
"Daddy!" Panggil Anan.
Mereka bertiga saat ini sedang bersiap untuk tidur. Hari yang sudah malam dan kondisi tubuh lelah membuat mereka malas kemana-mana lagi.
"Kenapa tadi Dadsy bohong sama aku?" Tanya Anan yang membuat Arnan mengangkat kepalanya dari bantal dan menatap anaknya.
"Bohong gimana?" Tanya Arnan balik karena belum mengerti arah bicara anaknya.
"Kata Daddy, besok baru kita main ke pantainya. Tapi tadi kita sudah main ke pantai, itu altinya Daddy bohongi aku."
Arnan tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Anan yang baru melayangkan portes atas kejahilan Daddy nya tadi siang.
Fadila sendiri hanya berdehem lalu pura-pura bermain ponsel. Ia tidak ingin di libatkan dalam percakapan keduanya.
Arnan menghela napas saat melihat istrinya yang acuh.
"Maaf, Nak. Tadi siang itu Daddy cuma bercanda kok, gak beneran." Arnan memberitahu anaknya dengan kalimat sederhana saja.
"Bercanda itu apa, Daddy?" Tanya Anan ingin tahu.
"Bercanda itu artinya cuma main-main," jawab Arnan.
"Main-main?" Anan nampak berpikir sejenak. "Tapi ndak ada main-mainnya Daddy? Tadi siang kita cuma duduk saja ndak ada main-mainnya. Aku juga ndak bawa main-main, cuma buku sama alat tulis saja."
Arnan menggigit bibir bawahnya gemas dengan kalimat sang anak. Anan salah memahami maksud dari main-main yang di katakannya.
"kalau itu mainan, tapi yang Daddy maksud main-main tadi itu artinya gak beneran alias bohongan," ucap Arnan menjelaskan.
"Kan benel kata aku tadi, Daddy bohong."
Skak mat.
Arnan tidak bisa lagi berkata-kata di buat Anan yang sangat kritis.
"Hoamm ... Daddy ngantuk nih! Capek juga karena tadi main air. Daddy, tidur dulu ya."
Dengan cepat Arnan menarik selimut dan menutupi kepalanya hingga tak terlihat lagi. Ia sungguh malu karena terjebak dalam ucapannya sendiri.
"Daddy!" Anan meneliti gumpalan selimut yang menutupi kepala daddy nya.
Kemudian anak itu ikutan masuk ke dalam selimut dan mencari wajah sang daddy.
"Daddy!"
Terdengar suara Anan yang memekik senang karena berhasil menemukan Arnan di balik selimut.
"Ketahuan Daddy sembunyinya." Pekik bocah itu lagi.
Fadila kini jadi penonton saja atas apa yang di lakukan Arnan dan Anan di balik selimut.
__ADS_1
Tak lama selimut terbuka dan menampakkan kedua pria yang tadi tenggelam di dalam selimut.
"Groar ... Aku adalah harimau yang lapar. Aku mau makan kamu." Arnan menangkap tubuh Anan seakan-akan hendak memakan bocah itu.
Tapi nyatanya malah menggelitik dan terus mendusel perut dan tubuh Anan hingga bocah itu tertawa lepas dan sangat senang.
"Jangan halimau! Jangan makan aku! Hahaha ..."
Arnan dan Anan terus bermain di atas kasur sambil tertawa bahagia. Begitupun Fadila yang juga tertawa bahagia melihat kebahagiaan kedua prianya.
"Ada mangsa baru," ucap Arnan dan beralih ke arah Fadila.
Gantian Fadila yang di gangu oleh pria itu seperti Anan tadi. Anan sendiri sesekali bertepuk tangan menyemangati Maminya untuk mengalahkan Arnan.
"Sudah Daddy, cukup." Fadila tidak dapat menahan gelinya karena ulah Arnan.
"Kalahkan halimaunya, Mami."
"Bantu Mami, Nak. Kita kalahkan harimau lapar ini," ucap Fadila di sela tawanya.
Anan bangkut dan segera menaiki tubuh daddy nya. Karena posisi Arnan yang mengungkung tubuh Fadila. Anan duduk di punggung sang daddy.
"Lasakan ini halimau nakal." Anan memukuli punggung Arnan untuk membantu maminya.
"Akh ... Ampun, ampun." Arnan seolah-olah sedang kesakita karena pukulan Anan.
Padahal pukulan dari tangan kecil itu tidak terasa sama sekali di tubuh Arnan. Namun untuk menyenangkan sang anak, ia pura-pura kesakitam.
"Yey kita menang ... Kita menang, Mami." Sorak Anan karena berhasil mengalahkan Arnan.
Fadila hanya bisa mengangguk sembari mengatur napasnya yang terengah karena lelah tertawa.
Sedangkan Anan sama sekali tidak merasa lelah meski keningnya terlihat berkeringat.
"Daddy, sudah kalah." Anan kembali menaiki tubuh daddy nya dan merapatkan tubuh mereka berdua.
Kepala Anan di letakkan di dada Arnan yang sedang naik turun karena masih mengatur napasnya. Sesekali bocah itu tertawa pelan saat tubuhnya naik turun.
"Sudah ya Nak mainnya, sekarang kita tidur," ucap Fadila pada Anan.
"Mau sepelti ini, Mami." Pinta Anan tidak mau merubah posisinya.
"Dads capek, Nak. Besok-besok kalau mau tidur begitu." Fadila menarik pelan tubuh anaknya yang hanya pasrah.
Fadila menyusap keringat di kening Anan lalu mengecup kening itu lembut.
"Minum dulu." Arnan menyodorkan gelas yang berisi air setengah gelas agar anaknya minum.
Setelah Anan beranjak dari tubuhnya, Arnan berdiri dan meraih minum yang ada di nakas dekat kasur.
__ADS_1
Fadila membantu Anan duduk dan minum. Setelahnya barulah bocah itu memeluk Fadila dan tidur dengan belaian lembut dair kedua orang tuanya.
Fadila juga ikutan menutup matanya karena merasa capek. Tapi ia terganggu dengan ulah Arnan yang terus saja menekan-nekan pipinya.
Bahkan tidak perduli meski wanita itu melotot pada Arnan sekalipun. Arnan tidak perduli dan malah terkekeh tanpa suara.
Begitu Anan tertidur nyenyak, Arnan bangkit dari tidurnya dan mendekati Fadila.
"Harimau belum kenyang, Mami. Makanan pokoknya belum di berikan," bisik Aenan di telingan Fadila.
Fadila yang tahu maksud suaminya segera menoleh dan memberi kode kalau ada Anan di sana.
Arnan lalu mengangkat tubuh istrinya turun dari kasur. Selanjutnya .... Hanya nereka yang tahu.
Jika keluarga kecil Fadila sudah beristirahat, berbeda dengan keluarga lain yang baru saja tiba di Bali.
Karena ada kendala cuaca yang tidak memungkinkan untuk terbang. Pesawat yang akan mereka naiki terpaksa harus di tunda keberangkatannya.
Hingga malam hari hampir tengah malam mereka baru tiba di hotel.
"Ini kamar, Ibu. Yang itu kamar kami," ucap Febri sembari menunjuk kamar yang di datangi Baby.
"Iya, Ibu mau langsung istirahat saja. Capek," kata wanita itu sembari membuka pintu kamarnya seperti yang di lakukan Baby.
Febri yang sedang menggendong Beni langsung pergi menuju kamarnya sendiri.
Masuk ke dalam kamar, di lihatnya Baby yang telentang di kasur tanpa ganti pakaian.
"Ganti pakaianmu dulu," ucap Febri.
"Sudahlah, Mas. Aku mengantuk." Baby membelakangi Febri yang baru membaringkan Beni.
Febri hanya bisa berdecak saja melihat tingkah istrinya. Pria itu segera mengganti pakaian anaknya lalu pakaiannta sendiri.
Setelahnya barulah tertidur di samping Beni yang ada di antara dirinya dan Baby.
Saat Baby balik badan bermaksud hendak memeluk Febri. Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat sang suami ada di pinghir kasur. Dan yang ada di tengah-tengah adalah anaknya.
"Kok Mas di pinggir sih? Gimana aku bisa peluk kalau kamu di situ, Mas?" Protesnya.
"Maksudmu, Beni yang harusnya di sini?" Tanya Febri menatap nyalang pada Baby.
Wanita itu mendengus dan kembali memejamkan matanya. Ia tidak berani bersuara lagi jika sudah mendapat tatapan tidak enak.
Febri memejamkan matanya setelah Baby memejamkan mata pula.
.......
Nama ayahnya Dwi dan nama anaknya Baby sama ya teman-teman.
__ADS_1
Sama-sama Beni๐๐