
Matahari pagi baru saja menampakan sinarnya, ada yang berbeda pagi itu, tak ada yang membangunkan Arsya seperti pagi-pagi sebelumnya. Pria itu menggeliat, matanya memicing menyesuaikan cahaya yang masuk melalui cela-cela jendela kamar. Tangannya menutup mulutnya yang menguap lebar, sementara sebelah tangannya yang lain meraba-raba tempat di sebelahnya yang ternyata sudah kosong.
Semalam Wafa tidur lebih dulu, dan sekarang perempuan itu pun sudah tak berada di sana. “Sayang..” Panggilnya dengan suara serak khas seseorang baru bangun tidur. Pria itu tidur kembali setelah melaksanakan ibadah subuh karena semalam tak bisa tidur, Wafa tidur membelakanginya, karena itulah Arsya tak bisa tidur dengan nyenyak.
Arsya bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa, tapi tidak dengan wafa. Perempuan itu menjadi lebih pendiam. Senyumnya dan tawanya hilang bersamaan dengan hatinya yang kembali patah.
“Sayang kamu dimana??” Ucap Arsya lagi, ia mendudukan dirinya dan bersandar pada kepala ranjang. Harum dari aroma kopi membuatnya menoleh, di atas nakas sebelah tempatnya tidur secangkir kopi yang masih mengepulkan asap tersimpan, mungkin Wafa yang menyiapkannya. Ya, siapa lagi jika bukan istrinya itu. Arsya mengulas senyum, sepertinya Wafa sudah baik-baik saja sekarang.
Arsya beranjak dari ranjang setelah menyempatkan diri menyesap sedikit kopi panas buatan istrinya. Ia menuju ke kamar mandi untukmembersihkan dirinya. Ia tak sabar ingin bertemu dengan Wafa dan memeluk perempuan itu.
Ritual mandi yang biasanya memakan waktu lama, kini Arsya menyelesaikannya dengan sangat cepat. Pakaian ganti untuknya pun telah tersedia di atas sofa, berikut dengan sepatu dan lengkap dengan jam tangan juga dasinya. Lagi-lagi Arsya mengulas senyum, pasti Wafa sudah menunggunya di bawah, perempuan itu pasti tengah menyiapkan sarapan seperti biasanya.
Setelah memakai pakaiannya dan memastikan kembali jika penampilannya sudah sempurna, Arsya segera keluar dari kamar. Ia bahkan menuruni anak tangga dengan sedikit berlari. “Sayang, kamu dimana??” Ucap Arsya setengah berteriak.
Karolina yang mendengar suara Arsya datang menghampiri dari arah dapur. “Wafa baru aja pergi.” Ucap sang mami.
“Pergi?? Pergi kemana mi??”
“Ke kantor lah, katanya ada hal penting yang harus dia kerjakan.”
“Hal penting?? Sepenting apa sampai dia pergi dan tidak membangunkan aku.” Gumam Arsya.
Mami mengangkat kedua bahunya kemudian kembali ke dapur. Bukan hanya Wafa yang merasa kesal pada Arsya, tapi juga mami. Perempuan itu menyayangkan sikap Arsya dan omonga pria itu yang tak memikirkan perasaan istrinya sendiri. Padahal jelas-jelas di mata mereka ada cinta, tapi keduanya bodoh dengan tidak menyadarinya.
Arsya mengurungkan niatnya untuk sarapan, ia memilih untuk langsung pergi ke kantornya saja.
Sepanjang perjalanan, Arsya merasa cemas. “Hal penting??” Gumamnya. Karena seingat Arsya, pagi ini tidak ada meeting dengan perusahaan manapun, jadi hal penting apa yang Wafa kerjakan??
Sampai di kantornya, Arsya memarkirkan mobilnya dengan asal di pelataran kantor. Ia memberikan kunci mobilnya pada salah satu penjaga untuk di parkirkan di tempat parkiran khusus untuknya.
__ADS_1
“Pak, apa istri saya sudah sampai?”
“Bu Wafa??” Tanya balik penjaga itu, karena Arsya mengumumkan pernikahannya kemarin melalui media, kabar Wafa istrinya Arsya pun sudah menyebar ke area kantor.
“Iya, siapa lagi.” Jawab Arsya kesal.
“Bu Wafa tadi sudah ke atas pak.”
Tak menjawab lagi Arsya berjalan cepat menuju lift. Pria itu mengetuk-ngetuk jarinya di pahanya sendiri, menunggu lift mengantarkannya ke atas yang ia rasakan menjadi terasa lama dari biasanya.
Pintu lift terbuka, Arsya tak menuju ruangannya, tapi ia menuju ruangan istrinya yang tepat berada di sebelah ruangan pria itu. Hanya tersekat kaca saja, sebenarnya bisa saja Arsya memasuki ruangannya terlebih dahulu kemudian ke ruangan Wafa melalui pintu penghubung, namun Arsya ingin langsung ke ruangan istrinya saja, ia sudah tak sabar bertemu dengan Wafa.
“Sayang..” Panggilnya saat ia melihat Wafa tengah membereskan mejanya.
Wafa menoleh. “Kamu sudah datang? Kopi mu sudah aku simpan di meja kamu.”
“Aku bukan mau kopi, tapi aku mau kamu.” Ucap Arsya seraya mendekat pada Wafa dan meraih tangan perempuan yang tengah membereskan mejanya itu.
“Oyah??” Arsya memeluk Wafa dari belakang, namun Wafa kembali melepaskan tangan Arsya.
“Ini di kantor mas.”
“Biarin aja, toh mereka sudah tahu kamu istri ku.”
Wafa enggan berdebat, tanpa berkata apapun ia menyodorkan amplop putih yang masih ia bpegang pada Arsya.
“Apa ini sayang??” Tanya Arsya.
Wafa melepaskan sebelah tangan Arsya yang masih membelit perutnya. Kemudian sedikit menjauh dari Arsya untuk memberikannya jarak pandang. “Buka aja mas.” Katanya.
__ADS_1
Arsya membuka amplop tersebut, matanya membulat tak percaya. Ia menatap surat di dalamnya juga menatap Wafa bergantian. “Surat pengunduran diri?? Maksud kamu apa sayang??”
“Aku mengundurkan diri mas, aku ingin pulang sementara ke Malang.”
“Pulang ke Malang??”
Wafa mengangguk.
“Tidak Fa, aku tidak akan mengizinkan kamu pergi dan surat pengunduran diri kamu ini aku tolak. Kamu masih terikat kontrak dengan ku, kamu tidak bisa seenaknya saja pergi Wafa.”
Wafa menunduk, bahunya bergetar menandakan jika ia mulai menangis. “Tapi aku benar-benar tidak bisa disini mas, maaf.”
Wafa mengambil tasnya, kemudian beranjak hendak meninggalkan ruangan itu. Tentu saja Arsya tak tinggal diam, ia menahan Wafa dan memeluk perempuan itu dari belakang.
“Jangan pergi aku mohon sayang, jangan tinggalin aku.”
“Kenapa mas? Akan lebih baik jika aku pergi.”
“Tidak, aku tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi.”
“Kenapa mas? Kenapa kamu melakukan ini pada ku? Bukankah akan lebih mudah jika kamu melepaskan ku saja, kamu tidak mencintai ku, untuk apa aku terus bertahan.”
“Gak, kamu gak boleh pergi.” Arsya semakin mengeratkan dekapannya.
“Maaf mas, tapi aku harus pergi. Biarkan aku menenangkan diri ku untuk sementara waktu.”
“Enggak, aku bilang enggak ya enggak.”
Wafa melepaskan tangan Arsya dengan kasar, ia berbalik. “Tapi kenapa mas? Kenapa aku tidak boleh pergi?” Pekiknya dengan air mata yang semakin membanjir.
__ADS_1
“Karena aku mencintai mu!!!”