PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
TAK MUDAH


__ADS_3

Wafa kira akan mudah menjalani pernikahan ini, dia hanya harus menyesuaikan diri dengan Arsya dan mengurus pria itu dengan baik, nyatanya tak hanya perihal itu saja, kini ia menyadari tak akan mudah mengimbangi kehidupan Arsya yang jauh berbeda dengan dirinya.


Kehidupan Arsya berbeda dengan kehidupannya, dan hal itu menjadi masalah yang sulit untuk Wafa imbangi. Tapi Wafa tak akan menyerah begitu saja, ia yakin ia bisa menaklukan keadaan. Wafa tidak mau gagal lagi, menyandang status janda bukanlah hal yang mudah, apalagi di lingkungannya. Jika sampai ia gagal untuk yang ke dua kalinya, bukan hanya dirinya saja yang akan merasakan efeknya, tapi juga kedua orang tuanya.


Wafa menyimpan pakaian ganti yang sudah ia siapkan untuk suaminya di atas ranjang, ia sendiri kembali ke balkon untuk menikmati angin malam.


Angin malam yang berhembus cukup kencang tak membuat Wafa ingin beranjak dari sana, gaun malam selutut yang ia kenakan bahkan sampai bergerak-gerak tertiup angin, sangat indah hingga membuat Arsya tak tahan untuk tak menghampiri Wafa kemudian memeluk perempuan itu dari belakang.


Wafa tersentak kaget saat dua tangan kekar suaminya melingkar di perutnya. Ia berusaha melepaskannya, namun tangan itu semakin erat memeluknya. “Mas..”


“Diamlah, aku merindukan mu.” Bisik Arsya.


Wafa menghela nafas dalam, ia tahu apa yang suaminya inginkan, tapi sekarang hatinya sedang tidak baik, bagaimana ia bisa melakukan hal itu sementara kekesalannya pada Arsya belum hilang.


Wafa memejamkan matanya saat Arsya mengecup pundaknya, ia menggigit bibir bawahnya saat pria itu mengusap perutnya dengan lembut. Wafa berbalik, ia membulatkan matanya mendapati Arsya yang belum memakai pakaiannya. Pria itu hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya hingga ke lututnya. Wafa memalingkan wajahnya yang terasa memanas, ia yakin pipinya memerah saat ini. Kenapa Wafa bisa selemah ini pada Arsya? Hanya melihat tubuh kekar pria itu saja sudah membuat darahnya berdesir. “Mas, pakai dulu baju mu, nanti kamu masuk angin.”


Arsya menahan senyumnya saat Wafa memalingkan wajah menghindarinya, perempuan itu terlihat sangat menggemaskan. Arsya merapatkan tubuhnya pada Wafa hingga Wafa benar-benar tak bisa menghindar dan tangannya menyentuh dada bidang Arsya.


“Ma..mas, pakai baju mu.” Kata Wafa dengan gugup.


“Aku mau kamu yang pakaikan..” Bisik Arsya, dengan jahilnya ia mengecup daun telinga istrinya.


Wafa berdehem, ia salah tingkah. “Ba..baiklah, aku akan membantu mu. Lepaskan aku dulu.”


“Satu kecupan..”


“Apa??”


“Berikan aku satu kecupan dan aku akan melepaskan mu sayang..”

__ADS_1


“Mas..”


Arsya semakin mengeratkan dekapannya, hidung mancung Wafa bahkan nyaris mencium dada polos suaminya. Wafa semakin gugup. Ia memejamkan matanya sejenak kemudian berjinjit dan..


CUP


Satu kecupan ia berikan di pipi pria itu. Namun pria itu memprotes.


“Aku gak minta di situ..”


Wafa memberanikan diri mendongak menatap mata tajam Arsya, pria itu mengedipkan sebelah matanya seraya mengerucutkan bibirnya. “Disini sayang..” Ucapnya.


“Mas…”


Arsya kembali mengeratkan dekapannya, hal itu membuat Wafa bergerak hendak menghindar, namun Arsya tak membiarkan itu. “Mau kemana sayang? Semakin kamu bergerak, adik ku akan terbangun sempurna.”


“Ap..apa??” Wafa membulatkan matanya, ia kembali berjinjit kemudian mengecup bibir Arsya, namun saat hendak melepaskan diri, Arsya menahannya. Pria itu mencium istrinya dengan lembut, mengusap bibir istrinya bergantian dengan bibirnya. Perlahan Wafa mulai terbuai, matanya terpejam, tangannya perlahan naik menyusuri dada polos Arsya kemudian ia mengalungkan ke dua tangannya di leher pria itu.


“Mau lanjut, atau mau udahan aja??” Bisik Arsya saat ia melepas ciumannya.


Wafa menunduk, ia tersenyum tipis kemudian mengangguk.


“Apa ini artinya??” Goda Arsya seraya mencubit dagu Wafa dengan gemas.


“Iisshh, iya lanjut.” Kata Wafa dengan malu-malu.


Arsya tersenyum menang, ia berhasil meluluhkan Wafa. Tanpa menunggu lama lagi, Arsya menggendong Wafa dan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.


Rupanya bukan hanya Arsya yang menjadikan Wafa candunya. Tapi juga Wafa, perempuan itu benar-benar merasa candu pada setiap sentuhan Arsya.

__ADS_1


***


“Kenapa kamu posting foto aku mas? Fans-fans kamu pasti cari tahu tentang aku.” Tanya Wafa, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya setelah sesaat yang lalu pertarungannya dengan Arsya selesai, namun pria itu masih saja jahil menarik selimut yang menutupi tubuh Wafa hingga dada perempuan itu kembali terlihat.


“Sengaja, abis kamu ngambek terus sama aku. Aku kangen aja pas kita lagi liburan itu.”


“Kangen liburannya??”


Arsya mengangguk. “Heemm..”


Wafa mengerucutkan bibirnya, ia sempat melambung, ia kira Arsya merindukannya, ternyata hanya merindukan liburannya saja.


“Kenapa manyun??” Tanya Arsya, “Mau aku cium lagi yah??”


“Ih enggak, kamu aja kali yang mau.”


“Emang aku mau lagi, sini aku cium tayaaaangnya akuuuu.” Kata Arsya seraya mengusak-ngusak keningnya pada kening Wafa.


Wafa tertawa tapi ia juga mengomel. “Mas lepas, aku geli. Sana jauhin aku, kamu kan cuma kangen sama liburannya aja gak kangen sama aku.”


Arsya berhenti mendusel wajah istrinya, ia menatap mata Wafa dengan lekat hingga Wafa salah tingkah.


“Kenapa kamu liatin aku kaya gitu mas??”


“Jadi kamu mau aku kangenin juga??”


“Enggak.” Jawab wafa dengan cepat.


“Dih bohong, itu kamu ngomong enggak tapi kamu ngangguk.”

__ADS_1


“Hah masa? Enggak ah, aku ngomong enggak sambil geleng-geleng kepala kok.” Jawab Wafa sambil menghindari tatapan Arsya.


Arsya tertawa, ia kembali menyerang istrinya dan tentunya Wafa juga menerimanya dengan senang hati.


__ADS_2