PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
JANGAN SENTUH ISTRIKU!!


__ADS_3

Pertemuan itu masih berlangsung. Satu persatu dari perwakilan setiap perusahaan membacakan laporannya. Baik laporan tentang peningkatan atau pun penurunan dari tiap-tiap perusahaan.


Arsya dan Wafa masih belum menyadari kehadiran Fahmi. Mereka terlalu sibuk menyimak laporan yang tengah di bacakan oleh tiap-tiap orang yang menjadi wakil dari anak perusahaan milik Arsya.


"Pak, aku ke toilet dulu yah." Bisik Wafa pada Arsya.


Arsya menoleh, "mau aku temenin??" Bisik Arsya.


"Gak usah, aku bisa sendiri."


"Yaudah, hati-hati dan jangan lama-lama."


Wafa mengangguk, kemudian beranjak dari sana menuju ke toilet yang terletak di luar ruangan itu.


Fahmi melihat itu, ia menjadikan itu kesempatan untuk bisa berbicara dengan Wafa. Ia beranjak dari sana keluar ruangan. Dan disaat yang bersamaan, Arsya menyadari kehadiran Fahmi. Karena diantara para karyawan yang hadir tengah duduk dan Fahmi sendiri berdiri kemudian beranjak keluar dari sana.


"Fahmi.." Batin Arsya. Ingin sekali ia mengikuti Fahmi, karena ia yakin Fahmi akan menemui Wafa. Tapi sayangnya, ia tengah dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengikuti pria itu.


Lima menit…


Sepuluh menit..


Lima belas menit..


Wafa tak kunjung juga kembali ke ruangan itu. Arsya semakin gusar, beberapa kali ia menatap kea rah pintu, namun belum ada tanda-tanda kembalinya Wafa kesana. Ia mencondongkan duduknya kea rah Reno, kemudian berbisik. “Ren, tolong terusin rapat ini, gue mau nyusulin istri gue.”

__ADS_1


“Tapi bos..”


“Gak ada tapi-tapian Ren, tolong gantiin gue bentar.”


Reno berdecak tapi juga mengangguk.


Arsya berdiri, ia berpamitan terlebih dahulu sebelum ia meninggalkan rapat tersebut. “Maaf semuanya, saya ke toilet sebentar. Sementara ini rapat di lanjutkan sama pak Reno.”


Mereka yang hadir mengangguk, tak ada pilihan lain bukan? Karena disini Arsya lah bosnya, apapun yang di lakukan pria itu di benarkan.


Dengan langkah tergesa-gesa ia menuju ke toilet untuk menyusul istrinya, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara seorang pria tengah berbicara di salah satu ruangan kosong di dekat ruang rapat itu. Sepertinya, ruangan itu adalah ruang tunggu khusus.


“Fa, aku menyesal. Aku tidak bahagia sekarang.”


Ucapan itu membuat Arsya yang semula hendak masuk menghentikan langkahnya. Ia memutuskan untuk mendengarkan dulu percakapan antara Fahmi dan istrinya. Biar saja ia tidak sopan karena mendengar pembicaraan orang lain, tapi jika itu menyangkut istrinya, kata tidak sopan itu ia enyahkan dalam kamusnya.


“Tapi Fa, dengarkan aku dulu. Kasih aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku minta maaf sudah menyakiti mu dulu, tapi aku janji aku akan berubah.”


“Mas, kalau kamu berniat memperbaiki semuanya, perbaiki itu melalui Arini. Hargai dia dan cintai dia. Bukankah dia adalah wanita yang kamu inginkan sejak lama? Dan ya, aku sudah memaafkan mu dan melupakan semuanya. Aku sudah bahagia sekarang, jangan usik lagi kehidupan ku. Apa kamu pernah berfikir, kamu meminta kesempatan pada ku, itu artinya kamu akan kembali menyakiti perempuan. Dan perempuan itu adalah adik ku. Aku tidak akan pernah memaafkan mu kalau kamu menyakitinya.”


“tapi aku baru menyadari kalau ternyata kamu lah yang aku inginkan dan aku cintai. Bukan Arini. Mungkin karena kita terbiasa bersama Fa, dan saat kamu tidak ada, aku baru sadar kalau aku tidak bisa tanpa mu. Aku mohon Fa, bisakah kita menjalin hubungan kembali?”


Wafa mengepalkan tangannya. Ia menatap Fahmi dengan tajam kemudian berucap, “dimana akal sehat kamu mas? Dimana hati nurani kamu? Kamu mengajak ku ke jalan yang salah? Kamu meminta ku mengkhianati suami dan adik ku? Maaf mas, aku tidak akan pernah melakukan itu. Memikirkannya saja aku tidak pernah, kamu benar-benar menjijikan mas.”


Wafa hendak pergi meninggalkan Fahmi, tapi Fahmi menahan tangannya hingga Wafa kembali berbalik dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Fahmi. “Lepaskan aku, jangan sembarangan menyentuhku mas, aku bukan istri mu lagi.”

__ADS_1


Fahmi justru semakin erat menggenggam tangan Wafa hingga Wafa tampak meringis kesakitan.


Arsya tak bisa diam lagi. Ia membuka pintu itu dengan kencang hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring karena benturan daun pintu itu pada dinding. “Jangan sentuh istriku!!!” Teriak Arsya.


Wafa tersentak kaget begitu pun dengan Fahmi.


BUG BUG BUG


Arsya memukul Fahmi beberapa kali hingga genggaman tangannya pada Wafa terlepas. “Brengsek. Jangan dekati dia lagi sialan.”


“Mas, mas udah mas. Kamu bisa membunuhnya.” Wafa menarik tangan Arsya yang hendak kembali melayangkan pukulan pada Fahmi.


Arsya berhenti memukuli Fahmi, ia mengusap wajahnya dengan gusar. “Aaaah..” Teriaknya.


“Mas, udah mas.”


Arsya menoleh, ia menatap Wafa dengan tajam. “Kenapa kamu menahan ku? Oh.. Aku tahu, kamu masih mencintainya kan? Kamu gak mau dia terluka karena kamu masih menyimpan perasaan padanya kan?? Jawab aku Wafa!!!” Ucap Arsya penuh penekanan.


“Apa yang kamu katakan mas? Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi padanya.”


“Bohong!!!”


“Mas, apa kamu meragukan aku??”


Arsya tak menjawab, ia meninggalkan Wafa begitu saja. Sedangkan Fahmi, ia tersenyum menyeringai melihat Arsya dan Wafa berselisih faham.

__ADS_1


Arsya kembali ke ruang rapat, rapat itu masih berlangsung meski tadi mereka sempat mendengar suara keras saat Arsya membanting pintu dan berteriak. Mereka hanya bisa diam, rasanya terlalu takut untuk bisa mencampuri urusan sang bos atau hanya sekedar bertanya ada apa? Lebih baik mereka diam, menutup mata, menutup telingan dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.


__ADS_2