
“Ardi??”
“Wafa??”
Arsya menahan nafasnya yang mendadak terasa sesak, ia membelitkan tangannya pada pinggang Wafa dengan posesif. “Kenapa makin banyak saingan aja sih??” Batin Arsya.
“Loh, kalian sudah saling mengenal??” Tanya Harijaya.
“Iya pak, kebetulan Wafa ini sahabat saya dari kecil. Dunia memang sempit, gak nyangka bisa bertemu lagi disini.” Jawab Ardi seraya tersenyum pada Wafa, Wafa pun melakukan hal yang sama.
“Pak Ar ini adalah kepala desain produk di perusahaan saya, dan semua detail produk yang akan di luncurkan ini adalah desain darinya.” Jelas Harijaya dengan rasabangga.
“Waaah, selamat ya Ar.” Kata Wafa.
“Terima kasih Fa.” Ardi menatap Arsya yang hanya diam, ia mengulurkan tangannya untuk menyalami Arsya. “Apa kabar pak Arsya??”
“Baik, bagaimana dengan mu??” Tanya balik Arsya, ia berusaha bersikap biasa saja meski hatinya tengah panas.
“Alhamdulillah, aku juga baik.”
“Mari silahkan pak Arsya, Nyonya Arsya, di nikmati hidangannya sebelum acara inti kita mulai.” Kata Harijaya lagi.
Arsya dan Wafa mengangguk seraya tersenyum.
__ADS_1
“Kamu haus gak sayang?? Aku ambilin minum yah??” Ucap Arsya.
Wafa mengangguk, kemudian duduk di salah satu meja. Ardi menyusul Wafa, ia duduk di hadapan Wafa dengan segelas minuman dingin di tangannya.
“Udah berapa bulan kita gak ketemu ya Fa??”
“Lumayan lama ya Ar, sekitar tujuh bulanan. Kamu udah lama kerja disini??”
“Semenjak kamu menikah, aku memutuskan mencari pekerjaan di Surabaya, dan Alhamdulillah aku diterima di perusahaan pak Hari.”
“Kok kita baru ketemu sekarang ya Ar, padahal aku lumayan sering menemani suami aku ke pabriknya loh.”
“Oyah?? Mungkin karena aku sukanya ada di belakang layar kali yah Fa.”
Wafa tertawa tanpa suara. “Kamu gak berubah Ar, kamu paling gak suka jadi pusat perhatian.”
Wafa mengangguk membenarkan, karena memang Wafa tidak suka menjadi pusat perhatian semua orang. “Mungkin juga karena Allah memperbolehkan kita bertemu sekarang Ar.”
“Iya Fa, Allah kasihan sama aku.”
“Kenapa gitu??”
“Enggak, aku becanda Fa.”
__ADS_1
Dari sudut ruangan yang berbeda, ada dua orang yang tengah menatap keakraban Wafa dan Ardi.
Arsya menggenggam gelasnya dengan erat melihat tawa dan senyuman istrinya dengan orang lain. Namun ia tak boleh bertindal gegabah dan akhirnya akan mempermalukan dirinya sendiri.
Sementara di sudut yang lain ada Sisi yang menatap Wafa dan Arsya bergantian, seringaian licik terbit dari bibirnya. “Bagus, ini menarik. Tapi apa hubungan Ardi dengan Wafa? Kenapa mereka seakrab itu??” Batinnya.
***
“Ekheeemmm..”
Deheman itu membuat Wafa dan Ardi menoleh. Arsya menghampiri Wafa dan duduk di sebelah perempuan itu dan menyimpan dua gelas minuman yang ia bawa.
“Kok lama mas??” Tanya Wafa yang emmang sedari tadi menunggu Arsya, terlalu lama bersama Ardi membuat Wafa tak nyaman.
“Maaf sayang, tadi aku ketemu yang lain dulu.”
Wafa mengangguk, ia sedikit terkejut saat Arsya menggenggam tangan Wafa yang terletak di atas meja. Wafa tahu jika ada sesuatu yang berbeda pada Arsya. Meski pria itu menyembunyikannya dengan bersikap biasa saja, tapi Wafa dapat merasakan jika ada yang berbeda dari Arsya.
Ardi pun menyadari hal itu, ia berpamitan pada Wafa dan Arsya. “Fa, pak Arsya, kalau begitu aku pamit dulu.”
“Iya Ar..”
Arsya tak menjawab, ia hanya menatap punggung Ardi yang menjauh dengan tatapan tajam bak seekor singa menatap mangsanya. Dan usapan di lengannya membuat Arsya tersadar kemudian menoleh pada istrinya.
__ADS_1
“Ada apa mas??” Tanya Wafa.
Arsya menggelengkan kepalanya, bukannya menjawab, ia justru mengecup punggung tangan Wafa yang ia genggam.