PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 44.


__ADS_3

Malam semakin larut dan pesta sudah berakhir, semua keluarga menginap di hotel milik papa Vian yang sengaja di kosongkan hari ini khusus untuk pernikahan Fadila.


Tadinya keluarga Arnan mengadakan di hotel itu tidak memiliki maksud lain. Karena tidak tahu kalau Fadila anak angkat papi Vian. Tapi setelah papa Vian menemui mereka untuk membantu mempersiapkan pesta, barulah mereka tahu.


Anan di amankan oleh ayah Beni yang sangat ingin menghabiskan waktu bersama cucunya. Apa lagi besok sudah harus pergi bertugas.


Jadilah Fadila hanya berduaan di kamar pengantin bersama Arnan. Kamar yang sudah di hias seindah mungkin untuk pasangan pengantin.


Fadila yang sudah selesai mandi lebih dulu, berdiri di balkon melihat indahnya malam yang begitu cerah. Angin malam yang berhembus tidak membuatnya kedinginan.


Hingga Fadila merasakan pelukan dari seseorang yang sudah dapat di tebaknya siapa.


"Kenapa berdiri di sini? Ayo masuk!" Ajak Arnan.


"Sebentar, Mas."


Arnan mengecup leher Fadila lembut, yang membuat wanita itu kegelian.


"Geli, Mas." Kekeh wanita itu memiringkan lehernya kearah yang di kecup suaminya.


"Ayo masuk, selagi Anan gak ada. Kita puas-puasin malam pengantin kita harus takut Anan terbangu atau melihat," bisik Arnan lembut.


Fadila menggigit bibir bawahnya malu, ia begitu merasa tersanjung dengan semua perlakuan suaminya yang begitu lembut memperlakukannya.


Fadila membalikkan badannya ke arah sang suami. Mengalungkan kedua tangannya di leher Arnan.


"Puaskan dirimu, Mas."


Arnan tersenyum girang dan bahagia mendengar bisikan manja istrinya. Dengan semangat Arnan menggendong Fadila memasuki kamar.


Di tempat lainnya ...


Febri berdiri di balok kamarnya seorang diri, melihat ke dalam di mana Baby sudah tidur pulas di atas kasur.


"Maafkan aku, Fa. Aku sungguh menyesal sudah menyia-nyiakan kamu," lirih Febri penuh sesal sembari menatap langit malam.


Perasaannya begitu hancur saat mengetahui siapa pengantin wanita tadi. Sungguh tak di sangkanya jika Fadila akan begitu bahagia setelah pergi.


Walau ada rasa kesal juga di hatinya pada Fadila yang sudah menjual apartemen dan rumah mereka dulu. Sampai dirinya harus di usir dari rumah itu.


Bahkan di buat sangat malu saat mendatangi apartemennya untuk tinggali dan di jual. Febri bahkan sampai di tuduh penipu karena mengaku sebagai pemilik rumah.


Sempat menuntut pihak perusahaan yang menjual apartemen dan rumahnya. Namun karena berkas dan bukti kepemilikan yang di miliki pihak perusahaan kuat.


Dan surat pengalihan kepemilikan juga ada, Febri malah kena tuntut balik dan harus membayar sejumlah uang.


Belum lagi mobil yang di derek paksa oleh pihak pegadaian saat Febri di rumah sakit.

__ADS_1


Sungguh berat hari yang di lalui Febri setelah pernikahan dengan Baby. Berat dalam artian terlalu banyak rasa malu yang di dapatnya.


Semua asetnya di jual oleh Fadila tanpa sepengetahuan dirinya.


"Aku akan pastikan kamu membayar semua itu, Fa. Atau kamu harus bisa kembali padaku, bagaimanapun caranya." Tekat Febri.


 


Fadila menggeliatkan tubuhnya yang terasa lelah. Berbalik badan dan memeluk sesuatu yang ada di hadapannya. Di rasa ada yang mengecup keningnya.


Fadila membuka kedua matanya dan melihat Arnan yang tersenyum manis padanya.


"Selamat pagi istriku," ucap Arnan.


"Selamat pagi juga, suamiku." Fadila menyembunyikan wajahnya di pelukan Arnan karena malu.


Aenan terkekeh melihat tingkah malu-malu Fadila. Membalas pelukan istrinya dan kembali mengecup Fadila.


"Ayo mandi, sebelum Anan satang mencari kita," ajak Arnan yang sudah faham dengan kebiasaan anaknya.


Kalau Anan tidak tidur dengan mereka, pasti akan segera pergi mencari kedua orang tuanya.


Keduanya pergi mandi bersama agar lebih cepat, apa lagi hari yang ternyata sudah terang.


Tok tok tok


Arnan yanh sudah selesai lebih dulu segera membuka pintu. Sedangkan Fadila masih memakai perawatan wajah dan tubuhnya.


"Kenapa, baby boy?" Arnan menggendong anaknya.


Anan diam dan hanya memeluk erat daddy nya, ia yang baru bertemu dengan ayah Beni merasa kurang nyaman berlama-lama di sana. Padahal ayah Beni dan ibu Kiki sangat baik padanya.


"Mungkin Anan belum nyaman terlalu lama sama, Ayah. Apa lagi pertemuan pertama secara langsung," ucap ayah Beni ramah.


"Maaf, Yah. Anan, memang begitu kalau sama orang yang belum dekat," sahut Arnan.


"Iya santai saja, Ayah paham kok. Anan, sangat mirip dengan Fadila dulu sewaktu pertama di kenalkan Dwi kepada kami."


Ayah Beni mengelus kepala Anan yang bersandar di pundak Arnan.


"Ayah!" Panggil Fadila yang berjalan mendekat.


Ayah Beni tersenyum pada anak angkatnya itu.


"Segeralah turun untuk sarapan, yang lain sudah menunggu," ucap ayah Beni.


"Iya, Yah. Terimakasih, sudah menjaga Anan dan mengantarkannya ke sini," kata Fadila.

__ADS_1


"Kenapa harus berterimakasih, Nak? Kamu anak Ayah, dan Anan cucu Ayah. Sudah jadi tanggung jawab Ayah juga untuk menjaganya dan menyayanginya."


Anan menatap ayah Beni dan mengulurkan tangannya.


"Sayang Kakek," ucap Anan setelah mengecup pipi kanan ayah Beni.


"Kakek juga sayang sama Anan, cucu Kakek yang gemesin." Ayah Beni mencubit pelan pipi Anan saking gemasnya.


Karena Fadila sudah selesai bersiap, mereka turun bersama menuju ruangan yang sudah di siapkan pihak hotel.


"Widih, widih, pengantin baru muncul," ucap Dwi menggoda Fadila dan Arnan.


"Hawanya panas-panas hot-hot ya," kata Sinta pula ikutan menggoda.


"Panas sama hot apa bedanya, Sin?" Fadila duduk di dekat ibu Kiki yang kursinya memang kosong.


Sedangkan Arnan duduk di sebelah Anan yang ada di tengah-tengah antara dirinya dengan Fadila.


Kursi khusu untuk anak-anak yang memang di siapkan. Karena ada cucu-cucu dari papa Vian dan ayah Beni.


"Jangan menggoda Fadila, kalau sebentar lagi kalian juga merasakannya," ucap ibu Kiki.


"Itukan masih beberapa bulan lagi, Bu. Ada yang di depan mata, godain dulu saja," ucap Dwi.


"Nasehati Dwi bukan begitu, Bu." Surya kakak laki-laki kandung Dwi buka suara.


"Gimana memangnya, Mas?" Tanya Dewi kakak Dwi satu lagi.


"Tunda pernikahannya sampau tahun depan," ucap Surya santai.


Dwi yang mendengar itu mengajukan protesnya tidak terima. "Jangan dong, kejam banget sih Mas. Tahun depan masih enam bulan lagi."


"Ya sabar-sabar saja, Dwi." Riki ikutan bersuara.


"Gak bisa sabar dong, Mas. Fadila saja main cepat, masa aku harus menunggu lama." Cemberut Dwi.


"Menikah sekarang saja, Dwi." Mami Gina bersuara.


"Boleh juga tuh, Mi!" Semangat Dwi yang mendapat pelototan dari ibu Kiki.


"Pernikahan Fadila saja baru selesai, kamu sudah mau menikah sekarang? Ck, ck, ck, anakmu Yah." Ibu Kiki melihat ayah Beni.


"Harap maklum ya, Pak Simon dan keluarga. Mereka kalau sudah berkumpul memang begitu," ucap ayah Beni pada besannya.


"Gak masalah, Pak Beni. Kami malah senang melihat keakraban ini," sahut papa Simon.


Mereka sarapan bersama karena waktu yang juga terus berjalan. Selesai sarapan ayah Beni dan ibu Kiki berpamitan karena harus segera pergi.

__ADS_1


"Fadila, nanti malam datanglah kerumah. Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan kamu. Dan jangan lupa bawa cucu Ayah dan menantu Ayah juga," ucap ayah Beni sebelum pergi.


"Iya, Yah." Fadila mrngangguk.


__ADS_2