PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
KEJUTAN


__ADS_3

Sesuai jadwal, saat ini Wafa dan Arsya akan menghadiri pertemuan penting yang di adakan setiap satu bulan sekali dari semua anak perusahaan milik Arsya. Keuletan Arsya dalam berbisnis membuatnya menjelma sebagai pengusaha muda yang sukses dengan berbagai bisnis, tak hanya di bidang periklanan atau media saja, tapi juga di bidang property, perhotelan, bahkan kini merambat ke bidang kuliner.


Pertemuan itu akan di laksanakan di hall salah satu hotel ternama di kota Surabaya. Yang akan di hadiri oleh perwakilan dari masing-masing anak perusahaan milik Arsya.


Arsya dan Wafa baru saja tiba di hotel tersebut, mereka di sambut ramah oleh dua penjaga yang sigap membukakan pintu kaca di depannya.


"Selamat pagi menjelang siang pak Bu, mari silahkan masuk."


Wafa dan Arsya mengangguk seraya tersenyum, jika biasanya Arsya irit senyum dan kerap hanya mengangguk saja sebagai jawaban dari sapaan orang yang menyapanya, kini pria itu menebar senyum lebar. Wafa benar-benar menjadi mood booster untuknya.


Sampai di lobby, mereka di sambut oleh kehadiran Reno yang sudah lebih dulu tiba. Pria itu tiba dari Jakarta semalam, dan memilih menginap di hotel tersebut agar menghemat waktu.


"Selamat pagi pak, Bu." Sapa Reno seraya membungkuk.

__ADS_1


"Kamu sudah disini??" Tanya Arsya, sedangkan Wafa hanya tersenyum saja membalas sapaan dari Reno.


"Iya pak, sejak semalam dan saya bermalam disini."


Arsya mengangguk, ia meraih pinggang Wafa dengan posesif kemudian mengajaknya berjalan bersama menuju hall.


"Mas, nanti ada yang melihat." Bisik Wafa.


Arsya berdecak, dengan terpaksa ia melepaskan tangannya dari pinggang Wafa.


Arsya menoleh, ia menatap Reno dengan tajam. "Berani Lo ngetawain gue??" Ucap Arsya dengan ketus.


"Enggak, mana berani gue ngetawain Lo."

__ADS_1


"Ngomongnya begitu tapi bibir Lo kedat-kedut mau ketawa." Omel Arsya lagi.


Mode sahabat mereka aktif, tapi jangan ragukan sikap profesional keduanya. Jika dalam situasi bekerja, keduanya akan bersikap layaknya bos dan bawahannya.


Arsya, Wafa dan Reno memasuki hall. Disana telah di penuhi oleh karyawan Arsya dari berbagai anak perusahaannya. Ada sekitar Lima puluh orang yang turut hadir dalam pertemuan itu, meja panjang yang membentang di ruangan yang sangat luas itu telah di penuhi oleh mereka yang hadir. Hanya tersisa Tiga kursi di paling depan saja, yaitu untuk Arsya, Wafa selalu sekretarisnya juga Reno selaku tangan kanannya.


Mereka berdiri dan membungkukan badannya menyambut kedatangan Arsya.


"Silahkan duduk." Kata Arsya.


Mereka kembali duduk, kini tatapan semua orang tertuju pada tiga orang penting tersebut. Tak terkecuali tatapan seseorang yang nyaris membulat sempurna saat mendapati seorang perempuan yang dulu di sia-siakannya kini duduk di samping bos besarnya. Perempuan itu tampak anggun dan menawan, kulitnya terlihat bersinar dan terawat, penampilannya tampak elegant dan berkelas meski tetap sederhana. Polesan make up tipis semakin menambah keanggunan perempuan itu, senyum manis terukir dari bibir perempuan itu saat Arsya menoleh padanya.


Bukan hanya itu saja yang membuat pria itu terkejut, ternyata yang menikahi mantan istrinya itu adalah bos besarnya. Pria yang di lihatnya menggenggam tangan Wafa saat acara pernikahannya dulu.

__ADS_1


"Jadi, Wafa menikah dengan pak Arsya?" Batinnya. Dia adalah Fahmi, pria yang pagi tadi berusaha menghubungi Wafa, entah apa yang tengah direncanakannya, dengan tak tahu malunya ia kembali mengatur jalan untuk berkomunikasi dengan perempuan yang telah di sia-siakannya dulu.


Fahmi baru bergabung Tiga bulan yang lalu di anak perusahaan milik Arsya yang bergerak di bidang property. Ia dan dua orang lainnya menjadi perwakilan dari perusahaan tersebut untuk menghadiri pertemuan yang baru pertama kalinya ia ikuti. Dan kejutan demi kejutan ia dapatkan di dalam pertemuan ini.


__ADS_2