
Besok adalah hari resepsi pernikahan Fadila dan Arnan akan di gelar. Pasangan itu tidak di ijinkan mama Marni pergi kemanapun. Bahkan keluar rumah saja tidak, Arnan hanya bisa bermain bersama anaknya saja di ruang keluarga.
Fadila sendiri duduk sembari bersedekap dengan tatapan tajam pada kedua temannya yang datang siang tadi.
"Katakan yang sejujurnya sama aku. Apa yang sudah kalian sembunyikan selama ini?" Ucapnya tegas.
Dwi dan Sinta saling pandang tak mengerti maksud Fadila. Kedatangan mereka ke rumah bak istana yang di tinggali Fadila juga karena panggilan wanita itu. Fadila mengatakan ada hal penting yang harus mereka bahas.
Karena berpikir mungkin masalah pernikahannya esok hari. Dwi dan Sinta datang tanpa merasakan apa yang akan terjadi nantinya.
"Gak ada yang mau kalian katakan?" Tanya Fadila yang semakin membuat Dwi dan Sinta tak mengerti. "Mengatakan apa, Fa?" Tanya Sinta balik. "Iya, kami gak ngerti maksud kamu," ucap Dwi pula.
Fadila menghela napas panjang menahan kesal pada kedua temannya ini.
"Apa yang sudah kalian katakan pada, Anan? Selain kenakalanku dulu, kalian juga ajari dia untuk panggil orang lain daddy? Bahkan aku gak kenal sama orangnya."
Dwi dan Sinta kaget mendengar ucapan Fadila. Apa kelakuan mereka yang diam-diam menjodohkan Fadila dengan Arnan sudah ketahuan?
"Kalian gak mau ngaku juga? Oke, aku kasih tahu papa Vian sama ayah Beni saja kalau begitu."
Dwi dan Sinta mendekati Fadila yang duduk di sofa sendirian. Mereka berdua merangkul lengan Fadila.
"Jangan dong, Fa!" Kompak keduanya.
"Kamu tahu sendiri gimana papa sama ayah kapau sampai tahu apa yang kami lakukan," ucap Sinta.
Dwi mengangguki ucapan Sinta itu. "Ayah pasti bakalan hukum aku habis-habisan, Fa. Bisa-bisa aku kurus nanti di acara pernikahanku gara-gara di suruh ngurusin kuda," ucap Dwi.
"Kalau aku bisa batal tunangan nanti, Fa. Jangan kaish tahu papa apa lagi ayah. Aku takut nanti malah di suruh bantuin Dwi ngurus kuda lagi, kamu kan tahu aku takut kuda," ucap Sinta.
Keluarga Dwi memang memiliki dua ekor kuda kesayangan ayah Beni, ayahnya Dwi. Mereka bertiga pernah di hukum ayah Beni mengurusi kuda saat ketahuan pernah bolos jam pelajaran sekolah.
Saat itu Sinta tidak sengaja terkena pukulan ekor kyda. Dari sanalah gadis itu takut kuda dan sangat anti dengan hewan itu.
"Kalau gitu, kalian katakan semuanya sama aku sejujur-jujurnya. Apa lagi yang kalian lakukan di belakangku tanpa sepengetahuanku? Jangan bilang kalau pernikahanku waktu itu, ada campur tangan kalian juga," ucap Fadila sembari menebak.
__ADS_1
"Memang," sahut Sinta replek karena ia sudah takut Fadila memberitahu kedua orang tua mereka.
Dwi memukul paha Sinta yang langsung menutup mulut dengan kedua mata melotot kaget.
Fadila juga tak kalah kagetnya dengan Sinta yang sudah keceplosan itu.
"Apa? Jadi pernikahan itu juga ada campur tangan kalian? Atau memang itu rencana kalian berdua?" Cecarnya menatap Dwi dan Sinta bergantian.
Karena sudah tak dapat mengelak lagi, Dwi dan Sinta hanya bisa mengakuinya saja. Lagi pula nasib mereka sedang di pertaruhkan saat ini. Papa Vian dan ayah Beni pasti akan percaya dengan apa yang katakan Fadila nanti.
"Hehehe ... Maaf, Fa. Kita gak bermaksud untuk melakukan itu semua kok," ucap Dwi dengan tawa garingnya.
"Iya, Fa. Kita melakukan itu karena kasihan sama Anan yang kelamaan gak punya daddy. Dia selalu iri sama anak lainnya yang sering di temenin daddy mereka main di time zone. Anan, bahkan pernah di ledeki karena gak pernah di temenin daddy nya main, Fa."
Sinta mengatakan semua yang pernah di alami Anan selama bersama mereka. Dan saat Fadila tidak ikut serta bersama.
Hati Fadila hancur seketika mendengar ucapan Sinta. Ternyata apa yang di katakan anaknya tadi malam benar. Sosok daddy memang sangat di butuhkan oleh Anan yang sedang tumbuh kembang.
"Kami juga gak sembarangan kok Fa, milihin calon buat kamu. Arnan, kan temen baiknya Devan sama Robert, dan mereka juga sudah kasih tahu kami semua tentang sikap Arnan. Karena itulah kami berniat jodohin kamu sama dia." Dwi berucap hati-hati sembari menatap Fadila.
"Iya, Fa. Nanti setelah aku menikah, Devan mau bawa aku pergi untuk waktu yang lama," kata Dwi.
"Aku juga setelah menikah nanti akan di bawa Robert untuk tinggal di Singapura untuk waktu 1 tahun, Fa. Karena di sana Robert mau ngembangkan perusahaannya dulu," ucap Sinta pula.
"Kami gak akan tenang tinggalin kamu sama Anan untuk waktu yang lama, Fa. Sekalipun kamu kuat dan bisa jaga diri kamu sama Anan, tapi ada saatnya kita sebagai wanita lengah. Kami gak mau kalian berdua kenapa-kenapa, Fa." Dwi memeluk tubuh Fadila.
Fadila hanya terdiam mendengarkan semua ucapan Dwi dan Sinta. Kekesalannya di awal tadi sudah hilang sejak Sinta mengatakan apa yang di alami Anan tanpa dirinya.
Ibu satu anak itu bahkan sedang menahan air matanya. Mendengar kekhawatiran kedua sahabatnya membuat Fadila mengerti.
"Maafin kami, Fa. Pernikahan kamu waktu itu, kami juga yang rencanain waktu ketemu sama orang tua Arnan di mall. Itu pun rencana dadakan karena gak sengaja ketemu. Begitu Devan kenalin kita sama orang tua Arnan, rencana itu muncul begitu saja," ucap Dwi.
"Iya, Fa. Orang tua Arnan juga setuju sama rencana kami, karena ternyata Arnan sudah pernah bilang tentang kamu sama mereka. Jadi deh kita lanjutkan rencananya," kata Sinta.
Fadila menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Sebegitu perdulinya kedua sahabatnya ini pada dirinya dan Anan. Sampai masalah pasangannya mereka berdua harus pusing-pusing memikirkan.
__ADS_1
"Maaf, aku sudah terlalu curigaan sama kalian berdua. Aku cuma merasa cara kalian begitu keterlaluan, memaksa aku untuk nikah sama orang yang baru ku kenal beberapa hari. Belum lagi pernikahannya juga tiba-tiba dan langsung terlaksana," ucap Fadila lirih.
Dwi dan Sinta tersenyum bahagia mendengar ucapan Fadila. Mereka sadar sudah melakukan kesalahan dengan memaksa Fadila. Tapi mau bagaimana lagi, kalau ternyata Arnan langsung menyanggupi ucapan mamanya kala itu.
"Kamu gak salah, Fa. Maafin kami juga ya," ucap Dwi. "Iya, Fa. Maafin kami," kata Sinta pula.
Mereka bertiga berpelukan bahagia karena akhirnya tidak ada lagi yang di sembunyikan antara mereka. Dwi dan Sinta juga lega sudah mengatakan semuanya.
"Ngomong-ngomong, gimana sama hubungan kamu dan Arnan? Kelihatannya kalian semakin lengket saja," ucap Sinta menggoda Fadila.
"Iya, Fa. Gimana hubungan kalian? Apa kalian sudah melakukan itu?" Goda Dwi pula.
"Kalian apaan sih?" Fadila malu sendiri mendengar godaan kedua temannya itu.
Fadila juga merasa wajahnya panas dan jantungnya berdebar cepat. Apa lagi mengingat bagaimana sikap suaminya padanya dan Anan.
"Lagi mikirin apa sih, Non? Sampai telinganya merah gitu," goda Sinta yang semakin membuat Fadila malu.
"Pasti lagi mikirin sikap romantis suami, tuh." Dwi ikutan menggoda juga.
Keduanya terkekeh bersama sementara Fadila malu-malu.
"Oh iya, Fa. Gimana perasaan kamu untuk suami? Apa kamu sudah jatuh cinta sama dia?" Tanya Dwi penasaran.
"Aku ... Aku belum tahu. Saat ini ... Aku ngerasa nyaman sama, Mas Arnan. Dia begitu lembut dan perhatian sama aku dan Anan, juga pengertian. Anan, juga begitu menyukainya."
Fadila mengatakan penilaiannya tentang sang suami.
"Apa kamu gak merasa berdebar setiap kali sama dia? Atau saat-sata tertentu gitu?" Tanya Sinta.
Fadila tak menjawab, ia hanya menunduk malu. Sungguh, rasanya ia sudah tak pantas lagi untuk mengungkapkan perasaan suka dan cinta. Mengingat sebelumnya ia seorang janda dan pernah kecewa dalam rumah tangga.
"Apa aku masih pantas untuk merasakan semua itu?" Tanya Fadila yang membuat Dwi dan Sinta saling pandang.
"Bukalah hati kamu, Fa. Rasakan semua perasaan suami kamu, dengan begitu kamu akan bisa tahu betapa indahnya cinta yang sesungguhnya." Fadila mengangguki ucapan Dwi.
__ADS_1