PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
MASIH MERAJUK


__ADS_3

“Terharu apanya Las, aku justru takut kalau pernikahan ini akan terbongkar. Kamu bayangin Las, para fans suami aku itu bar-bar, mereka gak akan tinggal diam.”


“Iya kamu bener Fa, sekarang aja mereka pasti nyelidikin siapa yang pak Arsya foto itu.”


Wafa mengangguk, ia harus bicara pada Arsya. Namun jika melalui telpon rasanya tidak tepat.


Ruang chat di group itu makin ramai, dan Wafa tak mau lagi melihat komentar-komentar itu sekarang. Terlalu menakutkan jika semuanya terbongkar, dan sebelum itu terjadi, ia harus benar-benar bicara pada Arsya.


***


Wafa mondar-mandir di balkon kamar saat waktu sudah menunjukan pukul Sembilan malam tapi Arsya belum juga pulang ke rumahnya. Beberapa kali ia mencoba menghubungi suaminya, tapi sayangnya ponsel pria itu tak dapat di hubungi.


Mengingat yang Arsya temui sebelum ia pulang tadi adalah Sisi, membuat kecemasan Wafa semakin meningkat. Sisi sangat licik, berwajah polos dan lugu tapi penuh dengan tipuan.


CEKLEK


Pintu kamar terbuka, suara langkah kaki yang sangat di kenalinya membuat Wafa juga melangkah memasuki kamar dengan terburu-buru. Arsya tampak duduk di sisi ranjang dengan rambut berantakan, begitu pun dengan pakaiannya, terlihat berantakan dengan dasi yang sudah terlepas.


Tanpa berkata apa-apa, Wafa menghampiri Arsya kemudian berjongkok dan membantu pria itu melepaskan sepatunya.


Arsya terpaku melihat apa yang di lakukan Wafa padanya. Ia mengusap puncak kepala Wafa dengan lembut, membuat Wafa mendongak menatap suaminya. Pria itu tersenyum, kemudian mendekati Wafa dan mengecup keningnya.

__ADS_1


“Maaf aku pulang terlambat.”


Wafa tersenyum tipis kemudian mengangguk, meski hatinya masih terasa mengganjal, tapi bukan waktu yang tepat untuk bertanya pada pria itu sekarang.


“Kamu udah makan malam??” Tanya Arsya lagi, dan mendapati Wafa menggelengkan kepalanya semakin membuat Arsya merasa bersalah. “Maafin aku yah, kamu pasti cemas nungguin aku. Kita makan yah..”


Jika bukan dalam keadaan seperti ini, mungkin Wafa akan menjawab ‘Siapa yang nungguin kamu?’ Padahal kenyataannya ia memang menunggu Arsya dan mencemaskan pria itu.


“Kamu udah makan??” Wafa balik bertanya.


Sesaat Arsya terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia memilih jujur dengan menganggukan kepalanya. “Maaf Fa..”


Wafa berbalik, ia hendap menghindari Arsya, tapi tangan Arsya menahannya. “Fa, duduk sini.” Kata Arsya seraya menepuk pahanya.


Wafa menggelengkan kepalanya. “Aku mau siapin pakaian kamu mas, sebaiknya kamu mandi.”


“Aku gak akan mandi sebelum kamu duduk dulu di sini.”


Wafa menghela nafas dalam, dengan ragu ia duduk di pangkuan suaminya. Wajahnya tertunduk dalam, ia tak berani menatap mata sendu milik Arsya.


Arsya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Wafa, ia sandarkan kepalanya di bahu istrinya, menghirup aroma mawar yang menguar dari rambut istrinya sebanyak-banyaknya, ia membuatuhkan Wafa saat ini. “Aku minta maaf ya Fa.”

__ADS_1


“Untuk apa?? Apa kamu melakukan kesalahan??” Tanya Wafa dengan pelan.


“Aku sempat meragukan kamu, dan ternyata kamu benar.”


“Maksud kamu??” Wafa memberanikan diri menatap mata suaminya, ia menunggu jawaban dari pria itu.


“Aku tadi ke resto itu, aku cek CCTV di sana, dan aku minta pihak resto untuk memperbesar suaranya supaya aku bisa mendengar percakapan kalian. Dan ternyata kamu benar, dia sudah mengetahui tentang pernikahan kita Fa.”


Wafa bangkit dari pangkuan suaminya, ia memejamkan matanya sejenak untuk mengusir rasa kesal yang kembali datang. “Jadi segitu gak percayanya kamu sama aku mas? Kamu sampai menyelidiki ini ke resto itu??”


“Bukan gitu maksud aku Fa, jangan salah faham. Aku melakukan itu karena, karena aku..”


"Karena apa mas? Karena kau gak percaya sama aku kan?? Kalau kamu percaya sama aku, kamu gak akan menyelidiki ini sampai ke resto itu."


"Fa, aku hanya tidak mau salah menilai kamu."


"Itu artinya kamu ragu mas, kamu memang tidak mengenal ku dengan baik."


"Sayang..." Arsya memeluk Wafa dari belakang, "Jangan marah lagi, aku minta maaf, aku memang salah."


Jika biasanya Wafa akan bahagia di panggil sayang, dan dadanya akan berdebar-debar saat Arsya mendekatinya, kali ini rasanya berbeda. Ia justru merasa sesak saat Arsya memanggilnya sayang.

__ADS_1


__ADS_2