
Fadila memeluk erat suaminya sembari menangis. Ia sungguh menyesali kendali dirinya yang kurang terkontrol dan traumanya yang ternyata belum hilang sepenuhnya.
Hingga wanita itu bisa menguasai perasaannya dan menghentikan tangisannya.
Saat sang istri sudah tenang, barulah Arnan menatap tajam pada kepala pelayan yang sudah acak-acakan akibat ulah Fadila.
"Hari ini juga kamu di pecat," ucap Arnan yang membuat wanita itu mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk.
"Kenapa begitu, Tuan Muda? Apa salah saya? Saya masuk kekamar itu hanya untuk mengantarkan pakaian," kilahnya.
"Pakaian apa? Saya sudah memasukkan pakaian Tuan Muda dan Nyonya Muda sejak sore," ucap pelayan yang memang mengurus pakaian dan cucian lainnya.
"Diam kamu! Jangan ikut campur," bentak mantan kepala pelayan pada pelayan yang bicara tadi.
Sontak saja si pelayan itu kaget, begitupun pelayan lainnya.
"Bereskan semua pakaian dan barang-barang miliknya." Dua pelayan segera bergerak menuju kamar mantan kepala pelayan itu seperti perintah Arnan.
"Tidak! Jangan pecat saya, Tuan Muda." Tangisnya sembari mendekati Arnan hendak menyentuh kaki pria itu.
Tangan Fadila lebih dulu menepis tangan wanita yang hendak menyentuh kaki suaminya. Fadila juga menarik sang suami di belakang tubuhnya.
Melindungi Arnan dari pelakor yang sungguh tidak tahu malu.
"Kamu pantas mendapatkan itu karena tidak bisa menghargai anak dan istri saya. Jangan kira saya tidak tahu apa yang kamu lakukan pada pakaian anak saya tadi siang. Dan juga bagaimana perlakuan kamu pada pelayan lainnya."
Ucapan Arnan sukses membuat pelayan itu gugup. Ia memang selalu bersikap semena-mena pada pelayan lainnya dan kerap memerintah minta di layani layaknya tuan rumah.
"Menginjak pakaian seseorang yang masih akan di gunakan dengan sengaja. Itu sama saja menginjak harga diri si pemilik pakaian. Karena pakaiannya adalah pelindung dirinya yang paling di butuhkan. Meski terlihat sederhana apa yang kamu lakukan, tapi nyatanya memiliki makna berbeda," ucap Arnan.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi, jangan pecat saya," kata wanita itu menatap Arnan menghiba.
"Antar dia ke yayasan penyalur pekerja tempatnya semula. Syaa tidak butuh pekerja yang tidak bisa menghargai keluarga saya," kata Arnan dengan pandangan tajam dan tak bersahabatnya pada wanita yang manangis itu.
Seorang pelayan yang tahu dari yayasan mana wanita itu datang segera memberitahu. Sedangkan seorang satpam memesan taksi. Yang lainnya menggiring mantan kepala pelayan sombong itu ke luar rumah majikan mereka dengan senang.
Sedangkan Fadila di gendong Arnan kembali ke kamar mereka.
"Makanya jadi perempuan jangan aneh-aneh," ucap wanita pemilik daster yang di pakaia mantan kepala pelayan itu.
"Bagaimana rasanya di pecat? Gak bisa sombong lagi kamu sekarang," kata yang lainnya pula.
"Itu akibat dari sok berkuasa dan terlalu banyak menghayal."
"Iya betul, menghayal kok jadi nyonya rumah ini. Ya mana Tuan Muda mau sama kamu, sedangkan istrinya cantik begitu."
__ADS_1
"Mempermalukan kaum wanita saja kamu ini."
Mantan kepala pelayan itu di bawa sampai depan gerbang. Setelah taksi datang mereka memasukkan wanita sombong itu dan melambaikan tangan pada taksi yang sudah melaju.
"Da da ... hati-hati di jalan ya?"
"Jangan lupa jahit dasternya, ketiaknya bolong."
"Baik-baik di sana, ya?"
Setelah taksi tidak terlihat lagi, para pelayan itu masuk dengan hati yang lega. Akhirnya kepala pelayan sombong dan sok berkuasa sudah pergi dan tidak akan kembali lagi.
Tidak akan ada lagi yang merecoki pekerjaan mereka dan memberi mereka perintah aneh-aneh.
Sedangkan di kamar utama rumah mewah itu, Arnan masih memeluk erat istrinya sembari mengecupi kening Fadila.
"Maaf kalau aku tadi sudah berbuat anarkis, Mas."
Arnan tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dengan gemas ia mengecup lama bibir Fadila.
"Gak masalah sayang, asal ini yang terakhir kalinya. Mas, gak mau kamu melakukan hal seperti tadi, bukan Mas membela dia. Tapi akan lebih baik kalau kamu mengalahkan perempuan sejenis dia dengan cara yang elegan."
Fadila mengangkat wajahnya menatap Arnan.
"Kamu harus buktikan kalau kamu itu adalah wanita berkelas. Segala masalah harus kamu hadapi dengan cara yang cantik. Jadi orang-orang akan segan dan merasa sungkan kalau ingin mencari masalah dengan kamu," ucap Arnan.
Arnan terkekeh sembari menatap istrinya nakal.
"Mas, lebih tergoda sama kamu sayang. Sekalipun kamu pakai baju lengkap dan tertutup begini." Pria itu menyentuh kancing baju Fadila dna membukanya.
"Mas, mau apa?" Tanya Fadila kala menyadari apa yang di lakukan sang suami.
"Sst, Mas cuma mau buktikan sama kamu. Kalau cuma kamu seorang yang bisa membuat Mas tergoda dan bergetar hanya dengan tatapan mata saja." Arnan mengedipkan matanya.
Fadila menggigit bibir bawahnya malu mendengar ucapan suaminya. Membiarkan sang suami melakukan apa yang di inginkan.
Dan sentuhan Arnan itu mampu membuat Fadila tenang sepenuhnya dan merasa sangat di inginkan sang suami. Belum lagi Arnan yang kerap memujinya dengan kata-kata manisnya.
.......
Pagi ini Anan sudah siap dengan koper kecilnya yang di geret sendiri oleh bocah itu. Anan mendekati kamar orang tuanya dan mengetuk pintu.
"Mami! Daddy! Ayo kita pelgi naik pesawat," ucapnya.
"Kita kebawah dulu saja, Tuan Muda Kecil. Mungkin Mami sama Daddy belum bangun," kata seorang pelayan yang sejak tadi bersama Anan.
__ADS_1
"Gak mau, Bi. Aku mau belangkat sekalang naik pesawatnya. Daddy sudah janji mau pelgi naik pesawat ke pantai."
Anan kembali menggedor pintu besar di depannya sembari berteriak kembali.
"Mami! Daddy! Bangun, bangun, bangun!"
Pintu terbuka dan menampakkan Arnan yang juga menyeret koper di tangannya.
"Ya ampun, jagoan Daddy. Kenapa teriak-teriak, Nak?" Tanya pria itu menutup pintu.
"Kata Daddy hali ini kita mau pelgi, tapi Daddy sama Mami belum bangun." Cemberut Anan dengan bersedekap sambil menatap Arnan.
"Daddy sama Mami sudah bangun sejak tadi kok, Nak. Tadi masih masukin pakaian ke dalam koper," ucap Arnan yang mensejajarkan tingginya dengan Anan.
"Mami, mana?" Tanya bocah itu yang tidak mendapati maminya.
"Mami, disini."
Fadila keluar kamarnya lalu menutup pintu di belakangnya.
"Wah, anak Mami sudah siap rupanya. Siapa yang beresin pakaiannya, Nak?" Tanyanya.
"Tadi Bibi yang aku minta bantuin," ucap Anan sembari memeluk kaki maminya.
"Terimakasih ya, Bi."
Fadila tersenyum pada wanita paruh baya yang sejak tadi berdiri di hadapan mereka.
"Sama-sama, Nyonya Muda. Sudah tugas saya memvantu di rumah ini, melayani keluarga Tuan Muda tanpa terkecuali," ucap wanita itu tersenyum.
Fadila mengangguk lalu menunduk menatap anaknya yang kini memegangi tangannya.
"Ayo kita pelgi sekalang, Mami." Ajaknya sudah tidak sabar.
"Baiklah, Boy. Tapi bawa sendiri kopernya, ya?" Arnan menunjuk koper kecil milik Anan yang ada di dekat kakinya.
"Kenapa halus bawa sendili, Dadsy?" Tanya Anan menatap pria tinggi itu.
"Mulai hari ini, Anan harus belajar bertanggung jawab atas diri sendiri. Mandi dan berpakaian sendiri, membawa barang milik sendiri dan melakukan segalanya sendiri selagi bisa. Karena laki-laki kuat dan hebat itu harus bisa melakukan segala sendiri," ucap Arnan dengan wajah yakin.
Anan yang mendengar ucapan daddy nya jadi merasa semangat.
"Siap, Daddy. Aku sudah besal jadi bisa bawa sendili tasnya."
Bocah itu menarik koper miliknya lalu mendekati Fadila lagi dan berjalan bergandengan dengan sang mami.
__ADS_1
Arnan sendiri di sisi lainnya dan ikut menggandeng Fadila pula.
"Semoga gak ada pelakor lagi," ucap bibi pelayan tulus sembari menatap keluarga majikannya.