PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 62


__ADS_3

Fadila berjalan memasuki bangunan tinggi yang merupakan kantor sang suami. Di tangan kirinya ada tangan Anan yang ia genggam agar sang anak tidak menjauh dan lepas darinya.


Sedangkan di tangan kanan ada beberapa bag belanjaan keperluan sekolah Anan.


"Permisi, ruangan Direktur di lantai berapa ya?" Tanya Fadila sopan pada Resepsionis di depannya.


"Apa sudah buat janji sebelumnya, Mbak?" Tanya si Resepsionis balik.


"Sudah, Mbak. Katakan saja istri dan anaknya sudah datang," kata Fadila.


Resepsionis itu mengangguk meski sedikit terkejut. Namun mengingat atasannya yang memang sudah menikah dan punya anak, wanita itu segera melakukan konfirmasi pada Sekretaris Direktur.


"Cih, paling kamu cuma ngaku-ngaku saja kan? Mana mungkin Direktur kami yang tampan itu memiliki anak dan istri yang kampungan seperti kalian ini."


Fadila mengalihkan pandangannya pada wanita yang satu lagi. Wanita Resepsionis yang duduk di bagian pinggir dari tiga Resepsionis. Sedangkan yang melakukan pemperitahuan tentang kedatangan Fadila di bagian tengah.


"Bilang saja kalau kamu sirik, Des. Aku tahu kalau tadi pagi kamu godain pak Direktur waktu masuk ke kantor," seru seorang Resepsionis yang sama-sama duduk di pinggir meja Respsionis.


"Jangan asal bicara ya kamu, Rik. Memang dasar aku yang cantik dan menarik, jadi pak Direktur terpesona sama aku." Wanita bernama Desi itu mengibaskan rambutnya dengan gaya centil.


"Mbak, silahkan naik ke lantai 25. Ruangan Direktur ada di sana," ucap Resepsionis yang tadi berinteraksi dengan Fadila.


"Terimakasih," ujar Fadila lalu berjalan meninggalkan tempat itu menuju lift. Ia malas meladeni mulut lemes dan julid karyawan suaminya itu.


Namun mendengar jika tadi suaminya sempat mendapat godaan. Fadila jadi harus semakin waspada pada setiap hal tak terduga yang bisa saja terjadi. Apa lagi setiap rumah tangga pasti memiliki ujian dan cobaan masing-masing.


Jadi Fadila hanya bisa menguatkan kepercayaannya pada sang suami. Namun tetap hati-hati dan waspada agar kejadian di masa lalu tidak terulang lagi.


"Kok mau sih pak Direktur punya istri dan anak seperti itu? Apa mungkin mereka cuma penipu yang hanya mengaku-ngaku saja? Kalau sampai hal itu sungguhan, kamu yang harus menanggung sendiri akibatnya, Ci." Desi menatap tajam Cici yang dianggapnya terlalu gegabah mengijinkan Fadila naik ke lantai atas.


"Apa kamu lupa kalau pak Direktur itu sudah menikah dan punya anak? Kalau mereka tadi memang anak dan istri pak Direktur, lalu kita melarang bahkan mempersulit nereka bertemu. Kamu mau menanggung akibatnya?" Cici balik menatap tajam ke Desi.

__ADS_1


"Mana mungkin mereka berdua tadi anak dan istri pak Direktur. Kamu gak lihat penampilan mereka yang biasa saja dan terkesan norak," ucap Desi yang tidak mau di salahkan.


"Norak gimana maksud kamu, Des? Kamu tahu gak pakaian yang di pakai perempuan tadi? Harga dresnya saja kalau di rupiahkan lebih dari 10 jt. Perhiasan yang di pakainya itu harganya bahkan mencapai 2 digit," kata Rika.


"Jangan sok tahu kamu! Atau kamu memang kenal sama dia, makanya belain wanita tadi? Di bayar berapa kamu sama dia?" Desi jadi nyolot karena tak percaya dengan apa yang di sampaikan teman kerjanya.


"Sepertinya yang norak itu kamu, Des. Aku sama Rika pernah lihat itu model dres di online shop luar negeri yang terkenal. Dan harganya itu kalau di rupiahkan memang di atas 10 jt. Dan perhiasannya memang senilai 2 digit, alias ratusan juta," ucap Cici.


"Huh, palingan yang di pakainya itu hanya barang kw alias palsu." Desi yang sudah kalah malu mengeluarkan alibi.


Cici dan Rika saling pandang lalu mengangkat kedua bahu mereka sembari geleng kepala.


Di sisi lain, Fadila dan Anan sudah sampai di lantai 25 tempat ruangan sang suami berada.


"Mana tempatnya Daddy, Mi? Apa masih jauh?" Tanya Anan yang sudah sangat rindu dengan Daddy nya.


"Sebentar lagi, Nak. Sepertinya yang di ujung sana," ucap Fadila sembari menunjuk tempat yang di maksudnya.


"Itu siapa Mi, yang duduk di situ?" Tunjuk Anan pada seorang wanita berhijab yang nampak sibuk dengan komputernya.


"Permisi, pak Arnan nya ada?" Tanya Fadila pada wanita yang langsung mengangkat pandangannya itu.


"Ada, Nyonya. Silahkan masuk, Tuan sudah menunggu." Ramahnya sembari tersenyum pada Fadila dan Anan.


"Kalau begitu kami masuk dulu, mari." Fadila berjalan menuju pintu ruangan sang suami, sebenarnya bisa saja Fadila langsung masuk. Namun ia masih mengedepankan sopan santun dan adab di tempat lain.


"Telimakasih, Ante cantik." Wanita berhijab itu semakin tersenyum lebar dan gemas mendengar ucapan Anan.


"Sama-sama anak ganteng," sahutnya.


Fadila mengetuk pintu ruangan suaminya hingga terdengar suara sahutan. Barulah wanita itu masuk ke dalam danmelihat sang suami yang sudah menyiapkan banyak makanan di meja.

__ADS_1


"Daddy!" Panggil Anan begitu melihat daddy nya yang sudah beberapa hari tidak di lihatnya secara langsung.


"Oh, anak Daddy yang ganteng. Kangennya," ucap Arnan sembari membalas pelukan anaknya yang sangat di rindukan.


Arnan mengecupi kedua pipi Anan dengan gemas. Hal itu malah membuat bocah itu tertawa bahagia.


"Mas, kenapa makanannya sebanyak ini? Memangnya akan ada tamu, ya?" Tanya Fadila sembari melihat makanan di meja.


Arnan menghentikan aksinya mengecupi Anan, lalu mmebawa anak dan istrinya untuk duduk di sofa.


"Ini semua untuk kita, sayang. Mas, sengaja pesen banyak lauk dan nasinya sedikit. Apa lagi hari ini pertama kalinya kita makan bersama di kantor ini. Mas ingin merayakannya bersama kamu dan Anan," kata Arnan sembari mengecup tangan kening Fadila dan mengecup pipi Anan.


"Tapi gak sebanyak ini juga, Mas. Kalau gak habis kita makan, gimana?" Khawatir Fadila dengan makanan yang banyak itu tidak habis dan akan mubazir.


"Pasti habis, sayang. Apa lagi semua makanannya hanya satu porsi untuk kita bagi bertiga," kata Arnan menenangkan istrinya.


"Baiklah, kalau nanti gak habis kita bawa pulang saja. Dari pada nanti di buang," ucap Fadila yang di angguki Arnan.


"Mau udang goleng, Daddy." Anan menunjuk udang goreng yang menggugah seleranya.


"Udang siap meluncur," seru Arnan segera mengambilkan makanan yang di inginkan anaknya.


Mereka makan bersama dengan sesekali bercanda saat Arnan tidak jadi menyuapi Anan makanan yang sudah hampur masuk ke dalam mulut bocah itu. Sontak saja hal itu membuat Anan kesal dan merebut makanan yang hampir masuk ke dalam mulut Daddy nya pula.


Fadila hanya bisa melihat tingkah kedua pria beda usia itu. Bahkan wanita itu pun tak ayal ikut menjadi korban kejahilan suami dan anaknya.


"Mas, pulang jam berapa nanti?" Tanya Fadila sembari membereskan tempat makanan yang sudah kosong.


Benar kata Arnan kalau semua makanan itu akan habis meski banyak. Porsi makanan yang sedikit membuat semua makanan itu bisa di habiskan.


"Jam 4 sore nanti, kamu mau tunggu Mas dan pulang bareng?" Tawar Arnan berharap sang istri mau.

__ADS_1


"Boleh, tapi apa gak akan ganggu pekerjaan kamu, Mas?"


"Ya enggak lah, sayang. Kalian bisa istirahat di kamar dulu selama Mas kerja, nanti Mas panggil kalau mau pulang," Arnan menuntun Fadila dan Anan menuju kamar pirbadi di ruang kerja Arnan.


__ADS_2