
Salah satu meja di sebuah resto di duduki dua perempuan cantik yang berpenampilan berbeda. Salah satunya berpakaian muslimah lengkap dengan hijabnya, dan yang lainnya berpakaian seksi.
Dia adalah Wafa dan Sisi, sejak sepuluh menit yang lalu mereka duduk di salah satu meja di resto yang tak jaug dari gedung perkantoran GalaMedia, namun selama sepuluh menit itu pula taka da yang memulai pembicaraan. Padahal harusnya mereka membicarakan pekerjaan yang menyangkut dengan lounchingnya salah satu produk di pabrik tempat Sisi bekerja.
“Jadi kamu sekretarisnya Arsya atau wanita simpanannya??” Satu kalimat itu keluar dari bibir Sisi dan sukses membuat Wafa terkejut.
“Maksudnya mbak??” Tanya Wafa dengan tatapan memicing.
“Jangan pura-pura polos Wafa, aku tahu Arsya menikahi mu. Tapi sayangnya, di menikahimu seperti menikahi simpanannya. Nikah di bawah tangan atau nikah siri, bukankah hanya wanita simpanan yang biasanya di perlakukan seperti itu??”
__ADS_1
Wafa menghela nafas dalam mencoba menenangkan dirinya. “Tidak semua yang di nikahi secara siri itu simpanan mbak, banyak alasan yang membuat orang memilih nikah siri lebih dulu.”
“Oyah?? Lalu apa alasan Arsya menikahi mu secara siri? Apa dia merasa malu karena status kamu seorang janda dari sebuah kampung? Keadaan kalian bahkan jauh berbeda.”
“Suami ku bukan pria seperti itu.”
“Dari mana kamu tahu kalau Arsya bukan orang seperti itu? Kalian belum lama kenal, tidak ada yang mengenal Arsya lebih baik dari aku. Aku mengenalnya sejak lama, beda dengan mu.”
Sisi menatap Wafa dengan tajam, sebelah tangannya yang tersimpan di atas meja tampak mengepal. Sepertinya ucapan wafa berhasil membuatnya kesal.
__ADS_1
“Jangan bicara sembarangan pada ku. Aku hanya bicara faktanya Wafa, coba kamu fikir-fikir, mungkin dia memang menyentuhmu, tapi apa kamu tidak merasa jijik pada dirimu sendiri? Kamu hanya di jadikan sebagai kebutuhan biologisnya saja, itu terdengar seperti wanita murahan bukan?? Padahal dia sama sekali tidak mencintai kamu, tapi ya, namanya juga laki-laki. Arsya laki-laki normal, walaupun dia tidak mencintai mu, tapi dia mempunyai kebutuhan yang harus dia salurkan. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan pernah mau di sentuh tanpa adanya rasa cinta.”
“Oyah?? Tapi sayangnya, kamu tidak seberuntung aku ya mbak Sisi. Kamu harus cukup puas menjadi temannya saja, padahal kalian sudah kenal lama bukan? Dan aku, aku lebih beruntung dari kamu karena dia memilihku sebagai istrinya, ya walaupun pernikahan kami memang secara siri, tapi tetap saja aku sangat beruntung. Dan mengenai kebutuhan biologis, aku juga sama. Aku perempuan niormal, aku juga mempunyai kebutuhan biologis yang sama dengannya. Jadi bukan hanya dia saja yang menjadikan aku kebutuhan biologisnya, tapi aku juga. Kita sama-sama di untungkan dalam hal ini, kita saling membutuhkan satu sama lain. Dan apakah mbak Sisi pernah mendengar pribahasa WITING TRESNO JALARAN SOKO KULINO, jatuh cinta karena terbiasa. Tidak menutup kemungkinan kita akan saling jatuh cinta karena kita terbiasa bersama dan berbagi segalanya. Apa itu..”
“CUKUP!!!” Teriak Sisi, “Jangan bicara lagi, jangan mentang-men..”
“Ada apa ini??”
Wafa dan Sisi menoleh, Arsya berdiri tak jauh dari mereka dan mulai melangkah mendekati meja mereka.
__ADS_1
“Dia..” Sisi menunjuk wajah Wafa dengan penuh kemarahan. “Dia telah menghina ku Sya, aku tidak menyangka dia sangat berani, padahal penampilannya tertutup, tapi sikapnya seperti wanita tidak berpendidikan."