PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 46.


__ADS_3

Fadila sedang bersiap untuk pergi ke rumah ayah Beni. Tadi Dwi juga sudah menghubunginya dan mengatakan agar makan malam di rumah orang tuanya.


Jadi sore ini Fadila akan segera pergi ke sana bersama kedua prianya. Tadi Arnan mengatakan akan menjaga Anan sementara dirinya mandi.


Tapi kini keduanya tidak terlihat lagi di manapun.


"Mas!" Panggil Fadila yang masih di depan pintu kamarnya.


"Huh! Ternyata punya rumah besar dan luas sangat menyulitkan," keluh Fadila.


Wanita itu melangkah hendak menuju lantai bawah. Namun suara dari ujung lantai tiga membuatnya menoleh.


"Mami!" Panggil Arnan dan Anan serempak.


Fadila menghela napas melihat kekompakan keduanya. Mereka terlihat begitu serasi menggunakan kemeja yang kembar. Bahkan Fadila juga di paksa untuk memakai kemeja seperti mereka juga.


Alhasil Fadila memakai rok hitam panjang dan kemeja wanita berwarna merah marun yang sama seperti Arnan dan Anan.


"Mami, mau kemana?" Tanya bicah kecil yang sedang berlari ke arah Fadila.


"Tentu saja mencari kalian berdua, Mami kira kalian meninggalkan Mami sendirian," jawab Fadila berjongkok menyambut anaknya.


"Tadi Daddy bawa aku ke sana, Mi." Anan menunjuk ruangan yang baru saja di masukinya tadi.


Fadila tentu tahu itu ruangan apa, ruang kerja suaminya.


"Memangnya Daddy buat apa di sana sampai bawa anak Mami ini." Fadila menyentuh hidung Anan pelan.


"Daddy, kasih aku buku gambal yang besal Mi. Ada clayon yang besal juga, kata Daddy bisa lukis pakai itu."


Anan dengan semangat mengatakan pada Maminya apa yang baru saja di dapatkannya dari sang daddy.


"Benarkah? Wah ... Kalau begitu nanti buatin Mami gambar yang paling bagus, ya?" Pinta Fadila sembari memberi semangat anaknya.


"Siap, Bos!" Anan menyanggupi permintaan Fadila.


"Daddy, mau juga dong!" Arnan yang sudah dekat ikut bicara.


"Kalena Daddy sudah kasih hadiah, jadi aku mau kasih Daddy hadiah juga," ucap Anan memeluk daddy nya.


"Baiklah, sekarang sebaiknya kita segera pergi." Fadila berdiri di ikuti Arnan.


Anan berjalan di tengah-tengah orang tuanya dan menggandeng tangan keduanya pula. Sampai di depan lift, bicah itu sibuk ingin menekan tombol.


"Daddy, aku mau pencet-pencet." Anan melihat daddy nya sembari menunjuk tombol yang masih lebih tinggi darinya.

__ADS_1


"Di kabulkan," ucap Arnan yang segera menggendong Anan.


Anan menekan tombol lift dan menunggu hingga terbuka. Di dalam lift, bocah itu kembali menekan tombol lagi yang menunjukkan arah bawah.


"Pintenya anak Daddy, tahu darimana kalau tombol dengan banah ke bawah harus di tekan untuk turun?" Arnan mengecup pipi Anan.


"Dali, Daddy. Aku pelnah lihat Daddy pencet yang ada panah kecilnya kebalik kalau mau ke bawah. Tlus pencet yang panah kecilnya ke atas kalau mau naik ke kamal."


Arnan tersenyum takjub dengan kecerdasan anaknya itu. Bahkan hanya dengan mengamati saja, Anan bisa mengerti dan langsung paham apa yang ahrus di lakukannya.


Sedangkan Fadila sudah tidak kaget lagi dengan pemikiran tangkap sang anak. Wanita itu tersenyum menatap Anan yang sedang berbincang dengan daddy nya.


Bahkan terkadang Fadila merasa seperti orang ketiga di antara Arnan dan Anan jika keduanya sudah asik berbincang dan bercanda.


Sampai di lantai bawah, mereka segera keluar rumah. Beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan segera menunduk hormat. Padahal Fadila maupun Arnan tidak pernah memintanya.


Ada pula kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari sana. Wanita muda itu nampak mengepalkan tangannya kesal.


Supir pribadi yang Arnan pekerjakan segera membukakan pintu untuk majikannya saat melihat Arnan dan Fadila keluar.


"Terimakasih, Pak." Fadila sebenarnya kurang nyaman dengan apa yang di lakukan supir itu, tapi mau bagaimana lagi jika itu sudah tugasnya.


Setelah Arnan dan Anan masuk dari pintu satunya lagi. Mobil melaju saat supirnya sudah masuk pula.


"Mami, aku mau jajan." Pinta Anan pada Fadila.


Anan duduk sembari minum susu kotak yang tadi sempat di mintanya sebelum keluar rumah.


"Jangan! Jajannya untuk di rumah saja. Kita besok terbang ke Bali, sekalian liburan di sana 3 hari," ucap Arnan yang membuat Fadila menatapnya.


"Memangnya Mas gak kerja?" Tanya Fadila.


"Mas, baru akan masuk kerja minggu depan."


"Apa kita akan kembali ke Amerika lagi, Mas?" Tanya Fadila.


"Enggak, kita akan menetap di sini. Minggu depan Anan juga sudah masuk sekolah kanak-kanak, kan?"


Fadila mengangguki ucapan suaminya.


"Tapi perusahaan Mas kan ada di Amerika. Kalau minggu depan Mas mulai bekerja, trus kerjanya gimana? Apa daring?" Tanyanya.


Arnan menatap Fadila dengan satu alis terangkat. Apa istrinya ini belum mengenal dirinya sepenuhnya?


"Mas, punya perusahaan di negara ini sayang. Bahkan kantor pusatnya juga ada di sini, jadi gak penting Mas tinggal di mana? Semua pekerjaan bisa Mas kerjakan di kantor."

__ADS_1


"Mas, punya perusahaan juga di sini?" Kaget Fadila yang membuat Arnan mengangguk. "Sekaya apa suamiku ini?" Gumannya pelan.


Arnan terkekeh pelan mendengar gumaman istrinya. Jadi Fadila tidak tahu kalau dirinya memiliki perusahaan di negara mereka sendiri?


Anan tidak perduli dengan apa yang di bicarakan oleh kedua orang tuanya. Bagi bocah itu, asalkan dia di beri minum susu. Maka bisa di pastikan dirinya duduk tenang tanpa banyak ulah, walau tidak ada alat tulis dan gambarnya.


Sesampaimya di kediaman ayah Beni yang memiliki penjagaan ketat.


Fadila membawa suami dan anaknya masuk, karena mereka belum pernah datang kerumah itu sama sekali.


Bahkan Arnan dan Anan menatap heran pada pria-pria kekar berbaju hitam yang terus berjalan kesana kemari.


"Mi! Om-om itu siapa? Kok banyak banget?" Tanya Anan yang berada di gendongan Arnan.


Bocah itu merasa ngeri melihat pria-pria berwajah sangar itu.


"Mereka penjaga yang bekerja di untuk kakek, Nak." Fadila menatap Anan.


"Selem, Mi. Om-om nya galak," ucap Anan yang membuat kedua orang tuanya tersenyum.


Mereka berjalan dengan di antar seorang pelayan yang tadi membukakan pintu. Dari kejauhan sudah terdengar teriakan Dwi yang memanggil Anan.


"Anan kesayangan Mama ..."


Dwi berlari menerjang Anan dan merampas bocah itu begitu saja dari gendongan Arnan.


Anan malah tertawa senang saat Dwi memutar tubuh mereka berdua.


"Hahaha ... Lagi Ma, lagi." Malah ketagihan bocah itu.


"Sudah, Nak. Nanti pusing kepalanya," ucap Fadila.


"Kalian sudah datang?" Terlihat ayah Beni berjalan mendekat.


"Iya, Yah." Fadila menyalami tangan ayah Beni.


Arnan juga melakukan hal yang sama pada pria seumuran papanya itu.


"Anan! Salam Kakek, Nak." Pinta Fadila yang segera di lakukan oleh Anan.


"Pintarnya, cucu Kakek. Sini, sini sama Kakek saja."


Pindahlah Anan ke gendongan ayah Beni.


"Ayo masuk, duduk di ruang keluarga saja." Ayah beni mengajak Fadila dan Arnan semakin mausk ke dalam.

__ADS_1


Meski sebenarnya tidak perlu begitu karena Fadila sudah jadi anaknya sendiri. Otomatis Arnan juga anak menantunya, hanya saja tidak enak kalau membiarkan menantunya yang mungkin masih sungkan.


Fadila menggandeng lengan Arnan dan mereka berjalan bersama. Sedangkan Anan di gendongan ayah Beni dengan Dwi yang terus mengganggu.


__ADS_2