
Wafa baru saja tiba di kantornya, memasuki lobby di sana ia sudah mendengar desas desus tentang postingan Arsya kemarin. Beragam komentar ia dengar, dari mulai cibiran, pujian dan hal lainnya yang tentu saja mengarah pada foto dirinya yang tengah mereka cari tahu.
"Wafa tunggu..."
Wafa menoleh, Lastri tampak sedikit berlari menghampirinya. "Assalamualaikum Las.."
Lastri terkekeh. "Waalaikumsalam nyonya Ar..."
Belum sempat Lastri menyelesaikan ucapannya, Wafa membekap mulut sahabatnya itu dengan tangannya. "Ssstttttt..."
Lastri mengangguk-anggukan kepalanya, di rasa Lastri mengerti, barulah Wafa melepaskan tangannya dari mulut sang sahabat.
"Untung tangan kamu wangi, kalau enggak aku bisa pingsan." Gerutunya.
"Jangan sampai keceplosan Las, aku bisa babak belur kalau mereka tahu."
"Maaf Fa, aku lupa." Lastri terkekeh, ia menggandeng tangan Wafa untuk memasuki lift. Namun baru saja hendak melangkah, sering ponsel milih Wafa menghentikan langkah mereka.
"Siapa nih? Nomor baru." Gumam Wafa.
"Angkat saja Fa, siapa tahu penting." Kata Lastri, dan Wafa mengangguk.
Wafa menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya kemudian mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. "Assalamualaikum.." Ucap Wafa setelah sambungan telponnya terhubung.
"Waalaikumsalam Fa, ini aku.."
DEG
Wafa melihat layar ponselnya kemudian menutup sambungannya. Ia tahu persis suara itu, suara yang sampai saat ini masih sangat di kenalinya.
"Siapa Fa??" Tanya Lastri.
"Gak tahu Las, salah sambung kali. Yuk naik." Ucap Wafa seraya melangkah kembali menuju lift.
Lastri mengangguk, ia mengikuti langkah Wafa kemudian sama-sama memasuki lift.
***
Tok tok tok..
"Masuk.."
Arsya menghentikan pekerjaannya, ia menatap seorang pria berkaca mata yang beberapa hari yang lalu ia minta untuk menyelidiki kehidupan Fahmi, mantan suami istrinya. Bukan maksud apa-apa, ia hanya berjaga-jaga jika suatu saat pria itu menyakiti atau mendekati istrinya lagi.
"Selamat pagi bos.."
__ADS_1
"Pagi, gimana tugas dari saya??"
"Beres bos, semua informasinya ada di file ini bos."
"Bagus." Ucap Arsya seraya mengambil file yang di sodorkan salah satu anak buahnya itu. "Bonus buat kamu akan saya transfer, kamu boleh pergi."
"Ok bos, terima kasih."
"Ya."
Pria berkaca mata dengan rambut sedikit ikal itu membungkukan badannya sebagai tanda hormat sebelum ia undur diri meninggalkan Arsya, yang di balas Arsya dengan anggukkan kepala.
Arsya membuka file itu, senyumnya terbit ketika melihat semua informasi yang tertera di sana, sangat detail hingga keadaan rumah tangga Fahmi pun ada di dalamnya.
"Dasar bajing*n, lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan kalau sampai kamu mendekati istriku lagi." Ucapnya.
Suara langkah kaki mendekat membuat Arsya mendongak, ia menutup file atau berkas yang tengah ia baca ketika melihat istrinya datang dengan secangkir kopi tanpa gula yang biasa Arsya minum di pagi hari.
"Selamat pagi pak, ini kopi anda." Ucap Wafa, ia meletakkan secangkir kopi itu di meja Arsya.
"Pagi, terima kasih." Kata Arsya, ia menatap lekat wajah berseri istrinya, karena suatu hal, ia dan Wafa tak pergi ke kantor bersama. Arsya harus pergi lebih dulu dari Wafa.
Wafa berdehem, ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan suaminya. "Apa ada lagi yang bisa saya bantu pak??" Tanyanya dengan gugup.
"Apa?? Bapak memerlukan apa lagi??"
Arsya tak menjawab, posisi Wafa yang berdiri di samping meja kerja Arsya memudahkan pria itu untuk meraih tangan Wafa dan membuat perempuan itu duduk di pangkuannya.
Wafa membulatkan matanya, ia hendak kembali berdiri namun tangan Arsya melingkar erat di pinggangnya. "Mas, jangan begini. Nanti ada yang masuk."
"Biarin aja, biar mereka semua tahu kalau kamu istriku."
Wafa mendelik kesal, lagi-lagi Arsya menginginkan jika pernikahan mereka terbongkar. Ia tak bisa membayangkan jika itu benar terjadi, mungkin para penggemar suaminya itu akan menyerangnya dengan kata-kata yang sudah pasti menjatuhkan mentalnya. Apalagi sebelumnya Wafa berstatus janda, hal itu akan menjadi sasaran pembahasan empuk para fans suaminya.
"Mas, aku tuh mau kerja dengan tenang disini. Kalau mereka tahu tentang pernikahan mereka, aku tidak akan bisa bekerja dengan tenang. Aku pernah bilang kan kalau aku masih mau membantu orang tua ku."
"Iya aku tahu, mereka juga orang tua ku."
"Karena itu jangan biarkan mereka tahu tentang pernikahan ini."
"Ya ya ya terserah kamu, kalau gitu cium aku dulu baru aku akan melepaskan mu."
"Ap..apa?? Mas nanti ada yang lihat."
"Kalau gitu kamu harus rela duduk disini sepanjang hari sayang."
__ADS_1
Wafa berdecak, namun senyuman tipis tak dapat ia sembunyikan. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Arsya kemudian mulai mendekat. Dengan berani Wafa mengecup bibir Arsya, tidak tidak tidak, bukan hanya sebuah kecupan saja, tapi ciuman yang memabukkan. Arsya sampai terbuai dan memejamkan matanya.
"Kamu semakin pintar sayang, aku suka." Bisik Arsya setelah mereka melepas ciumannya.
"Aku belajar dari mu."
Arsya terkekeh, ia mengusap bibir basah Wafa dengan ibu jarinya. Wafa pun melakukan hal yang sama, ia sedikit berbalik untuk mengambil tissue yang berada di meja Arsya, kemudian mengusapkannya pada bibir suaminya.
"Lipstik aku nempel di bibir kamu." Ucap Wafa seraya tertawa.
"Padahal gak usah di bersihin sayang, biar aja mereka tahu kalau kamu nakal cium-cium aku."
Wafa mencebik. "Kan kamu yang minta, aku cuma nurut aja. Kamu bos sekaligus suami aku, kekuatan perintah kamu jadi double kan??" Ucap Wafa, ia meniru kata-kata Arsya.
"Bisa aja kamu." Arsya mencubit ujung hidung Wafa, kemudian mengusap perut datar perempuan itu. "Nak, cepet hadir di perut mama yah, papa akan rajin-rajin usaha bercocok tanam supaya kamu cepet hadir."
Wafa ingin tertawa mendengar ucapan Arsya, tapi ia juga terharu. Matanya bahkan berembun, pria yang katanya belum mencintainya itu menginginkan seorang anak darinya. Sangat berbeda dengan Fahmi, pria itu bahkan meminta Wafa meminum pil kontrasepsi agar Wafa tak sampai mengandung.
"Mas..."
"Hem??"
"Kamu menginginkan anak dari ku??"
"Tentu lah, aku kan pernah bilang, aku mau punya banyak anak. Kamu gak keberatan kan mengandung anak ku??"
Wafa menggeleng cepat, jatuh sudah air mata yang sedari tadi di tahannya. "Tidak mas, mana mungkin aku keberatan. Aku juga sangat menantikan saat itu tiba."
Arsya tersenyum lembut, ia mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya. Kemudian mengecup mata perempuan itu bergantian. "Jangan nangis lagi.."
"Aku nangis bahagia mas, terima kasih. Kamu memperlakukan aku dengan sangat baik."
"Kamu istri ku, tentu aku akan memperlakukan kamu dengan baik. Apapun akan aku lakukan asal kamu bahagia bersama ku."
"Aku memang bahagia." Wafa memeluk erat suaminya, membuat Arsya kembali tersenyum dan membalas pelukan istrinya.
"Jadi, maukah kamu bercocok tanam sekarang?? Kita harus rajin-rajin loh supaya cepet ada buahnya." Goda Arsya.
Wafa memukul pelan dada suaminya, "gak sekarang juga mas. Kamu ada pertemuan penting dengan perwakilan dari semua perusahaan kamu loh tiga puluh menit lagi."
"Ya tuhan, kenapa aku bisa lupa. Kamu nakal sayang, kamu mengalihkan dunia ku."
Wafa tersenyum malu, kemudian mengecup bibir Arsya sekilas lalu beranjak dari pangkuan pria itu dan pergi sebelum pria itu berbalik menyerangnya.
Arsya menggelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan istrinya. Tanpa mereka sadari, cinta perlahan hadir dalam hati mereka.
__ADS_1