
“Lalu apa yang terjadi mi??” Tanya Wafa
“Ditengah rasa penyesalah dan rasa putus asa, mami di nyatakan hamil nak. Saat itu mami sangat takut, apa yang akan terjadi jika keluarga mami tahu kalau mami hamil, dan itu karena kesalahan mami menjebak papi. Mami mencoba menghubungi papi dan mengatakan kalau mami hamil, tapi saat itu papi masih tidak mau bertanggung jawab. Dia menolak menikahi mami, dan lagi-lagi alasannya adalah ibu mu, mami berfikir, jika yang menjadi alasan papi menolak adalah ibumu, itu berarti mami harus menemui ibumu. Dari situlah mami tahu, kenapa papi sangat mencintai ibumu, ibumu mempunyai hati yang tulus, dia sangat baik.”
“Apa yang di lakukan ibu mi??”
“Mami berbicara empat mata dengan ibumu, dari hati ke hati sebagai sesama perempuan. Mami mengatakan yang sebenarnya pada ibumu, kalau mami hamil karena mami menjebak papi.”
“Apa saat itu papi tahu kalau mami yang menjebaknya??”
“Tidak nak, papi tidak mengetahuinya.”
__ADS_1
“Dan Ibu??”
“Ibu mu memeluk mami, dia menangis dan berusaha menenangkan mami. Perlakuan yang mami sangat tidak duga nak, mami kira ibu mu akan marah dan menyalahkan mami. Tapi ternyata dia justru memeluk dan menenangkan mami. Dia mengatakan akan membantu mami mendapatkan pertanggung jawaban dari papi. Ibu mu berhati mulia, dia bahkan rela menyerahkan orang yang di cintainya. Singkatnya, atas bujukan dari ibu mu, papi mau menikahi mami dan bertanggung jawab atas kehamilan mami. Dan kami benar-benar menikah setelah ibu mu memutuskan untuk pergi dan pulang kampung.”
“Mi, apa yang mami kandung itu mas Arsya??”
“Bukan nak, kakaknya Arsya. Meski mami dan papi menikah, tapi sikap papi tak pernah berubah, dia sama sekali tidak mencintai mami jika saja bukan karena rasa tanggung jawab saja dia menikahi mami, dan itu pun karena bujukan dari ibu mu. Atas sikap acuhnya itu, mami stress. Mami hamil tapi mami tidak pernah mendapatkan perhatian apapun dari papi, dan akhirnya mami keguguran.”
“Mas Arsya??” Tanya Wafa.
Mami mengangguk. “Mami hamil Arsya, dan kami sangat bahagia. Mami kira kita akan selamanya bahagia, mami kira semua penderitaan mami sudah berakhir, tapi ternyata tidak. Tanpa mami ketahui, ternyata papi menyelidiki insiden malam itu. Dan papi marah besar saat mengetahui mami lah yang menjadi dalang penjebakan malam itu, dia marah besar sampai akhirnya meninggalkan mami yang saat itu hamil Empat bulan.”
__ADS_1
Wafa menggenggam tangan mami, ia mengusapnya dengan lembut. “Mami…”
“Mami tidak apa-apa nak. Hanya saja rasa sesak itu tidak pernah hilang.”
“Maafkan aku mi, aku membuat mami mengingat hal itu lagi.”
Mami menggenggam tangan Wafa, menumpuk tangannya di atas tangan menantunya. “Karena itu nak, mami mau kamu dan Arsya menikah. Mami sangat berhutang pada ibu mu.”
“Jadi mami menjadikan aku tumbal? Untuk membalas kebaikan ibunya Wafa mami memaksa ku menikah??”
“Arsya??”
__ADS_1
“Mas Arsya??”