PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 43.


__ADS_3

Fadila dan Arnan berdiri menyalami para tamu undangan yang akan berpamitan pulang. Hingga tiba-tiba pandangan Fadila terarah pada seseorang yang sedang menatapnya juga.


Alis kanan Fadila terangkat melihat kehadiran sang mantan suami. Di gendongan pria itu ada seorang anak laki-laki yang kemungkinan seumuran dengan Anan.


Belum lagi istri dari pria itu yang juga turut serta hadir di sana. Febri bersama anak dan istrinya naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat.


Fadila hanya diam saja ketika keluarga mantannya menyalami. Tidak ada perasaan apapun yang di rasakan Fadila saat ini.


"Selamat untuk pernikahannya, Tuan Arnan." Febri menyalami Arnan.


"Terimakasih," sahut Arnan singkat.


Tentu saja dia tahu siapa pria yang sedang menyalaminya ini. Karena Arnan memang sudah mencaritahu tentang masa lalu Fadila seluruhnya.


Febri berpindah ke hadapan Fadila yang sama sekali tidak menatapnya. Bahkan saat Febri mengulurkan tangan hendak menyalami. Wanita di depannya malah hampir terjatuh ke arah sang suami.


Fadila selalu mengawasi gerak-gerik istri mantan suaminya yang jelalatan itu. Baby sejak tadi terus menatap suaminya penuh minat dan rasa kagum yang membuat Fadila tidak suka.


Itu sebabnya pandangan Fadila hanya mengawasi wanita itu saja. Dan saat Baby akan menyalami Arnan. Fadila segera melakukan sesuatu agar suaminya tidak di sentuh Baby.


"Aduh, Mas." Fadila pura-pura terjatuh ke arah Arnan.


Dengan sigap pria itu menangkap tubuh istrinya dan tak jadi menyambut uluran tangan Baby.


"Kamu baik-baik saja, sayang?" Tanya Arnan khawatir.


"Maaf, Mas." Manja Fadila memeluk suaminya.


"Gak masalah sayang, atau kita duduk saja menyalami tamunya? Kamu sepertinya kelelahan." Arnan mengusap lengan Fadila lembut.


"Jangan, Mas. Tamunya masih banyak loh," ucap Fadila.


"Baiklah, kalau kamu sudah gak sanggup berdiri lagi, bilang sama Mas." Fadila mengangguk dengan senyum manjanya yang membuat Arnan gemas.


"Gemesin banget sih, istriku." Pria itu mencubit pelan dagu Fadila.


"Jangan gitu, Mas. Malu, masih ada tamu di sini." Fadila melirik Febri dan Baby yang berdiri di hadapan mereka.


"Ah, maaf. Kebiasan memanjakan istri, saya jadi lupa tempat." Febri tersenyum kaku pada Arnan.


"Tidak masalah, Tuan Arnan. Kalau begitu kami permisi," ucap Febri di angguki Arnan.


Sedangkan Fadila hanya diam saja memeluk suaminya yang masih memeluk pinggangnya erat. Pasangan itu kompak pamer kemesraan di depan Febri dan Baby.

__ADS_1


Bukan bermaksud apa-apa Fadila melakukan itu. Ia hanya ingin menunjukkan pada Febri, kalau dia bisa bahagia tanpa pria itu. Dan masih bisa mendapatkan pasangan yang terbaik untuknya dan sangat pengertian padanya.


Sedangkan untuk Baby, Fadila hanya ingin wanita yang sudah merebut suaminya dulu itu tahu. Bahwa sampah yang di pungutnya tidak berarti apa-apa bagi Fadila.


Jangan harap bisa mengganggu rumah tanggaku lagi, batin Fadila menatap sinis punggung Baby yang menjauh.


Arnan maish saja memeluk pingganh istrinya mesra. Ia tentu saja tahu kalau istrinya hanya berpura-pura terjatuh tadi. Namun Arnan sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Boleh Mas tahu alasan kamu pura-pura jatuh?"


Kedua mata Fadila melotot menatap suaminya tak percaya. "Mas, tahu aku pura-pura?" Tanyanya.


"Tahu," jawab Arnan santai.


"Maaf, Mas. Aku gak bermaksud apa-apa kok, cuma gak mau kamu di sentuh wanita tadi saja."


Senyum cerah Arnan terpancar di wajahnya mendengar ucapan istrinya.


"Benarkah? Memangnya kenapa kalau Mas di sentuh dia?" Pancing Arnan ingin istrinya mengatakan tentang kedua orang tadi.


"Ehm ... Nanti saja kita bicarakan lagi, Mas. Ada yang naik lagi," bisik Fadila kala matanya melihat ada tamu lain yang naik.


"Baiklah, tapi ada bonusnya," bisik Arnan pula.


Di salah satu meja, Dwi dan Sinta terus memantau pergerakan Febri dan Baby sejak tadi. Keduanya begitu ingin melihat ekspresi Febri saat mengetahui pernikahan mantan istrinya.


"Lihat wajah, Dwi! Kaget banget dia, pasti gak sangka kalau pengantin wanitanya itu mantannya." Heboh Sinta.


"Untung-untung spot jantung dia," ucap Dwi.


"Hus, doa kamu itu. Jangan sembarangan doa in hal buruk sama orang. Kalau bisa kita doa kan dia cepat selesai saja," kata Sinta pula.


"Lebih sadis, Bu doanya." Kekeh Dwi.


"Biarin, supaya gak menyusahkan pandangan mata. Menyemak saja dia di pandangan kita," ujar Sinta.


"Sabar, kita pantau saja. Kalau macam-macam baru kita pancung dia." Sinta mengacungkan jempol ke arah Dwi.


Untung saat ini Devan dan Robert sedang ke toilet. Devan mengantarkan Anan, sedangkan Robert menyusul karena kebutuhan.


Febri turun dari pelaminan dengan perasaan yang tidak dapat di katakan lagi. Kedatangannya tadi dengan harapan bisa menjalin kerja sama dengan salah satu pengusaha terbaik yang hadir.


Apa lagi menurut berita yang di dengarnya, pengantin wanitanya adalah keluarga dari dua pengusaha hebat. Belum lagi pihak keluarga pria yang memang pengusaha hebat.

__ADS_1


Namun apa yang harus di kata kalau ternyata pengantin wanitanya adalah mantan istrinya. Wanita yang di ceraikan hanya karena emosi dan nafsu sesaatnya saja.


Apa lagi pesta yang di adakan sangat mewah dan berkelas. Bahkan pernikahan Febri saja tidak semewah ini.


"Mas! Aku kok sepertinya kenal dengan pengantin wanitanya ya?" Baby yang tidak memeperhatikan pengantin wanitanya bertanya.


Ia baru memperhatikan saat pengantin wanitanya bermanja dengan pengantin pria.


"Dia Fadila," sahut Febri dengan suara yang di buat sebiasa mungkin.


Karena saat ini ia sedang menggendong anaknya.


"Fadila? Maksud kamu, Fadila mantan istri kamu itu, Mas?" Kaget Baby tak percaya.


Febri hanya berdehem saja menjawab pertanyaan istrinya. Hatinya sangat kalut melihat mantan istrinya yang sudah lama menghilang kini muncul di pelaminan.


Selain cantik, Fadila juga terlihat sangat mempesona dan luar biasa menggunakan gaun pengantin. Ada rasa sesal di hatinya, kenapa dulu menceraikan Fadila dan tidak pernah bersikap baik.


Sesampainya di rumah, Febri menyerahkan anaknya yang sudah tidur pada pengasuhnya.


"Ma! Apa Mama tahu siapa pengantin wanitanya?" Baby melapor pada mertuanya yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Siapa? Bukannya dia keluarga dari pengusaha kaya itu? Bahkan salah satu keluarganya adalah Jendral yang juga seorang pengusaha," kata bu Rita.


"Dia itu Fadila, Ma. Mantan istrinya Mas Febri, Ma."


Ibu Rita berdiri dari duduknya dengan sangat kagetnya. "Apa? Fadila mantan istrinya Febri? Bagaimana bisa?"


"Ya gak tahu, Ma."


Baby sungguh iri dengan nasib Fadila yang bisa mendapatkan orang terkaya di negeri mereka. Bahkan Baby sangat tahu bagaimana berpengaruhnya keluarga Simon di antara para pengusaha.


"Dia beneran mantan istri kamu, Feb?" Tanya ibu Rita untuk lebih meyakinkan dirinya.


Febri berdehem menyahuti ucapan mamanya, ia sudah sangat malas membahas hal yang membuatnya selalu merasa menyesal.


"Kamu kenapa sih, Mas? Sejak tadi ku tanya tentang wanita itu, kamu selalu acuh menjawabnya. Apa kamu masih ada rasa sama dia?" Baby cukup kesal dengan sikap suaminya.


"Diam atau semua fasilitasmu ku cabut," ancam Febri yang membuat Baby shok.


Pria itu berjalan naik ke kamarnya karena malas berdebat dengan ibu ataupun istrinya.


"Ck, awas kalau kamu macam-macam, Mas." Baby melangkah mengikuti Febri.

__ADS_1


Sedangkan bu Rita masih diam karena tak percaya mantan menantunya begitu mujur.


__ADS_2