
Wafa masih merajuk, sore itu ia bahkan menolak untuk pulang bersama Arsya karena ternyata Sisi kembali menemui Arsya di kantornya. Entah mengapa Wafa merasa Sisi begitu gencar mendekati Arsya, karena nyatanya Sisi sudah tahu jika ia Wafa dan Arsya sudah menikah. Jika Sisi tak mempunyai niat buruk, Sisi tidak akan mendekati Arsya, apalagi ia tahu jika Arsya sudah menikah. Dan parahnya lagi, Arsya tak percaya pada Wafa saat Wafa menceritakan pada Arsya kalau Sisi sudah tahu tentang pernikahan mereka.
Wafa pulang menaiki taksi online yang ia pesan beberapa saat yang lalu, ia di temani Lastri yang merasa penasaran kemana Wafa pergi siang tadi hingga Arsya turun ke divisinya untuk mencari Wafa.
“Jadi, tadi kamu kemana Fa??” Tanya Lastri yang duduk di sebelahnya.
“Aku gak kemana-mana, aku ketiduran di kamar mas Arsya.”
“Apa?? Ya tuhan Fa, pak Arsya sampai turun ke lantai Lima loh buat nyari kamu.”
Wafa menghela nafas dalam, ia masih kesal pada suaminya itu. “Biarin lah, itung-itung olahraga kan dia.”
“Kalian kenapa lagi sih??”
“Aku kesel Las, ceritanya panjang.”
__ADS_1
“Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan kamu.”
Wafa pun menceritakan perselisihannya dengan Sisi dan berujung dengan Arsya yang meragukannya. Sahabatnya itu tampak ikut kesal mendengar ceritanya.
“Emang dasar ulet tuh si Sisi, pura-pura polos padahal jahat.” Umpat Lastri.
“Mas Arsya sudah meminta maaf Las, tapi aku masih kesal aja. Apalagi barusan Sisi dateng lagi, aku pulang duluan aja, males lihat mukanya Sisi. Ya Allah, aku dosa gak sih kaya gini??”
“Wajarlah kamu ngelawan, jangan mau di tindas Fa. Pertahankan apa yang menjadi milik mu. Kamu sudah pernah merasakan kehilangan, jangan mau mersakannya lagi Fa. Kamu berhak memperjuangkan milik kamu.”
“Kamu benar Las, aku tidak mau lagi kehilangan.” Lirih Wafa.
“Pak Arsya Fa??” Tanya Lastri.
Wafa menoleh, “Aku belum mau ngomong sama dia, masih emosi Las. Dari pada berantem, mending aku diemin dulu aja.”
__ADS_1
“Yaudah, kamu tenangin diri kamu dulu Fa.”
Wafa mengangguk. Baru saja mereka diam, ponsel keduanya kembali berbunyi. Wafa yang menganggap itu pesan dari Arsya memilih mengabaikan ponselnya, sedangkan Lastri membuka ponselnya sendiri yang juga berbunyi.
“Astaghfirullah..” Pekik Lastri dengan mata membulat dan bibir menganga.
“Ada apa Las?? Kamu kenapa??” Tanya Wafa dengan panic.
“Fa, kamu cek ponsel kamu Fa. Lihat group kantor kita. Ini sih gosip panas banget.”
“Apa sih??” Wafa yang merasa penasaran membuka ponselnya. Ia pun sama terkejutnya dengan Lastri. “Ya ampun, apalagi sih ini? Mau dia apa coba.”
Di pesan group kantor GalaMedia itu terdapat sebuah gambar yang di kirim seseorang. Gambar akun social media milik Arsya yang menampakan dua gambar yang nampaknya sengaja Arsya posting. Gambar yang pertama adalah gambar dua tangan yang saling menggenggam dengan fokus gambar pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis keduanya. Dan gambar yang kedua adalah gambar seorang perempuan berhijab yang di ambil dari belakang, perempuan itu tengah menghadap lautan luas dengan dua tangan terlentang. Gambar itu adalah Wafa, gambar yang Arsya ambil diam-diam ketika mereka berlibur di pantai. Dan yang lebih menghebohkan lagi adalah caption dari Arsya, pria itu menulis, “MY MINE” (Milikku).
“Ya ampun Fa, romantis banget pak Arsya. Banyak yang komen loh Fa.”
__ADS_1
Bukannya merasa terharu, Wafa justru merasa takut kalau semuanya akan terbongkar. Ia sudah dapat membayangkan omongan-omongan pedas yang akan ia dapatkan jika semuanya di ketahui oleh semua orang. “Apa-apaan sih dia, bikin aku tambah kesel aja.”
“Aneh deh kamu. Orang mah terharu, kamu malah kesel.”