
Lelah bermain air, Arnan dan Anan berjalan menghampiri Fadila yang tersenyum menyambut keduanya.
"Mami, kenapa ndak ikut main?" Tanya Anan setelah dekat.
"Mami capek, lihatin Anan sama Daddy saja dari sini." Fadila menyambut uluran tangan anaknya.
"Kesana, yuk! Minum kelapa muda sepertinya segar." Arnan menunuk tempat penjual kepala muda.
"Mau Daddy, mau kelapa muda." Anan melepaskan lagi pegangannya pada Fadila dan melompat-lompat ke arah Daddy nya.
"Lari ..."
Arnan berlari pelan lebih dulu sembari melihat anaknya. Anan yang melihat dan mendengar komando dari daddy nya segera mengikuti.
"Lali ..." ucap bocah itu ikut-ikutan.
Berlari mengejar sang daddy menuju penjual kelapa muda.
Fadila hanya bisa menghela napas saja melihat kelakuan anak dan suaminya. Apa lagi yang bisa di lakukannya selain mengekor? Meski Anan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Daddy nya.
Fadila tidak merasa keberatan sama sekali dengan hal itu. Ia maklum dengan anaknya yang sudah lama merindukan sosok seorang ayah.
Fadila malah senang karena Arnan bisa menjadi daddy yang sangat baik dan bijak sana bagi Anan.
"Mami, kalah dali aku. Daddy, juga kalah." Anan berucap bangga pada dirinya yang memang tiba lebih dulu tadi.
Fadila duduk di samping sang suami yang menariknya. Anan duduk di sebelah kanan Arnan sedangkan Fadila di sebelah kiri.
"Mana kelapa mudanya?" Tanya Fadila.
"Masih di buatin," sahut Arnan.
Fadila mengangguk sembari melihat lapak penjual yang ternyata menjual makanan.
"Dad! Mami mau mie goreng," pinta Fadila.
"Baiklah, kalau Anan mau makan juga gak?" Tidak lupa Arnan menawari anaknya.
"Mau sosis, Dad." Anan menunjuk seseorang yang sedang makan sosis.
"Wah, Mami juga mau." Fadila ikutan, bahkan dia nampak paling berbinar melihat sosis goreng.
"Tunggu sebentar, ya."
Arnan kembali memesan makanan yang di inginkan istri dan anaknya.
__ADS_1
Setelahnya mereka menunggu pesanan datang dan Anan lah yang paling banyak berbicara. Segala hal yang di lihatnya juga menjadi bahan pertanyaan untuk kedua orang tua Anan.
Dengan sabar pula Fadila dan Arnan menjelaskan pada Anan apa yang di tanyakan. Meski lebih banyak Arnan yang menjawab karena Fadila makan dengan lahap begitu pesanannya datang.
Di tempat lain ...
Ferdi duduk dengan termenung di kursi kerjanya tanpa melakukan apapun. Pikirannya saat ini sedang tidak di tempatnya.
Tubuhnya di perusahaan tetapi pikirannya sibuk memikirkan istri orang lain. Siapa lagi kalau bukan Fadila yang menjadi bahan pikirannya.
Melihat betapa cantik dan menawannya Fadila sekarang. Membuat perasana Febri semakin membuncah pula. Ia jadi begitu merasa terobsesi untuk mendapatkan kembali mantan istrinya.
Meski tahu Fadila sudah menikah dengan seorang pengusaha. Febri menaruh banyak harapan kapau Fadila pasti akan di dapatkannya kembali.
Berbagai cara sedang di susunnya dalam pikiran. Bagaimana cara untuk menaklukan Fadila lagi agar kembali padanya.
Febri juga ingin meminta pertanggung jawaban wanita itu atas semua aset yang di jualnya.
"MAS!"
Febri tersentak kaget saat seseorang membentak bahkan menggebrak meja kerjanya.
Di lihatnya Baby yang merengut menatap dirinya.
Baby yang mendapatkan bentakan tentu kaget. Biasa semarah apapun suaminya itu, Baby tidak pernah mendapatkan bentakan.
"Kamu bentak aku, Mas?" Tanyanya yang membuat Febri malas.
"Ada apa?" Tanya Pria itu semabri mengambil berkas di meja dan membacanya.
Baby berdecak kesal karena suaminya malah bertanya. Namun karena Baby memiliki tujuan lain datang menemui Febri, jadi ia melupakan bentakan tadi.
"Mas, aku mau belanja dong! Sudah lama aku gak pergi jalan-jalan dan belanja-belanja," ucap Baby dengan suara yang di lembutkan.
"Lalu anak kita?" Tanya Febri tanpa menatap istrinya.
"Kan sudah ada pengasuhnya, Mas. Sementara biar sama pengasuhnya dulu, aku butuh refresing Mas," kata Baby dengan suara manja.
"Bawa anak kita jalan-jalan atau gak sama sekali," ucap Febri tegas.
Baby terlihat tidak suka dengan ucapan suaminya itu. Bagaimana mungkin ia harus membawa anaknya? Bisa-bisa ia tidak bebas ingin melakukan apapun.
"Tapi Mas ... Anak itu pengennya jalan-jalan sama kamu juga. Apa artinya pergi jalan-jalan sama aku kalau kamu gak ikut. Nanti kalau dia tanya-tanya kamu gimana?" Alibi Baby.
Febri meletakkan berkas di tangannya lalu berpikir sejenak. Mereka memang tidak pernah jalan-jalan bersama atau liburan bersama.
__ADS_1
Febri selalu sibuk bekerja, sedangkan Baby sibuk dengan dunianya sendiri.
"Baiklah, kamu pulang siapkan pakaian. Nanti sore kita terbang ke Bali untuk liburan."
Mendengar ucapan suaminya yang ini, barulah Baby tersenyum cerah dan nampak sangat bahagia.
"Beneran, Mas?" Tanyanya meyakinkan diri.
"Cepatlah," sahut Febri yang semakin mengembangkan senyuman Baby.
"Oke, aku akan siapkan semua keperluan kita."
"Ibu juga minta bersiap."
Baby terdiam tanpa senyum dan menatap suaminya lekat sekaligus kurang suka karena mertuanya harus ikut.
"Kenapa ibu harus di bawa sih, Mas? Kan kita mau liburan berdua saja," ucap Baby yang ternyata salah mengerti ajakan Febri.
Yang di pikirkan Baby hanyalah ia dan suaminya yang akan pergi liburan berdua saja.
Febri menatap istrinya juga akhirnya, tapi tatapannya penuh tanya dan lebih tidak suka lagi mendengar kalimat istrinya.
"Tadi kamu bilang anak kita maunya liburan kalau ada aku, kan?" Tanyanya di angguki Baby.
"Aku memintamu menyiapkan pakaian kita berdua dan anak kita juga. Karena dia juga akan ikut liburan, begitu pula dengan ibu yang tgak mungkin di tinggal sendirian," Febri menjelaskan sejelas-jelasnya pada Baby agar mengerti.
"Tapi aku maunya hanya kita berdua, Mas." Kekeh Baby yang tidak mau ada anak dan ibu mertuanya ikut.
"Tapi aku maunya pergi semua. Kalau kamu gak mau, lebih baik kamu yang gak usah ikut."
Baby melotot tidak terima karena di larang ikut oleh suaminya.
"Ya gak bisa gitu dong, Mas. Masa aku gak ikut sih! Kalian senang-senang di sana sedangkan aku sendirian di sini," protesnya.
"Kamu sendiri saja gak mau di tinggal, kenapa malah mau tinggalin ibu sendirian? Ibu sudah tua dan hanya aku yang di sini menemani ibu. Ayah jauh di negeri orang," ucap Febri.
"Kenapa gak kamu suruh saja ibu ikut suaminya? Kan kita bisa hidup mandiri tanpa adanya campur tangan orang tua," ujar Baby.
Febri mendesah malas mendengar pembahasan Baby.
"Kapau kamu gak pulang dan bersiap sekarang juga. Liburannya di batalkan," ancamnya.
Baby kalang kabut sendiri mendengar liburan di batalkan. "Jangan dong, Mas. Aku pulang sekarang untuk siap-siap."
Febri memijit kepalanya yang terasa berdenyut, melihat tingkah dan sikap Baby yang sangat jauh berbeda. Dulu Baby begitu manis dan penurut baginya. Namun kini malah wanita itu terlihat sangat berubah.
__ADS_1