PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 57.


__ADS_3

Setelah puas menikmati es krim sembari bercanda. Mood Fadila sudah kembali membaik dan kini mereka sedang berjalan menuju kamar karena hari sudah semakin sore.


"Daddy, aku mau mandi sambil belenang," pinta Anan.


"Besok saja berenangnya ya, sayang. Ini sudah sore, gak baik untuk anak-anak berenang," ucap Fadila membujuk anaknya.


"Pengen belenang, Mi. Sudah lama ndak belenang," rengek Anan sembari memegangi tangan kanan Fadila dengan kedua tangannya yang sebelumnya satu tangan memegangi tangan Arnan.


"Besok ya, Nak." Fadila masih membujuk anaknya agar membatalkan keinginannya.


"Ndak mau besok, maunya sekalang. Sebental saja, Mi."


Fadila melirik Arnan yang masih diam melihat ibu dan anak itu berbicara. "Gimana, Dad?" Tanyanya meminta pendapat sang suami.


Arnan tidak langsung menjawab, melainkan melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Kalau Anan mau 1 jam saja kita berenangnya, ya?" Arnan menatap Anan yang juga menatapnya.


"Iya," sahut Anan senang.


"Baiklah, sekarang kita siap-siap dulu ganti baju." Arnan mengangkat tubuh Anan dengan kedua lengan kokohnya.


Tubuh gembul Anan di angkat tinggi hingga melewati tubuh Arnan sendiri. Tentu saja hal itu membuat Anan berteriak bahagia sembari tertawa.


Fadila hanya tersenyum melihat kedekatan suami dengan anaknya. Meski bukan anak kandung, Anan mendapatkan kasih sayang penuh dari Arnan layaknya anak kandung.


Mereka masuk ke dalam lift yang baru terbuka bersamaan dengan seorang pria yang berjalan cepat keluar dari ruangan kotak itu. Fadila yang berada di belakang tubuh Arnan ikut masuk dan berdiri di samping Arnan.


Febri adalah orang yang baru saja keluar dari lift bersamaan dengan Fadila dan Arnan yang masuk ke dalam. Karena terburu-buru hendak mencari keberadaan mantan istrinya.


Membuat Febri tidak terlalu memperhatikan sekitarnya. Padahal orang yang di carinya ada di depan lift. Hanya saja karena terhalang tubuh besar Arnan dan Anan yang sedang bercanda.


Tubuh Fadila tidak terlihat oleh Febri yang lebih fokus hendak menuju pantai tempat tadi ia bertemu Fadila. Berharap Fadila masih ada di sekitar pantai dan ia bisa bertemu.


Sampai di pantai yang semakin ramai karena hari semakin sore. Febri mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Berharap bisa melihat Fadila.


Meski masih ngos-ngosan akibat berlari tadi, tidak menyurutkan niat Febri untuk mencari Fadila. Pria itu berjalan sepanjang pantai dengan pandangan yang terus memburu orang yang di carinya.

__ADS_1


Namun tak juga di temukannya hingga 1 jam lamanya ia mencari di sekitar pantai. Hingga tempat ayunan yang tadi ia bertemu Fadila pun tidak ada.


"Kemana kamu, Fa? Kemana aku harus mencari kamu?" Gumam Febri masih melihat segala arah tapi tidak melihat keberadaan Fadila juga.


Febri melihat ke arah ayunan di mana tadi sang anak di temukan bersama Fadila dan seorang anak lainnya.


Meski tidak melihat jelas wajah bocah yang di gendong Fadila. Tapi Febri sangat penasaran dengan bocah itu.


"Siapa anak itu? Apa Fadila mengadopsi anak? Atau anak dari sepupu teman-trmannya? Akh ... Kemana kamu Fadila? Aku harus bicara sesuatu dengan kamu."


Febri merasa frustasi sendiri di tempat itu karena yang di cari tidak di temukan. Sia-sia rasanya ia mengurung ibu dan istrinya agar bisa mencari Fadila kalau hasilnya jonk begini.


Akhirnya pria itu memutuskan untuk kembali ke hotel saja. Ia lelah hati dan pikiran karena terus memikirkan mantan istrinya yang muncul kembali setelah hilang sekian lamanya.


Sedangkan yang di cari-cari oleh Febri sedang menikmati waktu sore bersama keluarga kecilnya di kolam renang.


Fadila memakai baju renang yang cukup tertutup demi menemani anak berenang. Anan ingin kedua orang tuanya ikut berenang bersamanya agar lebih menyenangkan.


"Coba berenang ke arah Mami di sana," ucap Arnan pada anaknya sembari menunjuk Fadila yang ada di pinggir kolam.


Jarak antara Arnan dan Fadila hanya 25 meter saja. Arnan dan Fadila ingin sekalian mengajari putra mereka berenang. Itu sebabnya Anan sudah di pakaikan pelampung di kedua lengannya.


"Pasti bisa Boy, cobalah. Kamu gak akan tenggelam karena sudah pakai ini." Arnan menyentuh pelampung berwarna kuning yang tadi di sewanya untuk Anan pakai.


"Gerakkan kedua tangan dan kaki kamu supaya bisa mendekat ke Mami. Jangan takut apa lagi ragu, lakukan semampu kamu dan yakin kalau kamu pasti bisa," ucap Arnan lagi memberi semangat dan dorongan pada anaknya.


"Sini sayang peluk Mami di sini." Fadila memanggil anaknya untuk memberi semangat pula.


"Tuh! Mami sudah panggil kamu, ayo semangat." Arnan mengelus kepala Anan untuk lebih meyakinkan.


"Mau peluk Mami," ujar Anan semangat lalu menggerakkan kedua tangan dan kakinya.


Membawa tubuhnya mendekati sang mami yang sudah merentangkan kedua tangannya. Bersiap menyambut kedatangan Anan.


Karena ini pertama kalinya Anan bermain di kolam renang. Maka bocah itu berenang dengan gaya yang tak beraturan. Yang penting tubuhnya bisa maju mendekati Fadila.


Biasanya Anan akan bermain air di pantai bersama tunangan mama dan buna nya.

__ADS_1


Arnan dan Fadila menahan tawa mereka kala melihat gaya berenang Anan yang tidak menentu. Bahkan gaya berenang katak saja kalah dengam bocah itu. Karena Anan lebih terlihat seperti bocah yang sedang berusaha menyelamatkan diri agar tidak tenggelam.


"Semangat semangat semangat," ucap Fadila sembari tersenyum menatap Anan yang semakin dekat.


Arnan berjalan di belakang bocah itu untuk mengikuti. Siap sedia jika tiba-tiba ada kejadian tidak di inginkan.


Sampai akhirnya Anan tiba di hadapan Fadila dan langsung meraih kedua tangan maminya. Anan menggunakan kedua tangan Fadila untuk membawanya ke pelukan sang mami.


"Yey ... Anan hebat ..." sorak Fadila tersenyum lebar sembari memeluk tubuh anaknya.


"Aku bisa, Mi. Aku bisa," ucap Anan senang.


"Iya, jagoan Mami bisa berenang," kata Fadila pula lalu mengecup kedua pipi Anan dengan sayang.


"Wah ... Hebatnya jagoan, Daddy. Sudah bisa berenang sendiri," ujar Arnan yang membuat Anan langsung menoleh kebelakang.


"Aku bisa, Daddy." Bocah itu tersenyum lebar menatap daddy nya.


Arnan mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Anan lembut. "Kamu mau hadiah apa dari Daddy, Nak?" Tanyanya memberi penawaran.


"Mau naik pesawat lagi, Daddy." Arnan tersenyum mendengar permintaan anaknya.


"Kalau itu nanti, Nak. 3 hari lagi kalau kita pulang ke rumah baru naik pesawat lagi," ucap Arnan yang membuat Anan seperti berpikir.


"Kenapa gitu, Dad? Ndak bisa kapau sekalang saja?" Tanya Anan.


"Bukan gak bisa, tapi pesawatnya masih terbang bawa orang lain. 3 hari lagi baru kita bisa naik ke sana."


"Bawa olang kemana, Dad? Apa meleka mau ke pantai juga?"


"Iya, jadi sekarang kita kembali ke kamar dulu, ganti baju trus cari makan. Nanti Daddy beli kan ayam goreng yang besar untuk jagoan Daddy yang hebat ini." Arnan menyentuh ujung hidung Anan dengan jari telunjuknya.


"Ayam goleng besal? Mau Daddy, mau." Antusias Anan sembari melonjak bahagia.


Fadila sedikit kualahan di buatnya yang tidak bisa diam setelah mendengar tawaran daddy nya.


"Kalau gitu kita ganti baju dulu." Arnan mengambil alih tubuh Anan karena melihat istrinya yang kesulitan menatap tubuh gembul Anan.

__ADS_1


Setelah Anan berpindah gendongan, Fadila lebih dulu di minta naik ke atas oleh Arnan. Baru setelahnya ia dan Anan di gendongannya yang naik.


Mereka memakai handuk mandi dan segera keluar dari kolam renang yang ada di dalam ruangan itu. Karena kamar mereka dengan lantai kolam renang hanya beda satu lantai saja.


__ADS_2