PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 58


__ADS_3

"Kamu dari mana, Mas? Seharusnya kamu temani aku di kamar, bukan malah pergi tinggalin aku. Mana Beni belum mandi lagi, aku kan gak bisa ngurusin dia."


Febri yang baru saja masuk ke dalam kamarnya langsung mebdapatkan omelan dari Baby. Pria itu menghembuskan napasnya panjang.


Menatap tajam pada Baby yang malah duduk santai sembari memandangi kukunya. Alih-alih mengurus Beni yang sepertinya baru bangun tidur.


"Kalau kamu gak bisa ngurus Beni, mulai sekarang aku gak akan akui kamu sebagai istri lagi."


Kedua mata Baby melotot mendengar ucapan suaminya yang tegas. Sontak saja wanita itu berdiri dari duduknya dan menatap Febri sebal.


"Maksud kamu apa, Mas? Kamu mau ceraikan aku, begitu? Ya gak bisa gitu dong, Mas. Kamu gak bisa campakkan aku begitu saja setelah mebdapatkan segalanya." Marah Baby tidak suka dengan ancaman Febri.


"Kamu pikir apa yang sudah ku dapatkan? Harta? Kemewahan? Pangkat dan jabatan serta kehormatan? Apa guna semua itu ku dapatkan kalau aku gak pernah merasa bahagia?" ucap Febri yang membuat kening Baby mengerut.


"Jadi maksudnya kamu gak bahagia nikah sama aku, Mas?" Tanya Baby memastikan.


"Iya, kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Bahkan anak kandungmu sendiri gak pernah kamu sentuh dan kamu urus. Semua kebutuhan Beni di urus pengasuh dan kamu selalu tutup mata bahkan saat anakmu sakit. Hingga semua kebutuhan pribadiku juga di urus oleh palayan. Jadi apa gunanya aku punya istri kalau tak bisa mengurus suamu dan anak. Gak banyak yang ku pinta sama kamu. Cukup melayani aku dan mengurus Beni, kalau kamu gak mau dan bisa. Maka aku akan cari istri lain yang bisa mengerti cara mengurus keluarga."


Febri segera beranjak dari tempatnya berdiri di hadapan Baby. Berjalan mendekati Beni yang masih duduk di kasur menanti dirinya.


Pria itu membawa Beni menuju kamar mandi dan membiarkan Baby yang termenung di tempatnya.


"Apa aku terlalu abai dengan keluargaku sampai Mas Febri berkata seperti itu? Apa salahku kapau gak mau mengurus Beni dan keperluan suamiku? Apa gunanya membayar pembantu kalau masih harus aku yang mengerjakan semuanya?" Gumam Baby.


"Kalau begitu silahkan pergi dari rumah, karena aku hanya butuh pembantu untuk mengurus segala kebutuhanku. Aku gak butuh istri egois yang cuma cinta dirinya sendiri," ucap Febri yang membuat Baby kaget.


Wanita itu tidak menyangka kalau suaminya keluar dari kamar mandi.


"Ma-mas, kamu ... Kenapa cepat sekali keluarnya?" Tanya Baby sedikit gugup.

__ADS_1


Apa lagi mendengar ucapan suaminya yang lagi-lagi memintanya untuk pergi dari rumah dan mengatakan tidak butuh dirinya.


Febri tidak menanggapi pertanyaan Baby, pria itu hanya mengambil handuk lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Baby tergugu karena tidak mendapatkan respon dari suaminya. Setelah Febri masuk kembali ke kamar mandi dan menutup pintu. Baby menuju balkon dan melakukan panggilan di sana.


"Halo, Ma!"


Ya Baby memutuskan untuk menelpon mamanya dan menceritakan semua yang di alaminya barusan.


"Halo, Nak. Ada apa? Kalian jadi pergi ke Bali?"


"Jadi, Ma. Ini juga lagi di hotel."


"Ada apa kamu menelpon? Biasa kalau lagi liburan kamu gak pernah menelpon kalau gak penting."


Baby mengungkapkan semua apa yang di rasakannya. Ia bahkan tidak menyadari kesalahannya sendiri dan mapah ingin terus di mengerti semua keinginannya.


"Kalau begitu jangan salahkan suamimu jika nanti dia melirik wanita lain. Karena seorang suami bukan hanya butuh sentuhan saja. Perhatian dan perilaku istri juga di butuhkan untuk kelangsungan rumah tangga. Dan jika kamu gak mau mengurus Beni, maka papa akan setuju jika Febri menikah lagi dengan seseorang yang bisa mengerti dirinya dan bisa menyayangi Beni."


Mata Baby melotot tak percaya mendengar ucapan papanya yang mapah mendukung tindakan suaminya.


"Tapi, Pa ...


"Gak ada tapi-tapian, Baby. Bersyukurlah karena Febri mau menyayangi Beni seperti anaknya sendiri meski itu bukan anak kandungnya. Sedangkan kamu yang jelas-jelas mama kandungnya gak perduli sama sekali. Coba pikir kalau seandainya kamu kami abaikan seperti kamu mengabaikan Beni. Bagaimana perasaan kamu? Pikirkanlah semuanya baik-baik, Nak. Papa hanya ingin kami menjalankan tugas sebagai istri dan ibu yang baik. Jangan sampai suamimu berpaling karena sikapmu yang terlampau acuh."


Baby menatap ponselnya tak percaya setelah panggilan itu terputus usai papanya bicara.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kenapa gak ada yang mendukung apa yang menjadi ke inginanku sih?" Baby merasa kesal sendiri.

__ADS_1


Niatnya menelpon sang mama agar mendapat dukungan. Malah ia yang mendapatkan ceramah dari papanya yang memang selalu bersama mamanya.


Di lain tempat ...


Arnan membawa istri dan anaknya keluar kamar menuju restoran untuk makan malam. Meski jam makan malam masih 1 jam lagi, Anan yang sudah tidak sabar untuk ayam gorengnya memaksa untuk cepat pergi.


Dan kini mereka bertiga sedang duduk menunggu pesanan. Sembari menunggu menu utama tiba. Mereka menyantap makanan pembuka yang sengaja di siapkan cuma-cuma oleh pihak restoran.


"Lotinya enak, Mi." Anan menunjukkan roti di tangannya lalu memakam potongan roti tersebut.


"Kapau enak di habiskan ya, sayang. Jangan buang-buang makanan," ucap Fadila di angguki Anan.


"Masa sih rotinya enak, Daddy mau cobain dong." Arnan membuka mulutnya sedikit ke arah Anan minta di suap.


Bocah kecil itu segera menyuapkan potongan roti besar ke dalam mulut Arnan. Pria itu melotot dan menatap Anan.


"Eemmm ... Enak," ucapnya yang membuat Anan merasa senang.


"Punya Mami untuk aku, ya?" Pinta Anan seraya melihat roti milik Fadila yang tinggal setengah.


Sedangkan milik Anan sudah habis, begitupun juga milik Arnan.


"Kalau Anan makan roti punya Mami, nanti ayan goreng besarnya siapa yang makan? Kan Anan sudah kenyang karena banyak makan roti," kata Arnan.


Pria itu tidak ingin anaknya nanti sakit perut karena terlalu banyak makan. Apa lagi kalau sudah makan ayam goreng pasti sulit untuk menghentikan bocah gembul itu.


"Ndak jadi deh, mau ayam goleng saja." Anan mendorong kembali piring kecil milik Fadila kembali ke hadapan wanita itu.


Fadila hanya geleng kepala melihat kelakuan anaknya. Tentu wanita itu paham mengapa suaminya melarang Anan banyak makan roti. Anan si maniak ayam goreng tidak akan berhenti makan sebelum ayam gorengnya habis.

__ADS_1


__ADS_2