
"Fadila!" Panggil sebuah suara yang membuat si pemilik nama menoleh.
Saat ini posisi Fadila sedang di sebuah mini market yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Wanita itu sengaja turun bersama sang anak untuk membeli sesuatu.
Karena hari ini jadwal yang di miliki Arnan sangat padat. Maka Fadila memilih langsung lulang tanpa mau mengganggu pekerjaan suaminya lagi. Meski bukan masalah untuk Arnan meluangkan waktu sejenak untuk bertemu istri dan anaknya. Tapi Fadila meminta suaminya untuk fokus.
Wanita itu tadi bahkan sudah memesankan makan siang untuk Arnan melalui online. Karena waktunya yang tidak cukup bila harus pulang dan memasak lagi.
"Fadila, akhirnya kita bertemu juga." Febri terlihat bahagia bertemu dengan sang mantan istri.
Ia berharap masih memiliki kesempatan untuk bisa saling bercerita atau sekedar mendapatkan nomor kontak wanita itu.
"Kenapa?" Tanya Fadila dengan wajah datar dan suara yang biasa saja.
Tidak menunjukkan raut bahagia atau suara antusias saat bertemu sang mantan. Fadila malah mendorong trolinya yang berisi belanjaan serta menuntun tangan kanan Anan.
"Aku kangen kamu, Dil. Apa bisa kita bicara sebentar saja?" Pinta Febri yang membuat Fadila menghela napas malas.
Bagaimana tidak malas kalau mendengar kalimat rindu dari pria lain? Apa lagi posisi mereka yang sudah sama-sama punya pasangan. Sungguh tidak pantas kalimat seperti itu di ucapkan oleh orang yang memiliki pasangan.
"Aku sibuk," sahut Fadila berjalan menjauh.
Febri yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membujuk dan bicara dengan Fadila langsung mengikuti.
"Dil! Beri aku satu kesempatan lagi, ku mohon! Aku janji gak akan kecewakan kamu lagi. Aku bakalan setia sama kamu dan hanya kamu yang akan jadi satu-satunya di hidup aku," bujuk Febri.
Fadila tidak memperdulikan apa yang di ucapkan oleh Febri. Bagi Fadila, masa lalu sudah berlalu dan kini mereka harus hidup untuk masa depan. Bukan masa lalu lagi dan terus mengingat hal itu untuk di jadikan pacuan masa depan.
Masa lalu hanya akan menjadi pelajaran bagi masa depan agar tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama.
"Gak butuh," ucap Fadila.
"Tapi aku butuh kamu, Dil. Aku mohon, kembali sama aku."
"Gak."
"Iya, kamu harus mau. Karena hanya aku yang bisa menerima kekurangan kamu." Kalimat Febri itu membuat Fadila menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang di mana Febri berada.
__ADS_1
"Kekurangan yang mana?" Tanya Fadila ingin tahu.
"Kemandulan kamu, aku akan menerima itu semua dan aku juga akan ikhlaskan semua harta aku yang udah kamu jual dan kamu larikan."
Jawaban Febri membuat Fadila hampir saja tertawa mendengarnya. Untung saja ia masih dalam mode datar dan malas untuk ribut. Jadi ibu satu anak itu hanya diam saja dan kembali mepangkah pergi.
"Dil, kamu dengar apa yang aku katakan?" Febri menahan lengan Fadila yang sedang menggandeng tangan Anan.
Anan yang kesal melihat Febri terus mengganggu maminya langsung menggigit tangan Febri.
"Awh ... Apa-apaan kamu bocah? Dasar kurang ajar," marah Febri melotot pada Anan.
Fadila langsung menarik anaknya ke belakang tubuhnya untuk melindungi buah hatinya itu. Meski Febri adalah ayah kandung Anan, namun Fadila takut untuk memberitahukan kenyataan itu pada pria di hadapannya.
Ada beberapa hal yang di khawatirkan oleh Fadila sebenarnya. Salah satunya adalah ketidak percayaan pria itu akan keberadaan anak kandungnya. Karena dulu sudah di doktrin oleh bu Rita tentang Fadila yang mandul.
"Jangan ganggu Mami aku! Om jahat nanti di malahin sama Daddy aku," ucap Anan melotot menatap Febri.
Meski tubuhnya di belakang sang mami tapi ia masih tetap bisa melihat pria yang mengganggu itu.
"Pergilah, Bri. Hubungan kita sudah selesai sejak lama dan itu sudah berlangsung hampir 5 tahun lamanya," ujar Fadila mengusir Febri.
"Tapi aku gak bisa terima keputusan kamu yang ninggalin aku begitu saja, Dil."
"Bukannya kamu duluan yang ninggalin aku demi perempuan lain? Bukankan kamu sudah mendapatkan kenyamanan hidup dengan harta perempuan itu? Jadi untuk apa lagi menggangguku?"
Fadila berbalik dan membawa Anan ke gendongannya di sebelah kiri. Sementara tangan kanannya mendorong troli yang hampir penuh berisi belanjaan yang di butuhkan di rumah.
Sungguh the power of emak-emak sekali Fadila yang mampu melakukan hal itu.
"Tapi, Dil ..."
"Kalau ingin viral, lakukan sendiri jangan libatkan aku dan putraku." Fadila melangkah semakin menjauh tanpa memperdulikan lagi keberadaan Febri.
Sedangkan Febri sendiri yang awalnya merasa bingung dengan maksud dari ucapan Fadila. Kini pria itu mulai paham saat melihat ada beberapa orang yang menyorotkan kamera ponsel ke arahnya dan Fadila.
Sontak saja Febri bergerak mendekati orang-orang itu. Meminta mereka untuk menghapus rekaman yang sudah di ambil dan tidak boleh menyebar luaskannya.
__ADS_1
Meski harus mengeluarkan uang, Febri harus melakukannya. Karena kalau sampai rekaman percakapannya dengan Fadila tersebar, Febri takut kalau perusahaannya akan mendapatkan imbasnya.
Belum lagi sang mertua yang pasti akan marah padanya dan sang ibu yang akan ikut marah. Belum lagi omelan dan segala keluha Baby yang pasti sangat memusingkan nantinya.
Febri memfoto setiap kartu identitas pemilik rekaman dan video saat mereka membuat kesepakatan. Semua itu di lakukan Febri karena takut kecolongan. Kalau sampai rekamannya tersebar ia bisa menuntut.
Sedangkan Fadila tidak perduli dengan apa yang di lakukan Febri. Setelah selesai melakukan pembayaran, wanita itu segera pergi meninggalkan mini market.
"Mi! Om tadi siapa? Kenapa dia ikutin Mami terus tadi? Udah gitu dia paksa-paksa Mami lagi." Arnan menatap Fadila dengan wajah penasarannya.
"Bukan siapa-siapa, Nak. Tadi cuma orang nyasar aja," jawab Fadila.
"Oh, tapi om tadi jahat. Mami, kalau ketemu sama om tadi jangan mau dekat-dekat lagi, nanti Mami di gigit tlus ikutan jahat juga sepelti om tadi."
Fadila terkekeh mendengar kalimat anaknya yang polos namun penuh perhatian padanya. Serta sifat melindungi yang di miliki Anan membuat Fadila terharu.
"Baiklah anak tampannya Mami tersayang." Fadila mengecup kening Anan sembari tersenyum bahagia.
"Maaf, Bu. Sepertinya ada mobil yang mengikuti kita sejak tadi," ucap pak Hakim memberitahukan.
"Benarkah?" Fadila menoleh kebelakang.
"Iya, Bu. Coba perhatikan mobil yang warna hitam garis biru itu, saya akan mencari jalan yang lebih jauh untuk lebih memastikannya."
Fadila mengangguk sembari terus memperhatikan mobil yang di maksud oleh pak Hakim. Dan benar saja apa yang di katakan pria paruh baya itu. Saat mobil mereka berhenti, maka mobil hitam bergaris biru itu ikut berhenti.
Kemana mobil yang di tumpangi Fadila melaju, maka mobil itu juga ke arah yang sama.
"Ke perusahaan mas Arnan saja, Pak. Saya kok jadi takut sendiri melihatnya, jangan-jangan orang jahat lagi," ucap Fadila yang mengkhawatirkan keselamatan anaknya.
"Baik, Bu."
Mobil melaju menuju perusahaan di mana Arnan bekerja dan mobil itu masih mengikuti jug. Fadila memperhatikan anaknya yang masih anteng makan jely kesukaannya.
Semoga kita baik-baik saja, batin Fadila sembari menghela napas.
Ia tidak mau terlalu memperlihatkan kegundahan hatinya di hadapan Anan. Jadi sebisa mungkin Fadila bersikap tenang meski tetap waspada.
__ADS_1