PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 41.


__ADS_3

Hari resepsi pernikahan Fadila dan Arnan akhirnya tiba. Pasangan muda itu sedang di rias di salah satu kamar hotel yang di gunakan untuk resepsi.


Arnan berdiri dengan pandangan yang tak lepas dari sang istri. Begitu cantik dan menawannya Fadila menggunakan gaun pengantin dan riasan yang sangat pas untuk wajah cantiknya.


"Ya ampun, gak sangak pengantinnya bisa secantik ini. Jadi seperti seorang putri kerajaan yang sangat anggun," puji si perias setelah Fadila siap.


Fadila menunduk malu mendapatkan pujian seperti itu. Belum lagi tatapan Arnan yang terus saja menatapnya, semakin membuat Fadila salah tingkah.


"Memang pengantinnya sudah cantik alami juga, Mbak. Jadi di tambah make up yang natural dan pas, gaun yang indah dan mahkota cocok. Nyatu semuanya dan terlihat luar biasa," ucap asisten perias.


"Iya, bener," sahut si perias.


Fadila hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan perias itu. Matanya menatap sang suami yang nampak begitu tamapn menggunakan jas yang senada dengan warna gaunnya.


"Mami! Daddy!" Pintu kamar terbuka dan masuklah Anan bersama kedua mertua Fadila.


"Ayo, Nak. Acaranya sudah mau di mulai, keluarga pak Vian dan pak Beni juga sudah menunggu," kata mama Marni.


"Iya, Ma." Singkat Arnan.


Mama marni yang menggendong Anan segera keluar begitu saja bersama bocah itu. Dan kembali bersama yang lain.


Arnan berjalan mendekati Fadila yang masih berdiri. Menatap suaminya yang begitu mempesona.


Mereka keluar bergiliran dari pintu kamar yang tidak memungkinkan untuk di lewati dua orang.


Setelah di luar kamar, barulah Arnan menekuk siku tangan kirinya untuk di gandeng Fadila. Tentu saja wanita itu tidak menolak dan menggandeng mesra suaminya.


Keduanya tersenyum manis dan melanjutkan langkah menuju aula yang tak jauh dari sana.


"Ikut Daddy, Nek! Ikut Daddy ssama Mami," ucap Anan yang sejak tadi sudah ingin bersama kedua orang tuanya.


"Anan, sama Kakek saja ya?" Bujuk ayah Beni yang baru pertama kali bertemu langsung dengan Anan.


Karena pekerjaannya yang seorang Jendral, pria itu tidak bisa sembarangan pergi. Jadi hanya bisa melihat Anan melalui telpon video saja. Kali ini ia begitu senang bisa melihat cucunya yang begitu lucu.

__ADS_1


"Ndak mau, Kek. Mau cama Mami, Daddy." Anan merengek dan meronta di gendongan ayah Beni.


"Baiklah, baiklah, tenang ya, Nak. Nanti kalau Daddy sama Mami sudah di sini baru ikut," kata ibu Kiki.


Anan akhirnya tenang setelah di bujuk istri ayah Beni, ibunya Dwi.


Setelah pengantinnya tiba di pintu utama aula, Anan segera minta pindah. Arnan yang melihat anaknya ingin bersama segera menyambutnya.


Kini Anan berada di gendongan tangan kanan Arnan. Sedangkan Fadila masih menggandeng tangan kiri Arnan.


"Jagoan Mami, ganteng banget sih, Nak." Fadila tersenyum dan menyentuh pipi Anan.


"Bajunya ssama, Mami. Daddy, juga ssama bajunya sepelti kita. Yang lain juga ssama walnanya," oceh Anan senang saat mereka semua memakai pakaian dengan warna yang sama.


"Iya, kita semua pakai warna baju yang sama. Keponakan Tante yang gemesin, gantengg ... Banget, sih." Siska yang hendak mencibut pipi Anan.


Tapi suara seorang pihak WO yang mengintrupsi menghentikan gerakan tangan wanita hamil itu. Siska mendengus kesal karena tidak jadi mencubit pipi gembul Anan.


"Mohon bersiap, Tuan, Nyonya dan yang lainnya juga," ucap si petugas.


Fadila dan Arnan berdiri tepat di depan pintu bersama pangeran kecil mereka yang tidak mungkin di tinggalkan.


Pintu aula terbuka lebar dan menampakkan suasana pesta yang ramai dan mewah.


Pasnagan penganti itu berjalan memasuki aula. Pandangan kagum dan juga heran dengan keberadaan anan.


Bisik-bisik mengenai siapa anak yang di gendong pengantin pria mulai terdengar. Bahkan ada yang mengatakan jika Anan kemungkinan anak haram.


Fadila mendengar beberapa bisikan mengenai anaknya merasa kesal. Namun sang suami berhasil membuatnya tenang dengan senyuman menawannya itu.


"Jangan perdulikan mereka," bisik Arnan pelan.


Fadila tersenyum manis pada suaminya dan juga anaknya yang menatap dirinya. Mereka berjalan menuju pelaminan tanpa perduli dengan omongan orang lain.


Sesampainya di pelaminan, Anan tetap di gendongan Arnan. Meski sang fotografer meminta agar Anan di geser, Arnan tak mengijinkan anaknya di bawa.

__ADS_1


Mereka bertiga foto bersama dan duduk di pelaminan bersama pula. Arnan beranggapan kalau Anan anaknya sendiri. Itu sebabnya setiap foto dirinya dan Fadila, Anan juga harus ada di sana.


Arnan berdiri dari duduknya, hingga Fadila yang sedang duduk melihat apa yang di lakukan suaminya.


"Mohon perhatian sebentar!" Ucap Arnan yang langsung mendapatkan perhatian dari semua tamu undangan.


"Terimakasih sudah datang di acara resepsi pernikahan saya dengan istri. Di sini saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal mengenai gosip yang kalian ucapkan tadi."


Para tamu undangan yang tadi menggosipi Anan saling pandang merasa malu karena ketahuan.


"Saya ingin mengatakan, pernikahan saya dengan istri awalnya pernikahan secara agama. Dan itu terjadi di luar negeri, tapi pernikahan itu terjadi bukan karena hamil duluan dan sebagainya. Apa lagi karena adanya anak haram, itu sama sekali tidak benar."


Arnan menatap semua tamu yang ada di sana dengan pandangan tajam. Terutama untuk kamu wanita sosialita yang tidak bisa menjaga mulutnya.


"Saya dan istri menikah karena saling cinta, bahkan saking cintanya saya. Pernikahan kami terjadi begitu cepat dan dadakan, karena saya tidak mau kehilangan wanita yang menjadi incaran banyak pria di luar sana. Dan untuk putra kami, dia bukan anak haram atau anak pungut."


Arnan menekan suaranya pada kalimat terakhir. Begitu geram dengan cibiran para wanita tadi.


"putra kami sangat spesial dan luar biasa, dia begitu cerdas hingga mungkin akan mengerti kalau saya mengatakan siapa dia sebenarnya. Jadi saya hanya akan menekankan pada siapapun kalian? Siapapun? Jangan pernah ada kata anak haram atau anak pungut. Karena dia adalah putra saya, Arnan Affandi Simon. Dan putra nama putra saya adalah, Ananda Syahputra Affandi. Dan untuk nama istri saya, kalian tidak perlu tahu. Karena saya tidak mau ada yang mencari-cari tahu masa lalunya nanti."


"Mungkin sekian dari saya, silahkan menikmati hidangannya tanpa bumbu gosip."


Arnan memberi sindiran halus pada para wanita sosialita yang semakin malu saja.


Fadila menatap penuh haru suaminya, air mata kebahagiaannya bahkan tak bisa di tahan. Suaminya begitu melindungi dia dan juga anaknya.


"Mas! Kenapa kamu lakukan itu? Kalau sampai mereka pulang, gimana?" Fadila bertanya karena merasa tak enak hati juga dengan semua orang.


Padahal dia dan anaknya yang di jadikan sasaean gosip miring. Tapi ia pula yang merasa tak enak hati setelah mendapatkan pembelaan dari suaminya.


"Gak masalah, karena mereka gak akan ada yang berani melakukan itu," sahut Arnan santai sembari mengangkat tubuh Anan ke pangkuannya.


"Kenapa gitu, Mas?" Heran Fadila.


"Karena mereka akan lebih memilih diam dan pura-pura tidak melakukan kesalahan apapun. Apa lagi di sini ada orang-orang berpengaruh di dunia bisnis. Di tambah lagi adanya Jendral Beni, siapa yang berani?" Arnan terkekeh kecil.

__ADS_1


Fadila mengangguk paham, sebagai seorang pengusaha juga, koneksi sangat di butuhkan. Keluarga suaminya adalah pebisnis handal. Belum lagi Arnan sendiri.


Ada pula keluarga papa Vian dan keluarga ayah Beni. Semakin besarlah peluang orang-orang yang ingin memajukan bisnisnya untuk mendekati orang-orang berpengaruh itu.


__ADS_2