PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
MASIH TERPANA


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Arsya tak melepaskan genggaman tangannya pada Wafa, meski Wafa memprotes karena pria itu tengah mengemudi, namun Arsya tak menggubrisnya. Seperti sekarang ini, Wafa kembali melayangkan protes saat pria itu mengecup punggung tangannya.


“Mas, hati-hati. Kamu lagi nyetir, ini bahaya.” Omel Wafa seraya kembali berusaha melepaskan tangannya dari suaminya.


Arsya masih tak menjawab, pria itu justru terkekeh dan kembali mengecup punggung tangan Wafa dengan gemas.


Arsya tak menyangka jika ia akan segila ini, Mike benar-benar berhasil membuat istrinya terlihat berbeda. Wafa tampil cantik dan anggun dengan riasan tipis yang di dominasi dengan warna peach alami, di tunjang dengan gaun panjang berwarna peach berenda di setiap sisinya dan di padukan dengan hijab segi empat yang di tata sedemikian rupa hingga tampilan perempuan itu tampak sempurna. Mungkin karena Wafa juga jarang mengenakan make up komplit seperti sekarang ini, hingga ia terlihat pangling dan berbeda.


Tak lama, mereka tiba di tempat acara lounching iklan itu berlangsung. Mobil mewah Arsya terparkir cantik di parkiran hotel tersebut, kemudian ia kembali menggandeng Wafa memasuki hotel menuju ke hall dimana acara itu di adakan.


Di dalam sana sudah tampak ramai, karena selain lounching iklan dimana untuk pertama kalinya iklan itu akan di putar, acara itu juga termasuk acara peresmian lounching produk tersebut dimana produk tersebut akan di pasarkan untuk pertama kalinya.


Tak sedetik pun Arsya melepaskan genggaman tangannya dari Wafa, pria itu dengan rasa bangga menggenggam tangan istrinya dan mengumbar senyum kepada siapa saja yang menyapanya.


“Mas.. Lepasin tangan aku, banyak orang.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa?? Jangan perdulikan mereka, yang kamu harus perdulikan hanya aku. Yang kamu harus fikirkan hanya tentang kita.” Ucap Arsya dengan lembut, ia juga dengan berani mengusap sebelah pipi istrinya yang merona di hadapan semua orang.


Wafa tak dapat lagi menajwab, ia tak mau berdebat dan mengundang perhatian banyak orang.


Beberapa langkah memasuki ruangan itu, Arsya dan Wafa di sambut oleh seorang pria paruh baya berkacamata yang di ketahui sebagai direktur utama pabrik yang memproduksi produk yang akan di luncurkan sekarang, Harijaya. Yang juga merupakan bos dari Sisi.


“Selamat siang menjelang sore pak Arsya, senang bertemu dengan mu lagi.” Harijaya mengulurkan tangannya untuk menyalami Arsya, yang juga di sambut senang oleh Arsya.


“Selamat siang pak Hari. Oiya, perkenalkan, ini istri saya, Wafa Arsyanendra.”


“Senang bertemu dengan nyonya Arsya.”


“Terima kasih pak, saya pun begitu.” Jawab wafa.


“Mari silahkan masuk, saya perkenalkan dengan yang lainnya.”

__ADS_1


Arsya mengangguk seraya tersenyum, ia kembali menggandeng Wafa dan mengikuti langkah Hariwijaya.


“Oiya pak Arsya, saya harus memperkenalkan seseorang pada anda.”


“Tentu pak Hari, dengan senang hati.”


Mereka kembali berjalan, tak jauh dari mereka, Sisi berdiri menatap Arsya dengan tatapan tak terbaca. Entah perempuan itu merasa menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan hingga membuat Arsya semakin menjauh darinya, ataukah ia masih merasa bahwa dialah yang paling berhak berjalan berdampingan dengan Arsya.


“Pak Ar, kemarilah.” Panggil Hari pada salah satu pegawai terbaiknya.


Pria yang tengah berbincang-bincang dengan seseorang itu berbalik, “Iya pak??”


DEG


“Ardi??”

__ADS_1


__ADS_2