PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 56


__ADS_3

"Apa yang sedang kalian bahas?" Tanya Febri membuat kedua wanita di depannya saling pandang lalu menggeleng.


"Apa benar kalau kita akan pulang malam ini, Feb?" Tanya bu Rita pula.


"Ya," sahut Febri singkat.


"Tapi kenapa? Ibu belum puas liburannya, Nak." Bu Rita memasang wajah sedih agar anaknya membatalkan kepulangan mereka.


"Apa kalian masih punya muka untuk tetap di sini? Setelah apa yang kalian berdua lakukan di pantai tadi. Banyak orang yang melihat ke jadian itu, Bu. Meski kebanyakan turis dan gak paham bahasa kita. Tapi tetap saja itu memalukan," ucap Febri.


"Kalau gitu kita pindah hotel saja, Mas. Atau kita pindah tempat wisata lain," usul Baby di angguki bu Rita.


"Nah itu ide bagus," kata bu Rita cepat.


"Gak, kita pulang malam ini juga." Baby dan bu Rita kompak melihat ke arah Febri.


"Jangan dong, Nak. Ibu baru kali ini ke sini, jangan buru-buru pulang."


Bu Rita memasang wajah sedihnya agar sang anak luluh.


"Iya, Mas. Kasihan Ibu kalau buru-buru pulang, lagian kita belum menikmati suasana di sini." Baby mendukung pula akting sang mertua dengan ikutan berwajah sedih.


Febri diam dan berpikir, kalau dia pulang sekarang dan Fadila masih ada di tempat ini. Pasti mereka akan bertemu lagi nanti, tapi kalau sudah pulang akan sulit mencari keberadaan Fadila. Apa lagi ia sangat ingin bisa berbicara berdua dengan Fadila dan membujuk wanita itu agar mau rujuk dengannya.


"Baik, tapi dengan syarat hari ini dan besok kalian gak boleh kemana-mana. Tetap stay di kamar masing-masing untuk menghindari cemoohan orang-orang sementara waktu," ucap Febri.


Bu rita dan Baby yang tadinya sempat bahagia seketika redup.


"Ya gak bisa gitu dong, Mas. Masa kami harus trtap stay di kamar saja, apa gunanya kita liburan kalau ahrus mengurung diri di kamar?" Protes Baby tidak terima.


"Kalau begitu kemasi barang-barang kalian dan kita pulang sekarang," ucap Febri tegas.


Bu Rita menyenggol lengan Baby sembari melotot. Memperingati menantunya agar tak banyak protes agar mereka tetap bisa liburan di sana sesuai jadwal.

__ADS_1


"Baiklah, kami gak akan kemana-mana setelah ini dan besok. Tapi hanya sampai besok saja ya, Nak. Karena Ibu masih ingin menikmati suasana di luar sana," bujuk bu Rita di angguki Febri.


Baby cemberut dan masih tidak terima dengan keputusan suaminya. Namun mau bagaimana lagi? Dia hanya bisa menurut untuk saat ini dari pada pulang sebelum waktunya.


"Sekarang jelaskan kenapa tadi Beni bisa lepas dari pandangan kalian?" Tanya Febri yang membuat Bu Rita dan Baby kembali gugup.


"Itu ... Itu salah Ibu, Mas. Tadi aku titipin Beni tapi malah di tinggal pergi," ucap Baby melemparkan kesalahan pada bu Rita.


"Loh! Kok Ibu yang di salahkan? Kamu Mamanya harusnya lebih perduli dong dengan anak. Perhatikan anak kamu baik-baik dan jaga dia, tadi juga Ibu mau ke toilet dan sudah bilang ke kamu. Kamunya saja yang ke asikan bersantai tanpa perduli sama anak," ucap bu Rita tak mau kalah.


"Tapi Ibu kan neneknya, harusnya bawa dong Beni kalau mau ke toilet. Ibu yang harus jaga anak itu karena dia yang selama ini Ibu harapkan, kan?" Baby melawan Ibu Rita dan tak mau di salahkan.


"Tapi tetap saja dia anak kandung kamu, Ibu sama Febri sebenarnya gak punya tanggung jawab apa-apa atas anak itu. Karena dia bukan darah daging Feb ..."


"Tetap saja dia yang dulu Ibu inginkan, sampai ..."


"Cukup! Diam kalian berdua!" Bentak Febri yang sudah cukup pusing melihat perdebatan ibu dan istrinya.


Febri menatap ibunya dan istrinya bergantian sembari mengatakan semua yang ada di hatinya selama ini.


"Sebagai hukuman dari keteledoran Ibu dan kamu, bulan depan jatah kalian di kurangi setengahnya. Jangan ada lagi keributan atau protes. Jaga Beni, aku keluar dulu mencari sesuatu." Pria itu keluar begitu saja dari kamarnya setelah berucap demikian.


Bu Rita dan Baby menggerutu kesal dan marah akan keputusan Febri yang memotong jatah bulanan mereka. Setelah kejadian saat pernikahan antara Febri dan Baby yang menimbulkan insiden besar saat itu. Febri jadi lebih tegas pada mereka berdua.


Jika pria itu sudah berkata tidak maka tidak. Kalau sampai di protes maka akan berakibat hilangnya kemewahan kedua wanita pencinta kemewahan itu.


Di sisi lain hotel ...


Fadila yang masih terbawa kesal setelah berhadapan dengan mantan mertua dan mantan madunya kini masih diam saja. Arnan yang menyadari itu segera membawa sang istri ke satu tempat.


"Kenapa kita ke sini, Mas? Apa Mas laper lagi?" Tanya Fadila saat Arnan membawanya ke kafe hotel.


"Nanti kamu akan tahu istriku," sahut Arnan.

__ADS_1


Mereka duduk di bagian luar kafe yang memang menyediakan tempat out door yang menhadap pantai.


"Silahkan di pilih menunya," ucap seorang pelayan menyerahkan buku menu.


"Pesan es krim vanila grentea satu sama es krim cokelatnya satu, jus wortelnya satu. Ketang gorengnya 2 porsi," kata Arnan pada pelayan yang segera mencatat pesanan.


"Baik, mohon di tunggu pesanannya."


Pelayan itu pergi meninggalkan keluarga kecil Arnan.


Fadila menatap suaminya intens tampa berkedip sedikitpun. Arnan terkekeh melihat wajah polos sang istri yang menatapnya seperti itu.


"Kenapa, hm? Mas terlalu tampan ya?" Tanya Arnan dengan pedenya.


"Kalau Mas gak tampan, aku gak maulah nikah Mas," sahut Fadila pura-pura jutek.


Arnan malah semakin terkekeh melihat hal itu. Sedangkan Anan yang melihat wajah jutek maminya ikutan bersuara juga.


"Mami, kenapa? Masih malah sama olang-olang jahat tadi, ya?" Tanya Anan polos yang membuat Fadila menatap anaknya.


"Enggak kok, Mami gak marah. Cuma lagi nungguin es krim aja, sudah haus soalnya."


"Makan es krim juga bisa balikin mood Mami loh, Nak. Yang tadinya wajahnya seperti ini, jadi begini." Arnan berucao sembari memperagakan bagaimana wajah cemberut Fadila lalu wajah cerianya setelah makan es krim.


Sontak saja Anan tertawa melihat aksi daddy nya dalam menggoda sang mami. Meski kurang paham maksud orang tuanya. Anak kecil itu cukup terhibur dengan ekspresi sang daddy.


"Huh, tunggu saja nanti malam ya. Daddy, tidur di sofa jangan coba-coba naik ke kasur," ancam Fadila yang membuat Arnan langsung menelan ludah kasar.


"Ampun Mami, tadi cuma bercanda kok. Iya kan, Nak?" Arnan meminta dukungan anaknya.


"Iya Mami, tadi cuma becanda. Tapi kalau Daddy mau tidul di sofa gak muat, mending tidulnya di bawah saja Daddy."


Arnan tercengang mendengar usulan anaknya yang malah memintanya tidur di lantai. Setelah tadi di angkat kini di hempaskan pula. Fadila sendiri sudah tertawa senang mendengar kalimat anaknya yang sungguh di luar dugaan.

__ADS_1


__ADS_2