yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Neta.
"Terimakasih sudah berkunjung, pertemuan kita sampai di sini dulu. Permisi, saya duluan." Arnan berdiri dari duduknya.
Saat akan meninggalkan ruangan meting, Arnan di tahan oleh Pandu.
"Maaf, Tuan Arnan. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kebetulan 30 menit lagi jam makan siang."
"Terimakasih tawarannya, tapi saya sudah ada janji dengan anak dan istri. Iwan! Antarkan tamu kita."
Arnan melangkah meninggalkan ruang meting dengan cepat. Ia tidak ingin di tahan kembali karena yakin jika Fadila dan Anan sudah tiba dan sedang menunggu di mobil yang terparkir di lobi.
__ADS_1
Sengaja ia meminta anak dan istrinya untuk menunggu saja di mobil. Tidak ingin keduanya berjalan masuk dan lelah, karena Arnan juga akan segera turun.
"Halo Mami dan baby boy ku," sapa Arnan saat membuka pintu mobil bagian belakang.
"Halo juga Daddy nya aku," sahut Anan tersenyum senang sembari naik ke pangkuan Arnan yang baru duduk.
"Mau makan apa siang ini, Nak? Mami juga mau makan apa?" Tanya Arnan pada keduanya.
"Apa aja yang penting sama Daddy dan Mami," jawab Anan.
"Yang penting perut kenyang." Fadila menggelitik perut Anan yang membuat bocah itu tertawa.
Ketiganya saling bercanda bersama sepanjang jalan hingga tiba di restoran terdekat.
Di lain tempat, Febri dan keluarganya sedang saling mendiamkan karena kepulangan mendadak yang tidak sesuai jadwal. Baby semakin acuh pada Beni, hingga tidak memperdulikan anaknya bahkan berani membentak anak itu.
"Awas! Berani kamu sentuh-sentuh aku hah! Memangnya kamu siapa?" Bentak Baby keras yang sontak membuat Beni menangis keras seketika.
"Hua ... Mama, jahat gak sayang aku."
"Peegi kamu! Jangan dekat-dekat," omel Baby lagi sembari mendorong tubuh Beni.
Febri yang baru turun dari tangga langsung ebrlari saat melihat Beni yang terjatuh karena dorongan Baby. Pria itu menggendong Beni sembari menenangkan.
"Kamu baik-baik saja, Nak?" Tanya Beni mengelus punggung Beni.
"Mami, jahat Pa. Mami gak mau aku," adu Beni yang membuat Febri marah.
"Kamu sangat keterlaluan, Baby. Jangan sampai kamu menyesal saat jauh dan kehilangan Beni nantinya," ucap Febri dengan menatap tajam Baby.
"Aku ... Aku gak bermaksud, Mas. Tadi dia jatuh sendiri kok," kilah Bbay menutupi kegugupannya.
Fenri tidak menanggapi ucapan Baby dan memilih pergi naik ke kamar Beni. Setelah Beni tenang dan tertidur karena lelah menangis, Feberi menelpon seseorang yang di percayainya.
"Aku akan mengirimkan foto seseorang, tolong cari dia lengkap dengan semua informasi tentangnya."
__ADS_1
Setelahnya Febri menutup telpon dan mengirim foto yang di ucapkannya tadi.
"Kamu gak layak jadi seorang ibu, Baby." Fenri mengelus kepala Bemi dengan lembut.