PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 54.


__ADS_3

"Kalian mau tunggu di pantai dulu atau ikut Daddy ke hotel untuk taruh barang-barang ini?" Fadila menatap suaminya yang sedang menenteng dua kantong belanjaan.


"Anan, mau ikut Daddy ke hotel atau tunggu di pantai sama Mami?" Fadila bertanya pada anaknya mau bagaimana.


Arnan dan Fadila selalu mengutamakan bertanya pada Anan sebelum membuat keputusan untuk sesuatu yang bersangkutan dengan bocah itu. Mereka tidak ingin memaksa Anan untuk selalu mengikuti apa yang mereka kehendaki.


Jika pilihan dan kemauan mereka di setujui oleh Anan. Maka mereka akan meneruskan hal itu namun jika tidak mereka juga tidak memaksa.


"Nanti Daddy ikut ke pantai ndak?" Tanya Anan yang sebenarnya ingin bermain di pantai lagi.


"Nanti Daddy ke pantai kalau Anan sama Mami mau ke sana. Daddy, mau bawa ini dulu ke hotel, supaya nanti mainnya gak susah bawa-bawa ini." Arnan menunjukkan barang-barang di tangannya.


Anan ikut menatap tangan Daddy nya lalu beralih ke wajah tampan yang sedang menatapnya.


"Janji ya, Daddy. Nanti jemput kita main di sana." Anan menunjuk ke arah area ayunan yang ada di dekat pantai.


"Baiklah, nanti Daddy akan ke sana setelah ini. Tapi jangan ke mana-mana lagi ya sayang, di sana saja tunggu Daddy. Gak lama kok," ucap Arnan di angguki Anan.


"Mam, jangan tinggalin anak kita sendirian apapun yang terjadi. Kalau Anan minta sesuatu bawa dia, jangan di tinggal." Arnan mengingatkan istrinya.


Entah mengapa perasaan Arnan sedikit kurang nyaman meninggalkan anak dan istrinya. Padahal letak hotel tidak jauh dari area bermain yang akan di datangi istri dan anaknya.


"Iya, Mas. Jangan lama-lama, ya?" Arnan mengangguk lalu segera bergegas menuju hotel.


Fadila menggenggam erat tangan anaknya sembari berjalan menuju ayunan yang di maksud Anan tadi.


"Mami, ayun aku dari belakang." Pinta Anan setelah di naikkan Fadila ke atas ayunan


"Pegangan yang erat, sayang." Anan menggenggam tali ayunan kuat dan mulai tertawa bahagia saat ayunan mulai bergerak.


Tidak terlalu kuat dan tidak terlalu pelan Fadila mengayun. Namun cukup membuat anaknya sangat senang dan terus tertawa bahagia.


Hingga seorang anak kecil datang menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Ante, aku mau ikut main."


Fadila menghentikan gerakan mengayunnya dan menatap bocah yang di perkirakannya seumuran Anan. Hanya saja bocah itu tubuhnya lebih kecil dari Anan.


"Boleh, sini Tante dudukkan di sini." Fadila menepuk ayunan di sebelah Anan dan meminta anak itu mendekat.


Beni berjalan mendekati Fadila lalu di dudukkan ke ayunan itu. Ya, anak kecil yang mendatangi Fadila dan Anan adalah Beni. Entah dari mana bocah itu datang dan dengan siapa. Tahu-tahu sudah berada di sana.


"Nama kamu siapa, Nak?" Tanya Fadila dengan suara lembut.


"Beni," sahutnya.


"Beni, sama siapa ke sininya? Kenapa sendirian?" Tanya Fadila penasaran.


Orang tua mana yang membiarkan anaknya berkeliaran sendiri tanpa pengawasan.


"Sama papa, mama sama nenek juga."


"Trus sekarang mereka kemana?"


Fadila menghela napas panjang mendengar ucapan Beni itu. Sungguh lalai orang tua Beni hingga anak sekecil itu pergi jauh.


"Kita tunggu di sini saja, ya. Mungkin nanti orang tua kamu datang mencari." Beni mengangguk sembari menatap Fadila.


"Kamu jangan nangis, ya. Kita main sama-sama di sini," ucap Anan sembari tangannya meraih tangan Beni yang memegang tali ayunan.


"Iya, aku mau main di sini sama kamu. Tadi mama aku ndak mau aku ajak main, jadinya aku pelgi main sendili."


Fadila sungguh tercengang mendengar hal itu. Siapa pula ibu anak ini? Batinnya.


Tidak mau terlalu banyak berpikir, Fadila mengayunkan ayunan anaknya dan bergantian dengan ayunan Beni pula. Kali ini Fadila mengayunnya sedikit pelan dari sebelumnya.


Ia tidak mau kalau sampai Beni memiliki riwayat suatu penyakit dan ia akan di salahkan orang tuanya kalau melihat ayunan terlalu kencang. Walau itu bukan kesalahannya sebenarnya.

__ADS_1


Tapi tetap saja berjaga-jaga lebih baik dari pada terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Hingga beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang berbondong-bondong ke arah mereka bertiga dengan teriakan yang cukup memekakkan telinga.


"Itu dia! Itu penculik anakku."


Fadila yang mendengar kata penculik segera menghentikan ayunan anaknya dan melihat ke sumber keributan.


Polisi pantai datang bersama tiga orang lainnya mendekati area bermain.


"Beni! Kamu kemana saja, Nak?" Pria yang di kenal Fadila itu mendekati Beni dan segera memeluk anak itu erat.


"Kamu! Kamu kan mantan menantuku yang mandul. Ngapain kamu di sini hah? Jangan bilang kalau kamu menculik cucuku?" Tuding ibu Rita pada Fadila.


"Apa maksud anda, Bu? Siapa yang menculik dan siapa yang di culik? Saya di sini hanya menemani anak saya bermain," ucap Fadila tegas menatap mantan ibu mertuanya.


"Halah, jangan pura-pura gak tahu kamu. Buktinya cucuku ada di sini bersamamu. Dan mana anakmu? Siapa anak mu hah? Kamu hanya perempuan mandul yang gak bisa punya anak." Hina bu Rita tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Heh, kamu! Kalau gak punya anak jangan culik anak orang lain dong. Kamu kira dengan melakukam hal itu bisa membuat Mas Febri balik lagi sama kamu? Gak akan dan gak mungkin itu terjadi," sentak Baby dengan suara lantang hingga beberapa pengunjung menatap ke arah mereka.


"Apa maksud kalian sebenarnya, hah? Jangan asal menuduh orang lain tanpa bukti. Saya bisa menuntut kalian atas kasus pencemaran nama baik," ucap Fadila menatap tajam Baby dan ibu Rita.


"Kenapa kamu lakukan ini, Fa? Kalau kamu memang gak bahagia hidup dengan suamimu. Katakan padaku, kita bisa kembali bersama." Kali ini giliran Febri yang buka suara dan itu membuat Fadila semakin lusing saja.


"Kalian ini kenapa sih? Apa maksud kalian semua, hah? Tadi menuduhku menculik anak dan mengataiku mandul, sekarang kamu mengatakan hal gak masuk akal seperti itu." Fadila menatap sinis Febri.


"Sungguh keluarga sakit jiwa kalian ini," lanjutnya dan mengangkat Anan ke gendongannya.


Walaupun ia keberatan tapi tetap di gendongnya Anan untuk pergi dari situ.


"Jangan pergi kamu, mandul! Tangkap dia, Pak Polisi. Dia penculik anak saya," ucap Baby menunjuk Fadila yang hendak beranjak.


"Berani kalian menyentuhku walau seujung rambut saja. Maka kalian semua akan masuk ke dalam penjara," ancam Fadila dengan suara tegas dan tajam.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Tapi Anda terbukti telah melakukan penculikan terhadap anak Nyonya ini," kata polisi pantai itu.


"Apa buktinya kalau aku menculik anak mereka? Hanya karena anak itu ada di dekat ku dan kalian mengatakan itu penculikan?" Kedua polisi pantai itu saling pandang dan tidak tahu harus berkata apa lagi.


__ADS_2