
Hari keluarga kecil Fadila akan kembali pulang setelah puas liburan. Lebih tepatnya Arnan yang mengajak Fadila dan Anan untuk segera pulang dengan alasan pekerjaan yang mendadak.
Padahal alasan utama Arnan adalah karena tidak ingin liburan mereka terus di recoki oleh Febri. Mantan suami Fadila itu terus saja berusaha mencari di mana Fadila menginap.
Dan selalu berusaha untuk menemui Fadila lagi setelah tahu di kamar mana istri Arnan itu tingal. Arnan yang saat itu keluar kamar karena hendak membeli sesuatu seorang diri. Tanpa sengaja melihat ada seseorang yang sedang mencurigakan di sekitar lorong kamarnya.
Karena penasaran apa yang akan di lakukan pria itu. Arnan mengamati gelagat pria mencurigakan itu. Benar saja kecurigaan Arnan kalau pria itu sedang mengintai salah satu kamar di sana. Dan yang menjadi target adalah kamar di mana ia dan keluarganya tinggal.
Takut keluarganya dalam bahaya, Arnan batal pergi dan memilih kembali ke kamarnya lagi. Sontak saja pria yang tadi hendak mendekat ke kamar Arnan pura-pura mencari sesuatu.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Arnan sempat melihat wajah orang mencurigakan tadi. Cukup terkejut saat mengetahui kalau itu adalah mantan suami istrinya.
Itulah sebabnya Arnan mengajak istri dan anaknya untuk pulang saja. Beruntungnya Anan sangat antusias karena akan naik pesawat. Fadila juga tidak banyak bertanya setelah di beri satu alasan oleh Arnan akan kepulangan mereka.
"Semua sudah siap? Gak ada yang tinggal lagi kan?" Tanya Arnan pada Fadila sebelum mereka benar-benar pergi.
Fadila geleng kepala dan memberi tanda oke pada suaminya dengan mengangkat jempol. Arnan segera menarik dua koper mereka keluar kamar. Di luar sudah ada seorang petugas hotel yang di mintai tolong Arnan untuk membawa koper mereka.
Arnan sendiri menggendong Anan dan menggandeng Fadila. Di ikuti petugas hotel di belakang mereka.
"Pesawatnya masih jauh, Daddy?" Tanya Anan yang sudah tidak sabar ingin naik pesawat.
"Masih," jawab Arnan.
"Benarkah? Kalau begitu jalan yang cepat Daddy, nanti kita di tinggal sama pesawatnya."
Arnan dan Fadila terkekeh mendengar ucapan Anan. Begitupun petugas hotel yang mengikuti mereka.
"Pesawatnya gak akan pergi sebelum kamu naik, Nak." Arnan mengecup pipi Anan gemas.
"Pesawatnya tungguin kita, Daddy? Nanti gak ada yang malah kan kalau pesawatnya tungguin kita?" Tanya Anan dengan wajah polosnya.
"Gak akan ada yang berani marah, Sayang. Mereka sabar kok nunggu anak Mami yang tampan ini untuk naik pesawat." Fadila tak kalah gemas dengan anaknya.
"Gitu ya, Mi?" Fadila mengangguk.
__ADS_1
Ting
Lift terbuka dan keluarga kecil itu masuk begitu saja ke dalam tanpa melihat-lihat lagi. Kedua orang dewasa itu sedang sibuk meladeni semua ucapan Anan mengenai pesawat. Bahkan pria yang membawa koper mereka juga nampak ikut larut dalam semua kalimat Anan.
"Fadila."
Bukan hanya yang namanya di sebut saja yang menoleh. Arnan dan Anan juga ikut menoleh dan menatap si pemanggil yang ada di dalam lift itu juga.
Kenapa harus ketemu mereka sih? Bikin mood buruk saja, batin Fadila merasa sangat malas bertemu keluarga mantan suaminya.
"Wah, ada mantan menantu mandul di sini. Kamu ngikutin kita, ya?" Sinis bu Rita menatap Fadila.
"Iya nih, Bu. Dia pasti ikutin kita karena mau rebut suami aku," ucap Baby ikut angkat bicara.
Fadila sama sekali tidak menanggapi ocehan kedua wanita sinis itu. Apa lagi Arnan yang sama sekali tidak menganggap keberadaan keluarga Febri sama sekali. Toh mereka tidak merasa sedang di ajak bicara oleh bu Rita dan Baby.
Hingga tanpa sengaja mata Fadila melihat Baby yang curi-curi pandang pada suaminya.
"Mas, kalau misalnya ada perempuan gatel yang deketin kamu. Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Fadila santai pada sang suami.
"Mas, akan bawa dia ke hadapan kamu. Supaya kamu bisa bantu garuk," ucap Arnan yang membuat Fadila tersenyum kecil.
"Beneran, Mas? Tapi garuknya mau pakai apa ya, Mas?"
"Pakai golok bisa."
"Tapi lebih enak kalau pakai pisau yang sudah di lumuri bubuk cabai."
"Boleh juga tuh."
Keduanya terkekeh bersama, hingga petugas di belakang mereka ikut buka suara.
"Lebih abdol kalau di garuk langsung saja pakai bubuk cabai terpedas, Nona. Supaya rasanya lebih hot," ucap si petugas yang memancing tawa Fadila serta Arnan.
Anan yang tidak tahu pembahasan orang tuanya hanya bisa ikut tertawa sata kedua orang tuanya tertawa.
__ADS_1
Bu Rita dan Baby mengepalkan kedua tangan merek erat. Merasa kesal mendengar obrolan yang terdengar menyindir. Terutama Baby yang paling merasa di sindir oleh Fadila dengan pertanyaan tadi.
"Heh, mandul. Jaga ya ucapan kamu! Jangan mengatai orang sembarangan. Siapa yang perempuan gatel, hah? Kamu itu yang perempuan gatel. Sudah punya suami tapi masih ganggu suami orang lain," ucap Baby tidak terima.
"Kenapa Nona marah? Nona merasa tersindir dengan ucapan Nona ini? Padahal Nona ini tidak menyebutkan nama siapapun tadi," ucap si petugas hotel dengan tampang polosnya.
Baby yang mendengar pernyataan petugas hotel itu jadi tergugu sendiri. Ia melirik Febri yang menatap tajam padanya. Baby hanya bisa menelan salivanya dan memilih diam dari pada semakin membuat keadaan kacau.
"Heh pelayan! Kamu gak usah ikut campur sama urusan orang lain, ya. Mau saya aduin kamu sama atasan kamu, hah?" Bu Rita melotot menatap petugas hotel yang berdiri di hadapan Fadila dekat tombol lift.
"Salah saya apa, Bu? Saya kan tadi hanya bertanya pada Nona itu." Petugas hotel itu menatap Baby sekilas lalu kembali menatap bu Rita yang masih melotot.
"Tentu kamu salah karena sudah ..."
"Cukup, Bu! Jangan ada lagi keributan," ucap Febri menghentikan kalimat ibunya.
Febri sudah merasa tidak enak mendengar keributan ibu dan istrinya sejak tadi. Febri sebenarnya ingin menghentikan ucapan ibu dan istrinya sejak awal. Namun ketika ia melihat wajah Anan yang sangat mirip dengan Fadila.
Pria itu mengurungkan niatnya dan fokus menatap bocah gembul di gendongan suami Fadila itu. Ia terus berpikir, mengapa anak kecil itu bisa mirip dengan Fadila? Siapa bocah itu sebenarnya? Bukankah Fadila dan suaminya baru menikah? Kenapa sudah memiliki anak sebesar itu?
Ting
Lift terbuka setelah sampai di lantai bawah, Arnan dan Fadila segera keluar dari hotel setelah melakukan cek out. Namun saat belum benar-benar keluar dari hotel.
Febri mengejar dan terus memanggil nama Fadila layaknya orang yang takut kehilangan.
"Fadila! Tunggu, Fa!"
Arnan dan Fadila yang mengetahui siapa si pemanggil memilih abai. Mereka meneruskan langkah dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu. Fadila tidak ingin lagi berkomunikasi dengan Febri.
Wanita itu tidak mau mendapatkan fitnah ataupun hinaan dari istri dan ibu mantan suaminya. Kini mereka sudah bahagia dengan pasangan dan keluarga masing-masing.
Jadi Fadila memilih acuh saja dan terus bersikap manja kepada suaminya yang tentu menyambut baik sikap manja Fadila itu.
"Fa tunggu, kita harus bicara," teriak Febri.
__ADS_1
Namun tidak mungkin teriakan itu di dengar oleh Fadila yang ada di dalam mobil. Bahkan mobil itu sudah melaju meninggalkan lobi hotel.