PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 63


__ADS_3

Fadila dan Anan tinggal di kamar pribadi yang ada di dalam ruang kerja Arnan. Karena memanh sudah lelah, keduanya tertidur setelah membasuh wajah dan mencuci kaki. Bahkan Anan tidak memakai baju, karena memang kebiasaan bocah itu yang tidak pernah mau pakai baju kalau tidur.


Dan semua itu tidak lepas dari peran Arnan yang memang tidak pernah pakai baju saat tidur. Anan yang selalu mengikuti apa yang di lakukan Arnan, akhirnya juga ikutan tidak pakai baju di kala tidur.


Hingga sayup-sayup Fadila mendengar suara suaminya yang berteriak marah. Fadila membuka matanya dan beranjak dari ranjang. Karena takut terjadi sesuatu pada sang suami, Fadila segera berlari keluar kamar.


"Mas, ada apa?" Tanya Fadila dengan wajah khawatirnya.


Arnan yang melihat sang istri keluar dari kamar dengan kondisi setengah sadar segera menghampiri.


"Sayang, kamu kok sudah bangun? Suara Mas terlalu keras, ya? Maaf." Arnan mengecup kening Fadila sembari memeluk tubuh wanitanya.


"Kenapa Mas marah-marah? Apa ada masalah besar?" Tanya Fadila sembari membalas pelukan suaminya.


Karena tidurnya yang baru terlelap tiba-tiba terbangun. Maka kini kepala wanita itu seidkit pusing. Itu sebabnya ia tidak terlalu memperhatikan kondisi di sekitarnya.


Dan tidak menyadari seseorang yang sedang menatapnya tidak suka.


"Gak ada masalah apa-apa, sayang. Hanya ada lalat pengganggu yang minta di pukul," ucap Arnan yang membuat Fadila menatap wajah suaminya.


"Maksudnya? Memangnya darimana datangnya lalat itu, Mas? Bukannya ruangan kamu ini bersih? Mana mungkin bisa ada lalat," kata Fadila tidak yakin.


"Tuh! Lalatnya. Kalau kamu mau pukul, silahkan." Arnan melirik sedikit orang yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.


Fadila mengalihkan pandangannya ke arah yang di maksud oleh Arnan. Danmatanya langsung segar saat melihat ada perempuan lain di ruangan suaminya.


"Siapa dia, Mas?" Tanya Fadila yang masih betah di pelukan suaminya.


"Kan tadi Mas sudah bilang kalau ada lalat pengganggu, sayang." Arnan mengecup gemas pangkal kepala Fadila.


Ah! Baru Fadila paham maksud suaminya.


Ternyata lalat pengganggunya modelan seperti itu. Untung saja tadi Fadila tidak menolak tawaran suaminya untuk tetap tinggal. Kalau tadi Fadila tetap pulang dengan Anan, maka ia akan melewatkan kedatangan wanita berpakaian seksi itu.

__ADS_1


"Hay! Kenalkan, namaku Fika. Mantan istri Mas Arnan," ucap wanita itu sembari mengulurkan tangan ke arah Fadila.


Fadila menatap tak percaya wanita bernama Fika itu. Bagaimana mungkin dia bisa mengaku sebagai mantan istri suaminya? Sedangkan di buku nikah mereka, status sang suami sebelum menikah dengannya adalah lajang.


Apa mungkin Arnan pernah melakukan pernikahan siri juga bersama Fika sebelumnya? Tapi itu tidak mungkin. Karena dari apa yang pernah di ceritakan ibu mertua Fadila padanya.


Arnan pernah di hianati mantan kekasihnya saat lulus SMA. Itu sebabnya Arnan memilih kuliah di luar negeri dan menetap di sana meski sudah lulus. Membangun usaha sendiri dan berjuang sendiri mengembangkan usaha sembari menyembuhkan luka hatinya.


"Kamu pernah menikah, Mas?" Tanya Fadila dengan wajah yang tiba-tiba berubah sendu menatap Arnan.


"Pernah," sahut Arnan tegas yang membuat Fika merasa senang dan di atas awan karena mendapat dukungan dari Arnan.


"Kamu mencintainya?" Tanya Fadila lagi.


"Sangat," jawab Arnan sembari mencubit pelan ujung hidung Fadila.


"Kamu bisa lupain dia gak?"


"Gak bisa sayang, karena perasaan itu sangat tulus dari dalam hatiku. Dan hanya dia satu-satunya yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku. Kini hingga nanti saat aku menua."


Meski mereka sudah berpisah selama bertahun-tahun lamanya. Ah! Tidak sia-sia rasanya Fika mencari tahu tentang Arnan setelah melihat berita pernikahan pria itu di media.


Fika mengetahui tentang Arnan dan dimana kantor pria itu setelah ia mencari tahu di internet pula. Tidak susah mencari data tentang Arnan, karena ia pengusaha muda yang sangat sukses membangun bisnis di luar negeri.


Bahkan di dalam negeri saja perusahaan pria itu sangat besar dan luar biasa. Fika sudah membayangkan akan segala kemewahan yang akan di dapatkan saat berhasil menikah dengan Arnan.


"Kalau begitu ... Kamu mau cium dia gak?" Tanya Fadila yangmalah semakin membuat Fika berbunga.


Jantungnya berdetak cepat menantikan ciuman dari Arnan. Ia sangat yakin kalau Arnan pasti akan menciumnya dengan mesra. Mengingat saat mereka bersama dulu, Arnan merupakan pria romantis dan lembut.


Fika menatap penampilannya lalu merapikan bajunya dan bersiap menyambut kedatangan Arnan untuknya. Tapi ketika ia mengangkat pandangan ke arah Arnan.


Senyum lebar Fika hilang seketika saat mendapati pasangan suami istri di depannya. Bagaimana tidak hilang senyuman wanita itu kalau Arnan malah mengecup mesra kening Fadila.

__ADS_1


Arnan juga tidak malu mengecup singkat bibir Fadila. Arnan ingin menunjukkan pada Fika siapa ratu hatinya.


"Apa-apaan kalian berdua, hah?" Marah Fika tidak terima dengan pemandangan yang di lihatnya itu.


Fadila menatap Fika dengan alis yang terangkat, pura-pura bingung denfan kemarahan perempuan di depannya. Padahal Fadila tahu pasti penyebab kemarahan Fika yang sudah salah paham.


"Kenapa kamu marah? Apa hak kamu marah-marah pada kami?" Tanya Fadila santai.


"Kenapa kamu bilang? Harusnya kamu itu sadar diri. Jauhi Arnan, dasar perempuan kegatelan kamu."


Fika menghentakkan kakinya kelantai pertanda ia semakin marah. Namun pasangan di depan Fika malah tidak perduli dan masih tetap berpelukan. Arnan malah sesekali mengecup kening Fadila.


"Kalau gatel ya di garuk dong, gimana sih? Masa gitu saja harus di beritahu," kata Fadila yang semakin membuat Fika meradang.


"Kamu mau aku garukin, sayang?" Tanya Arnan sembari menatap Fadila penuh kasih.


"Jangan sekarang, Mas. Nanti malam saja," sahut Fadila sembari mengedipkan sebelah matanya menggoda Arnan.


"Sekarang saja," kata Arnan dengan suara rendahnya.


"Sabar, Mas. Disini masih ada tamu tam di undang," ujar Fadila dengan suara manjanya.


Fika semakin kebakaran jenggot melihat kemesraan yang di depannya.


"Hentikan! Kenapa kamu malah bersikap seperti itu padanya, Ar? Bukannya aku orang yang paling kamu cintai dan kamu inginkan untuk menemani kamu sepanjang hidup? Kenapa kamu malah bermesraan dengannya? Apa kamu gak mikirin perasaanku?"


Fadila dan Arnan saling pandang lalu menahan tawa. Ternyata sandiwara mereka tadi memang memancing kesalah pahaman Fika yang mengira kalau dirinya adalah orang yang di maksud oleh Arnan sejak tadi.


"Kenapa kalian tertawa, hah? Gak ada yang lucu," kesal Fika.


"Kamu yang lucu, memangnya siapa yang minta kamu jadi pendamping suamiku? Atau kamu mau jadi pelayan seumur hidup di rumah kami? Tapi maaf, kami gak butuh pelayan lagi," ucap Fadila.


"Tapi tadi bukannya Arnan bilang ..." kalimat Fika terhenti karena Arnan menyela ucapannya.

__ADS_1


"Yang aku maksud tentu saja istriku tercinta ini." Arnan mengecup kening Fadila lagi.


__ADS_2