
"Heh mandul, jangan banyak alesan ya kamu. Kalau kamu gak culik anakku, kenapa dia bisa ada di sini sama kamu hah? Pura-pura ajak anak aku main, padahal aslinya kamu penculik," bentak Baby yang tidak mau Faidla lepas begitu saja.
Baby akan melakukan segala cara agar Fadila di penjara. Sama seperti dirinya dulu yang sempat masuk penjara meski hanya 3 hari karena kasus perselingkuhan.
Untung papanya bisa membebaskan dirinya dan Febri dengan jaminan. Kalau saja papanya tidak menjamin dan mengeluarkannya, bisa di pastikan Baby dan Febri mendekam di penjara lebih lama dari 3 hari.
"Terserah apa katamu, yang pasti aku bukan penculik. Dan untuk kenapa anakmu bisa ada di sini? Tanya dirimu sendiri. Kemana kamu hingga anakmu bisa ada di sini? Bagaimana caramu menjaganya sampai anakmu bisa lepas dari pandanganmu? Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri."
Baby terdiam mendengar ucapan Fadila yang terdengar sederhana namun terasa menusuk. Belum lagi Febri yang menatap tajam Baby yang kini nampak salah tingkah.
"Jangan sok menceramahi orang lain ya kamu. Aku tahu maksud kamu melakukan penculikan terhadap cucuku. Kamu ingin kembali pada anakku yang sekarang sudah sukses kan? Kamu menyesal karena dulu sudah menceraikan anakku. Itu sebabnya kamu menculik cucuku untuk jaminan agar kamu kembali pada anakku kan?" Ibu Rita bersuara untuk membela Baby.
"Siapa yang ingin kembali pada anakmu?" Tanya Arnan yang sudah tiba di sana entah sejak kapan.
Fadila tersenyum manis melihat suaminya yang sudah ada di belakang tubuhnya. Anan bahkan langsung berpindah ke gendongan daddy nya karena takut melihat orang-orang di depannya yang sejak tadi marah-marah.
"Daddy, olang itu dali tadi malahin Mami," ucap Anan mengadu sembari menyembunyikan wajahnya di dada Arnan.
Bocah itu juga sesekali mengintip ke arah dua orang yang menurutnya jahat.
"Oh, jadi ini sugar daddy kamu! Hebat ya kamu sekarang. Cari pria kaya untuk bisa bertahan hidup, modus deketin anaknya padahal mau duit bapaknya. Syukur anakku sudah berpisah denganmu, dasar perempuan murahan!" Hina ibu Rita tanpa berpikir terlebih dahulu.
Senyum manis Fadila pudar seketika mendengar hinaan ibu Rita. Arnan yang hendak bersuara di tahannya karena dia sendiri yang akan melawan.
__ADS_1
"Kalau aku Anda sebut perempuan murahan, lalu apa sebutan yang cocok untuk menantu Anda, Nyonya Rita? Seorang ****** atau pelakor? Hamil di luar nikah dengan pria lain namun menjadikan suamiku dulu sebagai orang yang bertanggung jawab. Dan apa pula panggilan yang cocok untuk Anda sendiri? Seorang ibu yang sudah membawa perempuan lain dalam rumah tangga anaknya sendiri. Menghadirkan orang ketiga hanya dengan alasan keturunan. Menghancurkan rumah tangga anak Anda sendiri setelah berulang kali menyakiti menantu sebelumnya."
Fadila tersenyum sinis pada ibu Rita dan juga Baby yang semakin salah tingkah. Apa lagi di sana banyak orang yang menonton keributan mereka. Dan ada pula yang merekam keributan itu, karena kebiasaan netizen mencari sensasi dan segala hal bisa jadi konten.
"Apa Anda gak kasihan dengan anak sendiri, Nyonya Rita? Anak yang selama ini Anda banggakan harga dirinya sudah di injak oleh orang yang Anda bawa sendiri. Menginjak dengan cara membesarkan anak orang lain yang sebelumnya Anda banggakan sebagai cucu sendiri. Ah, ku rasa Anda gak akan pernah merasa kasihan dengan anak sendiri. Karena bagi Anda yang terpenting itu adalah uang uang uang dan uang. Selamat menikmati uang hasil menggadaikan kebahagiaan anakmu. Semoga kalian bahagia selalu."
Fadila menggandeng suaminya dengan manja dan berlalu dari sana. Hatinya sedikit lega karena sudah berhasil membungkam mantan ibu mertuanya yang dulu selalu menyakiti hati dan batinnya.
Meski tidak dapat di pungkiri kalau ada rasa bersalah juga di hati Fadila karena sudah membawa-bawa anak kecil tidak berdosa dalam pembahasannya tadi. Mungkin saat ini Beni belum paham. Tapi dia pasti akan bertanya pada kedua orang tuanya maksdu ucapannya tadi.
Itupun kalau memang di tanya kalau tidak ya sudah.
Yang penting Fadila sudah puas bisa mempermalukan Rita dam Baby yang sejak tadi mempermalukannya dan memfitnahnya.
Setelah mengatakan itu, barulah keluarga kecil itu benar-benar beranjak pergi dari sana.
Orang-orang yang tadi menonton keributan itu juga ikutan pergi. Namun sembari pergi, mereka juga berbisik-bisik tentang keluarga Febri yang sungguh memalukan.
Febri yang kesal pada ibu dan istrinya yang terlalu sembormo dalam berucap memilih untuk pergi. Febri juga sangat kesal pada Fadila yang sudah berani menghina keluarganya di tempat umum seperti ini.
Tapi mau marah juga tidak mungkin, karena itu hanya akan semakin menyudutkan ia dan keluarganya saja.
"Mas, tunggu!" Baby yang melihat kepergian suami serta anaknya segera menyusul dari pada harus menanggung malu tetap berada di sana.
__ADS_1
Rita juga ikut menyusul anak serta menantunya yang berjalan kembali ke hotel. Ia sungguh tidak punya muka saat ini karena mendapat banyak cibiran dari orang-orang.
Sesampainya di hotel, Febri menidurkan anaknya yang memang sudah tertidur sejak keributan tadi. Karena kelelahan bermain dan berjalan sendiri sejak tadi membuat Beni segera tidur begitu mendapatkan usapan lembut di kepalanya dari sang papa.
"Minta ibu untuk bersiap, kita akan pulang malam ini juga," ucap Febri berjalan menuju kamar mandi.
"Apa maksud kamu, Mas? Kita baru saja tiba semalam dan malam ini sudah harus pulang? Yang benar saja dong, Mas." Baby protes tidak terima.
Febri menghentikan langkahnya sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi.
"Kalau begitu panggil ibu ke sini." Pria itu masuk dan menutup pintu pelan. Tidak mungkin ia menutup pintu dengan keras karena Beni sedang tidur.
Baby menghentakkan kedua kakinya kesal dan segera meraih ponselnya untuk menelpin sang ibu mertua. Malas rasanya baginya untuk keluar kamar meski hanya dua atau 3 langkah saja.
Febri menatap wajahnya di cermin yang ada di wastafel. Rahangnya mengetat seiring dengan kekesalan di hatinya.
"Kenapa mereka sudah punya anak? Bukankah mereka baru menikah minggu lalu? Apa mungkin itu anak angkat mereka, ya?" Gumam Febri.
Saat Arnan memperkenalkan Anan waktu di pernikahan. Febri memang belum datang ke acara tersebut. Jadi pria itu tidak tahu tentang Anan yang merupakan anak Fadila yang sebenarnya anak kandungnya sendiri.
"Aku gak akan menyerah, Fa. Bagaimanapun caranya kamu pasti akan kembali ke pelukanku." Tekat Febri.
Pria itu keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya. Di dapatinya sang ibu sudah di sana duduk berdua dengan Baby di sofa. Entah apa yang keduanya bahas hingga terlihat begitu serius.
__ADS_1