PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
GAUN KERAMAT YANG BANYAK


__ADS_3

Pagi itu, baik Wafa maupun Arsya bangun terlambat. Bahkan mereka harus cek com terlebih dahulu berebut kamar mandi, dan akhirnya mereka mandi bersama.


Perdebatan tak berakhir begitu saja, Wafa kembali memprotes saat Arsya hendak kembali menyerangnya di kamar mandi. Siapa yang akan tahan jika di suguhkan pemandangan indah? Halal pula, tapi sayangnya, Arsya harus menurut. Ia mendapat ancaman dari sang istri, jika ia kembali menyerang perempuan itu, maka Arsya harus berpuasa selama satu Minggu. Arsya mana tahan, ia pun harus berusaha kembali menidurkan juniornya yang kepalang bangun.


"Tega banget sih kamu, sampe sakit aku nahan-nahan." Gerutu Arsya.


Wafa yang tengah memasangkan dasi di leher suaminya itu menahan tawanya. "Kita terlambat mas, kamu kan gak cukup waktu lima atau sepuluh menit saja. Waktu subuhnya keburu abis nanti."


Arsya berdecak. "Bisa kok, aku bisa main sepuluh menit aja."


"Bohong banget."


Arsya menarik pinggang Wafa agar perempuan itu merapat padanya, ia tersenyum penuh maksud. "Kita kan udah sholat subuh, gimana kalau main kuda-kudaannya sekarang aja??" Arsya menarik turunkan kedua alisnya untuk menggoda Wafa.


Wafa mendelik kesal, ia berusaha melepaskan diri dari Arsya namun sayangnya ia kesulitan. "Kamu nih ada aja idenya."


“Ayolah sayang, aku juga butuh pasokan energy tambahan untuk bekerja hari ini.” Rayu Arsya lagi.


“Semalam gak cukup mas? Kamu nyerang aku sampai jam dua pagi loh mas, masa masih kurang aja.”


“Kurang sayang, aku maunya sampai pagi, tapi takut kamu pingsan teru bangun-bangun gak bisa jalan.”


“Isshh, gak ada capenya.”


Arsya mendekatkan wajahnya, ia hendak kembali menyesap manisnya bibir ranum istrinya, namun ketukan di pintu kamarnya membuat pergerakannya terhenti. Suara sang mami terdengar dari luar sana.


“Sayang, kalian udah pada bangun kan nak?? Udah siang loh, kalian harus ke kantor kan??”


“Iya mi, kita udah bangun.” Jawab Wafa, ia hendak menjadikan itu kesempatan untuk melepaskan diri dari Arsya, namun Arsya tak membiarkan Wafa lepas begitu saja.


“Mami tunggu di bawah ya sayang.”


“Iya mi..”


“Biarin aja, nanti mami diem sendiri.” Bisik Arsya.


“Mana bisa begitu, kasian mami nunggu kita sarapan. Lagi pula benar kata mami, ini sudah siang mas.”

__ADS_1


Arsya berdecak kesal, ia mengecup bibir Wafa sekilas kemudian melepaskan perempuan itu. “Nanti malam siap-siap yah, pakai gaun itu lagi.”


Wafa membulatkan matanya, ia berfikir, apa suaminya itu tak bosan? Lelah atau malas?? Tapi meski begitu, Wafa merasa di cintai oleh suaminya. Memang belum ada kata cinta yang terucap dari Arsya, tapi perlakuan baik pria itu sudah cukup untuk saat ini bagi Wafa. Wafa benar-benar merasa di sayangi, di hargai dan di butuhkan. Melihat suaminya yang sangat tergantung padanya saja sudah membuat ia sangat bahagia.


“Gaunnya kotor mas, aku gak punya lagi. Itu juga aku nemu gak sengaja di lemari.”


“Kata siapa kamu gak punya lagi? Sini ikut aku.” Arsya meraih pinggang Wafa dan membawanya ke ruang ganti, kemudian ia membuka salah satu pintu yang selama ini memang Wafa tak pernah buka. “Taraaaa…” Ucapnya dengan sebelah tangan membentang memperlihatkan isi lemari tersebut.


Wafa membulatkan matanya dengan bibir menganga, hal itu membuat Arsya terkekeh kemudian membungkam bibir Wafa dengan bibirnya. Perempuan itu mengerjap, ia tak siap dengan serangan mendadak dari Arsya, namun refleknya yang sangat bagus membuat Wafa juga reflek membalas ciuman Arsya.


“Astaghfirullah..” Gumam Wafa sesaat setelah Arsya melepaskan ciuman mereka, pria itu tampak menyeringai.


“Suka gak sayang??”


Wafa tak menjawab, juga tak mengangguk atau pun menggelengkan kepalanya. Ia masih syok melihat deretan gaun malam seksi dengan berbagai model dan warna. Dan dari deretan gaun itu, semua menerawang dengan model sangat terbuka. Bahkan pakaian dalamnya pun tergantung di sana dengan rapi. “Se..sejak kapan ini ada disini??” Tanya Wafa dengan tergagap.


“Sejak semalam.”


“Semalam??”


“Iya, pas kamu tidur di pertempuran pertama kita, aku menyuruh Reno membelikan ini semua.”


Arsya mengangguk, dan atas anggukan itu Wafa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Kenapa sayang??” Tanya Arsya.


“Malu mas, kamu nih gimana sih? Masa kamu menyuruh orang lain untuk membeli barang-barang pribadi istri kamu??”


Arsya terdiam, ia baru menyadari itu. “Iya juga yah? Dan semalam aku lupa memberi tahu ukuran pakaian dalam kamu padanya. Tapi dari mana dia tahu??” Gumam Arsya.


“Huwaaaaaa….. Aku malu.” Pekik Wafa.


Arsya kalang kabut, ia memeluk Wafa namun perempuan itu mendorongnya. “Maaf sayang.” Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian mengumpat. “Awas aja tuh si Reno, dari mana dia tahu ukuran pakaian dalam istriku.” Gumamnya.


“Jangan nyalahin dia mas, kamu tuh yang salah. Aku kesel ah.”


“Jangan kesel dong sayang, aku minta maaf. Lain kali gak lagi deh, beneran aku janji.”

__ADS_1


“Tau ah, sana jauh-jauh.”


“Gak bisa, mana bisa aku jauh-jauh dari kamu. Cup cup cup, jangan nangis lagi yah. Gimana kalau sepulang kantor nanti kita jajan? Aku mau kabulin apapun permintaan kamu.” Kata Arsya, ia menepuk-nepuk puncak kepala Wafa bak seorang bocah.


“Beneran mau kabulin permintaan aku??”


Bak mendapat angina segar, Arsya mengangguk dengan penuh semangat.


“Janji?”


“Janji sayang, kamu mau apa??”


“Aku mau kamu puasa tiga hari, jangan deket-deket aku, jangan cium-cium aku, jangan toel-toel aku, jangan pegang-pegang aku.”


“Hah??”


Belum sempat Arsya memprotes, Wafa sudah lebih dulu meninggalkan pria itu. Tersadar Wafa sudah taka da di hadapannya, Arsya pun berlari mengejar istrinya.


“Sayang tunggu aku..”


Wafa semakin mempercepat langkahnya, ia menuruni anak tangga kemudian menghampiri sang mami yang sudah tampak menunggu.


“Maaf ya mi, mami jadi nunggu lama.” Kata Wafa.


“Gak papa sayang.”


“Sayang….. Jangan bikin aku menderita gini dong.” Kata Arsya saat ia baru saja tiba di meja makan.


Mami mengerutkan dahinya melihat tingkah putranya, namun Wafa tampak acuh dan mengambilkan Arsya sepiring makanan untuk sarapan.


“Sarapan kamu mas.”


Arsya menggelngkan kepalanya. “Aku gak mau sarapan sebelum kamu cabut dulu permintaan kamu itu. Aku gak akan tahan sayang.”


“Dimakan mas, atau aku tambah lagi hari puasa kamu.”


Arsya menganggukkan kepalanya dengan cepat kemudian memakan sarapannya.

__ADS_1


Mami menatap Wafa seolah bertanya kenapa, namun Wafa menggelengkan kepalanya seraya menahan tawa.


Melihat Arsya yang sangat patuh pada Wafa membuat Mami yakin akan dugaannya tentang perasaan Arsya pada Wafa. Ada cinta di antara mereka, namun mereka belum menyadarinya. Sebelumnya, putranya itu tak pernah tunduk pada siapaun, dan kini Arsya tunduk pada istrinya.


__ADS_2