PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 37.


__ADS_3

Pesawat yang di naiki Fadila dan yang lainnya tiba di Jakarta dengan selamat. Mereka keluar bandara bersama-sama.


Anan yang masih mengantuk tertidur di gendongan Fadila. Sedangkan Arnan membawa sendiri koper mereka tanpa bantuan Jack.


Keluarga mereka tidak ada yang datang menjemput karena sedang menyiapkan acara pernikahan. Hanya supir yang bertugas menjemput para tuannya di bandara.


Fadila mengamati jalanan ibu kota yang sudah lama di tinggalkannya. 4 tahun yang lalu ia meninggalkan ibu kota demi menggapai cita-cita dan meninggalkan derita.


Kini Fadila kembali dengan seorang bocah yang selalu mewarnai hari-harinya. Menjadi penyemangat dan sumber kebahagiaannya.


Dan bukan hanya Anan, kini Fadila kembali ke tanah air bersama seorang pria yang sudah menjadi suaminya. Seorang pria yang selama beberapa minggu ini menemaninya dan berbagi kebahagiaan serta kesedihan dengannya.


"Kenapa?" Tanya Arnan saat melihat Fadila yang menatapnya. "Enggak." Fadila geleng kepala sembari mengalihkan pandangannya.


Arnan mengulurkan tangan kanannya lalu mengelus lembut kepala Fadila hingga wanita itu menoleh. Arnan mengecup kening Fadila mesra yang membuat wanita itu memejamkan mata menikmati kehangatan dari kecupan sang suami.


Setelah mengecup kening Fadila, pria itu juga mengecup kepala Anan. Karena posisi tidur bocah itu, kepalanya di samping Arnan dan kakinya di dekat pintu.


Keduanya saking pandang dan tersenyum bahagia bersama. Fadila menyandarkan kepalanya di pundak Arnan.


Tentu saja Arnan menyambut dengan baik dan melingkarkan tangan kirinya di pundak Fadila. Mengecup sekali lagi kening istrinya sebelum melihat ke arah jalanan.


Beberapa saat kemudian, mobil memasuki gerbang sebuah rumah yang sangat besar dan tinggi.


Fadila menatap gerbang tinggi yang bergerak terbuka dan menampakkan bagian dalamnya. Belum sepenuhnya terlihat memang, karena halaman yang terlihat luas dengan air mancur di bagian tengah yang sudah terlihat.


"Ini rumah siapa, Mas?" Tanya Fadila pelan tanpa melihat suaminya.


Pandangan wanita itu masih terarah ke rumah yang begitu besar.


"Ini rumah kita," sahut Arnan santai menatap istrinya.


Fadila sontak menoleh pada suaminya dengan kedua mata melotot tak percaya. "Mas, gak bohong kan?" Tanyanya.


Arnan tersenyum melihat respon istrinya yang begitu kaget. "Bohong gak, ya?" Goda pria itu yang menerima cubitan dari Fadila. "Mas! Jangan bercanda," ucapnya kesal.

__ADS_1


Arnan tertawa kecil karena anaknya masih tertidur pulas. "Ayo turun!" Arnan membuka pintu di sampingnya lalu berjalan cepat ke bagian pintu dekat Fadila.


Mengulurkan tangannya mengambil tubuh Anan dari pangkuan Fadila. Anan sempat terusik karena pergerakan daddy nya. Namun itu tak lama, Anan kembali tertidur karena mendapatkan tepukan lembut di bokongnya dari Arnan.


Belum lagi Fadila yang mengusap lembut punggung Anan. Meski wanita itu posisinya masih duduk di dalam mobil.


Setelah Fadila keluar, barulah mereka melangkah bersama mendekati pintu yang sudah terbuka lebar.


"Selamat dat ..."


Arnan mengangkat tangannya tanda untuk tak bersuara saat para pelayan di rumah itu menyambutnya. Tentu saja para pelayan tak melanjutkan kalimat mereka begitu mendapatkan instruksi.


"Bubar," ucap Arnan.


Para pelayan menunduk sejenak sebelum kembali bekerja.


Fadila hanya bisa melongo melihat betapa banyaknya pelayan di rumah besar itu. Meski rumah kedua orang tua angkatnya juga besar dan mewah. Namun tak sebesar dan semewah rumah yang di masukinya ini.


Arnan memegang tangan Fadila hingga membuat wanita itu terkejut.


"Ngagetin gimana?" Satu alis Arnan naik tanda kurang mengerti. Karena ia memang tak terlalu memperhatikan istrinya tadi.


Fadila geleng kepala dan kembali melihat-lihat rumah mewah dan berkelas yang di masukinya itu.


Arnan menghela napas sejenak saat baru menyadari kalau istrinya sejak tadi melongo dengan rumah mereka.


Pria itu membawa istrinya berjalan naik menuju lantai 3 di mana kamar mereka berada. Hal yang kembali membuat Fadila tercengang adalah, adanya lift di rumah itu yang langsung mengantar mereka ke lantai 3.


"Ini rumah siapa, Mas?" Tanya Fadila yang membuat Arnan menahan senyum geli. Ternyata istrinya masih saja mempertanyakan rumah mereka ini.


"Istriku sayang, kalau rumah ini bukan milik kita, sudah pasti penjaga di depan akan mengusir kita berdua. Belum lagi para pelayan tadi, gak mungkin mereka menyambut kedatangan kita."


Fadila mengangguk saja mendengarkan ucapan suaminya, tapi pikirannya tidak fokus. Begitu pintu lift terbuka dan mereka keluar, Fadila lebih kagum lagi melihat apa yang ada di depan matanya.


"Woah ... " Kagumnya pada interior di lantai tiga itu. "Mas! Ini keren banget." Fadila menapakkan kakinya tanpa arah.

__ADS_1


Ke mana matanya melihat keindahan, ke sanalah kakinya melangkah. Hingga tibalah Fadila di sebuah ruangan yang berdinding kaca dari atas hingga bawah.


"Woahh ... Pemandangannya di bawah cantik sekali, Mas." Senyum wanita itu begitu cerah menatap hamparan bunga di taman bawah.


Di sekitar ruangan itu juga ada beberapa tanaman bunga yang tak kalah cantik. Tersusun rapi dan indah serta harum bunga yang menambah suasana menjadi asik.


"Mami!" Panggil Arnan dengan suara lembutnya. "Iya," sahut Fadila yang masih menatap taman di bawah.


"Istirahat dulu, yuk! Nanti baru ke sini lagi." Fadila menoleh ke arah suaminya.


Berjalan mendekat dengan langkah riang dan tersenyum lebar. "Mas, rumahnya keren banget. Bunga-bunganya juga cantik, apa lagi taman yang ada di bawah sana." Wanita itu menunjuk ke arah bawah sana.


Arnan tersenyum manis pada istrinya yang begitu bahagia. Ia juga ikut bahagia melihat kebahagiaan sang istri.


"Mas, tahu sayang. Nanti kita lihat-lihat lagi bagian rumah lainnya. Sekarang istirahat dulu, nanti mama dan keluarga lainnya akan datang."


Fadila mengangguk sembari menunduk malu, ia terlihat seperti perempuan kampung yang tak pernah melihat rumah mewah dan taman indah. Padaha memang ia, karena dunia Fadila selama ini hanya belajar dan bekerja saja.


Pasangan itu berjalan menuju kamar utama di rumah mewah itu. Lagi, Fadila terpesona dengan desain kamar yang begitu nyaman dan membuat betah yang menempati.


"Kamu mau mandi?" Tanya Arnan setelah meletakkan Anan di kasur besar.


Fadila menoleh lalu mengangguk, ia sudah gerah lama di perjalanan.


"Itu pintunya, lemari pakaian juga ada di sana. Kamu pakai baju yang sudah ada di sana dulu saja," ucap Arnan.


Fadila lagi-lagi mengangguk dan bergegas menuju pintu yang di tunjuk suaminya tadi.


"Malu ... malu ... Malu ..." gumamnya sembari berjalan cepat. Kedua tangannya memegangi pipi karena malu.


Arnan hanya bisa tersenyum dan geleng kepala saja melihat tingkah Fadila. Pria itu berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Mengabari keluarganya kalau mereka sudah tiba.


Pesan dari mama Marni yang paling banyak di grup chat keluarga itu. Berbagai kalimat di kirim wanita paruh baya itu untuk anaknya sulungnya.


"Mama, mama," gumam Arnan.

__ADS_1


__ADS_2