PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 53.


__ADS_3

"Mami, bangun Mami, bangun." Anan yang sudah mandi dan wangi membangunkan Fadila yang masih lelap dalam tidurnya.


Karena Arnan yang mengajaknya begadang tadi malam membuat wanita itu jadi bangun ke siangan.


"Jangan ganggu Mami, Nak. Kita makan duluan aja ya," ucap Arnan membujuk anaknya agar tak mengganggu Fadila.


"Mami boboknya lama, Dad. Aku udah lapel," adu Anan pada daddy nya.


Kedua pria beda usia itu duduk di sofa yang ada di sudut ruangan. Di meja sudah ada berbagaimacam makanan yang tadi di pesan Arnan. Karen Fadila yang belum juga bangun, pria itu menutuskan untuk pesan makanan.


Saat keduanya sarapan bersama, Fadila baru membuka matanya. Di pandangi sekeliling kamar dan mendapati suami dan anaknya sedang sarapan.


Wanita itu duduk sembari menutup mulutnya karena menguap. Fadila berdiri lalu segera menuju kamar mandi untuk bersiap. Setelah selesai ia bergabung dengan suami dan anaknya yang sudah selesai makan dan sedang menatapnya.


"Kenapa? Apa ada yang salah sama, Mami?" Tanya Fadila sembari melihat penampilannya.


Ia memakai terusan putih berlengan pendek dan rok di bawha lutut. Rambut yang masih di sanggul asal belum di sisir dan wajah yang masih polos tanpa bedak.


"Gak ada, Mam. Cuma heran aja, kapan Mami bangunnya? Kok tahu-tahu sudah mandi." Fadila ber-oh- ria mendengar ucapan suaminya.


Wanita itu berjal menuju nakas dan memakai beberapa kebutuhan pribadinya untuk wajah dan kulit.


"Daddy sama Anan saja yang gak lihat Mami bangun tadi. Keenakan makan jadi gak lihat-lihat yang lain," ucap Fadila sembari berjalan mendekati sofa di mana Arnan dan Anan berada.


"Sarapan apa, Dad?" Tanya Fadila.


"Nasi goreng sosis, sama pasta. Jagoan kita pengen nasi goreng katanya. Ya kan, Boy?" Arnan mengecup pipi Anan yang baru selesai minum susu.


"Nasi golengnya enak, Mami." Anan menunjuk piring makannya tadi yang sudah kosong.


"Yah, sudah habis ya? Mami gak di bagi nasi gorengnya." Fadila memasang wajah sedihnya.


"Daddy, yang habiskan nasi golengnya." Anan melemparkan kesalahan pada Arnan yang langsung melotot.


"Kok Daddy yang di salahin? Kan kamu juga banyak makannya tadi." Arnan ikut menyalahkan Anan pula.


"Tapi Daddy kan sudah besal, makannya banyak."


"Anan, juga sudah besar. Makannya juga semakin banyak, ini perut kamu saja maskin bulat." Arnan mengusap perut bulat anaknya.

__ADS_1


"Pelut Daddy bulat ndak." Anan ikutan memegang perut daddy nya.


"Enggak dong, Daddy rajin olah raga jadi perut Daddy gak bulat." Arnan membanggakan perut sixpack nya.


"Ada kotak-kotaknya pelut, Daddy. Milip utaman punya aku yang di lumah," ucap Anan saat ia mengangkat kaos sang daddy dan melihat serta memegang perut daddy nya.


"Ini lebih keren, Nak." Bangga Arnan.


Anan menurunkan kaos daddy nya lalu beridiri mebsejajarkan posisinya dengan Arnan.


"Aku mau pelut kotak-kotak juga, Dad. Bial sama sepelti pelutnya Daddy." Pinta Anan sembari memeluk leher Arnan.


"Permintaan di kabulkan, asal kamu mau ikut Daddy olah raga." Arnan mencubit pelan pipi gembul Anan.


"Sekalang olah laganya, Dad?"


"Enggak dong sayangnya, Daddy. Nanti kalau kita sudah pulang ke rumah, oke?"


"Oke."


Fadila hanya bisa geleng kepala melihat kedua orang di sampingnya. Ia tidak ikut dalam perbincangan suami dan anaknya karena masih sarapan.


Anan di gendong daddy nya karena hotel sedang ramai. Arnan tidak ingin anaknya jalan meski di pegangin. Segala hal bisa terjadi di luar dugaan jika kondisi ramai.


Apa lagi untuk anak kecil yang memang rawan hilang atau tertinggal di tempat wisata. Rasa penasaran anak kecil dan tingkat kesenangannya yang tinggi saat melihat sesuatu bisa membuatnya lepas dari pengawasan tanpa di sadari orang tua.


Jadi Arnan memilih untuk menggendong jagoannya dan menggandeng Fadila agar tidak lepas juga.


"Kita mau ke mana, Dad?" Tanya Anan saat mereka terus berjalan melewati sepanjang pantai dan menuju pasar cendramata.


"Kita mau jalan-jalan di pasar ini dulu, Nak. Lihat-lihat baju sama yang lainnya, kalau ada yang Anan mau atau Mami mau. Kita bisa beli," jawab Arnan.


"Mau mobil-mobilan, Dad." Pinta Anan.


"Jangan mobil-mobilan, Nak. Beli yang lain saja, kalau mau mobil-mobilan nanti kita beli di sana saja." Fadila melarang anaknya karena takut mainan itu rusak saat di masukkan koper nanti.


"Tlus mau beli apa, Mam?" Tanya Anan dengan wajah polos yang membuat Fadila dan Arnan gemas.


"Ya ampun, gemasnya anak Mami yang tampan ini," ucap Fadila mengecup pipi Anan gemas.

__ADS_1


"Daddy, gak di cium juga Mam?" Tanya Arnan iri.


Fadila tersenyum lalu mengecup pipi suaminya cepat. Setelahnya berjalan lebih dulu karena merasa malu melakukan itu di tempat umum.


Padahal bagi orang lain biasa saja, apa lagi kebanyakan di sana adalah pengunjung yang merupakan turis.


Arnan tersenyum lebar melihat kepergian istrinya. Dengan cepat ia mengejar langkah Fadila dan mengikut di belakang wanita itu.


"Wah, lihat ini! Kita beli kaos ini ya, Dad?" Fadila menyentuh kaos yang bergambar pisang di tengahnya.


Kaos couple itu ada 3 dan pas untuk mereka karena satunya baju untuk anak kecil.


"Boleh, besok kita pakai sekalin foto bersama," ucap Arnan mengangguk.


"Anan, mau gak kalau pakai baju ini?" Fadila bertanya pada anaknya pula. Ia tidak ingin hanya mendapatkan persetujuan suaminya saja.


"Ada pisangnya, Mam. Nanti kita di kejal monyet," ucap Anan yang membuat kedua orang tuanya dan pedagang baju itu tertawa.


"Gak akan, Nak. Di sini gak ada monyet," kata Arnan.


"Tlus monyetnya di mana, Dad?" Tanya Anan.


"Di kebun binatang," jawab Arnan.


"Kapan kita ke sana, Dad?"


"Nanti ya, Nak. Kalau ada waktu liburan lagi kita ke sana." Anan mengangguk mendengar ucapan Daddynya.


"Jadi, boleh kita ambil yang ini?" Tanya Fadila membuat kedua prianya menoleh.


"Ambillah," sahut Arnan yang membuat Fadila tersenyum senang.


Wanita itu mengambil ketiga kaos itu dan mengambil selendang berwarna biru dengan gambar pantai. Selesai membayar mereka pergi dan kembali melihat-lihat sekitar untuk sekalian membeli oleh-oleh.


Tidal banyak memang yang di beli mereka, hanya baju-baju saja untuk semua keluarga. Kalau untuk aksesoris, baru akan mereka beli sehari sebelum pulang.


Hingga tidak terasa waktu semakin siang hari, mereka masuk ke salah satu rumah makan tradisional. Arnan memilih tempat duduk yang lesehan.


Menunggu beberapa saat sampai makanan datang. Mereka makan dengan tenang, Anan yang minta ayam sampai lupa makan nasi kalau tidak di suapi Fadila.

__ADS_1


__ADS_2