PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 39.


__ADS_3

Malam ini Anan akan tidur sendirian di kamar sebelah. Kamar yang memang sudah di siapkan untuk jagoan kecil Fadila itu. Tadi saat selesai makan malam, Arnan menunjukkan kamar itu.


Anan langsung menyukainya karena begitu banyak mainan yang ada di kamar tersebut. Arnan sengaja menunjukkan kamar itu memang dengan harapan agar Anan mau tidur sendirian. Jadi ia bisa berduaan dan mesra-nesraan dengan Fadila.


Saat ini Anan berbaring di kasur bersama Fadila yang duduk di sampingnya menemani hanya sampai anak itu tidur saja.


"Anan, Mami boleh tahu gak! Apa saja yang sudah di ceritakan Mama dan Buna sama kamu selama ini?" Tanya Fadila penasaran.


Ia hanya ingin tahu, sejauh mana kedua sahabatnya itu membongkar semua kenakalannya pada anaknya ini.


Anan melihat Maminya, tangannya yang tadi memegang mainan pesawat di turunkan.


"Banyak, Mi. Mama pelnah bilang kalau Mami pelnah pukul pelempuan yang hina, Mami." Fadila menatap anaknya dengan senyum tipisnya. "Lalu apa lagi, Nak?" Tanyanya lembut, tapi dalam hati sudah panas.


"Mami, pelnah di bohongi ssama laki-laki dan ndak di kassih main sama Mama ssama Buna juga. Mami pelnah di malahin ssama nenek ssihil, tlus ada olang yang ssudah ambil passangan Mami."


Semakin kesallah hati Fadila mendengar ucapan polos anaknya. Itu sama saja Dwi dan Sinta memberitahu anaknya tentang masa lalunya dengan ayah kandung Anan sendiri.


"Mami! Aku bakalan jagain Mami ssama Daddy, supaya ndak di ambil olang lagi. Tlus supaya ndak ada nenek ssihil yang belani malahi Mami lagi." Anan tersenyum manis pada Fadila.


Wanita itu membalas senyuman anaknya sembari mengecup kening Anan. " Anak Mami sudah semakin pintar. Bahkan sudah semakin besar juga," ucapnya bahagia mengecup kembali kening Anan.


"Kata Buna, aku halus pintel Mi, ssupaya daddy ndak pelgi. Kalena kata Buna, Daddy pelgi kalena mau cali anak yang pintel. Mama pelnah bilang juga kalau daddy balu mau cama aku kalau aku jadi anak yang baik," kata Anan.


Kedua alis Fadila menyatu dengan pikiran yang belum nyambung dengan maksud anaknya. "Maksud kamu gimana sih, Nak? Mami, kok belum paham ya."


"Dulu Mama ssama Buna ssudah pelnah kenalin aku ke daddy, Mi. Mama ssama Buna juga bilang kalau daddy itu, daddy nya aku. Jadi kalau ketemu sama daddy lagi balengan ssama Mami, aku halus nangis. Ssupaya daddy ndak pelgi dan mau gendong aku. Kata Buna kalau daddy mau gendong aku lagi nangis sampai diem, itu altinya dia daddy aku, Mi."


Fadila merasa pusing mendengar ucapan anaknya yang ini. Wanita itu mulai memahami semua hal tak masuk akal yang terjadi beberapa bulan terakhir ini. Fadila merasa, keanehan yang terjadi pada anaknya saat bertemu Arnan sudah terjawab.


"Jadi kamu memang sudah kenal sama Daddy dari awal? Waktu daddy ke kantor Mami, kamu nangis dan mau sama daddy, itu karena sudah saling kenal, begitu?" Fadila menyimpulkan sesuai pikirannya.


"Iya, Mi. Aku pengen di peluk daddy, aku pengen ssepelti yang lainnya. Meleka punya daddy tapi aku ndak punya," kata Anan sedih.

__ADS_1


"Sekarang sudah punya Daddy, jadi bisa peluk Daddy sepuasnya." Fadila dan Anan menoleh bersamaan ke pintu yang terbuka.


"Daddy ..." girang Anan bangun seketika dari baringnya.


Melompat-lompat di kasur melihat kdarangan Arnan.


"Jangan lompat-lompat, Nak. Nanti sakit kakinya," ucap Arnan mendekati anaknya.


Arnan memeluk tubuh Anan lalu berbaring bersamaan.


Bruk.


Hahahaha ...


Keduanya tetawa bersama setelah jatuh bersamaan di kasur yang empuk. Tubuh mungil Anan berada di atas tubuh Arnan yang tak memakai baju. Hanya celana pendek saja yang menempel di tubuh pria itu.


"Daddy, kenapa ndak pakai baju?" Tanya Anan seraya mengusap dada Arnan yang bidang. "Gak kenapa-kenapa, pengen saja." Arnan mengecup kepala Anan yang sudah bersandar di dadanya.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Arnan. "Mau bobok sama Daddy," sahut Anan.


Arnan membantu anaknya membuka baju tidurnya. Lalu keduanya tidur bersama berpelukan dengan Anan yang tetap di atas tubuh Arnan.


Fadila hanya diam saja melihat apa yang di lakukan kedua pria beda usia itu. Arnan juga menepuk pelan bokong Anan sembari satu tangan mengusap tubuh Anan yang terbuka.


Tak butuh waktu lama bagi Anan untuk tertidur nyaman di dekapan hangat Daddy nya. Fadila yang mengira suaminya ikut tertidur bersama Anan segera beranjak.


Mematikan lampu utama dan mengganti dengan lampu tidur. Beranjak keluar dari kamar Anan menuju kamar utama.


Wanita itu ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi lalu keruang ganti untuk mengganti bajunya dengan baju tidur. Pikirannya masih pusing akibat ucapan Anan tadi. Sungguh ia merasa di permainkan oleh kedua temannya.


"Loh, Mas! Kamu sudah di sini?" Tanya Fadila saat mendapati suaminya sudah bersandar di kasur.


"Iya," sahut Arnan melihat istrinya yang baru keluar dari ruang ganti.

__ADS_1


"Anan, gak kebangun?" Tanya Fadila lagi sembari memakai beberapa keperluannya sebelum tidur. "Enggak," jawab Arnan.


Pria itu menatap istrinya penuh damba dan cinta. Betapa ia semakin mencintai istrinya ini dan begitu sangat bahagia hidup bersama. Apa lagi ada Anan yang menambah kebahagiaan sendiri baginya.


Walau Anan bukan anak kandungnya, tapi kartu kelahiran Anan terdapat namanya sebagai ayah. Sebelumnya kartu kelahiran Anan atas nama Riki dan istrinya. Semua itu di lakukan agar kartunya keluar.


Kini semuanya sudah selesai di ubah, hingga buku nikah merekapun sudah di dapatkan.


"Mas! Boleh aku tanya sesuatu?" Fadila duduk di kasur dan bersandar seperti suaminya. "Tanya apa?" Arnan masih setia menatap istrinya.


"Apa Mas pernah bertemu Anan sebelumnya? Maksudku, sebelum Mas datang ke kantorku untuk proyek terakhir itu."


Arnan berpikir mengingat saat-saat pertama kali datang ke perusahaan Fadila.


"Oh, itu. Iya, Mas memang sudah kenal Anan waktu itu. Mas kenal Anan dari Devan sama Robert. Tapi Anan waktu itu gak mau deket Mas, cuma lihatin saja. Dwi sama Sinta yang dekatkan Anan ke Mas, tapi karena Anan diem saja. Mas cuma bisa senyum sama dia, gak tahu kenapa waktu di perusahaan kamu, Anan mau sama Mas."


Fadila diam mendengarkan penjelasan suaminya. Kini semakin jelaslah siapa biang kerok dari semua ini. Kedekatannya dengan Arnan mungkin karena ulah kedua sahabatnya juga.


"Kapan Mas ketemu, Anan?" Tanya Fadila.


"Hm ... Waktu Mas mau kasih kerja sama terakhir sama, Dwi. Kami ketemu di restoran karena Devan juga ada di sana. Tapi waktu Mas mau kasihka berkasnya, Dwi nolak dan minta Mas kasih sama kamu langsung," jawab Arnan apa adanya.


"Jadilah Mas datang ke perusahaan keesokannya karena saat itu Mas sudah punya banyak kegiatan. Mas ngerasa gak asing sama Anan, yang tidur di gendongan kamu. Sampai akhirnya Mas yakin kalau itu memang bocah kecil yang pernah Mas temui sebelumnya."


Kedua tangan Fadila mengepal di depan wajahnya. Hatinya begitu gerah karena penjelasan suaminya. Bukan dia marah atau tak suka dengan sang suami.


Fadila hanya merasa kesal dengan kedua temannya yang merencanakan hal besar tanpa memberitahunya.


"Benar-benar ya, mereka berdua. Ternyata ini semua ulah kalian, awas kalian berdua," gumamnya dengan gigi gemeratuk kesal.


Arnan memeluk tubuh Fadila sembari mengecup leher wanita itu. Yang tadinya Fadila kesal dan merasa marah, kini luntur sudah karena sentuhan suaminya.


"Kita kasih Anan adik, yuk!" Ucapnya lirih yang membuat Fadila menegang seketika.

__ADS_1


Meski bukan pertama kalinya mereka melakukan itu. Tapi tetap saja ia selalu nerasa malu dan tegang.


__ADS_2