PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 50.


__ADS_3

Di dalam pesawat Anan kecil duduk seorang diri tanpa mau di pangku sang mami atau sang daddy.


Anan belajar menulis dengan mencontoh yang ada di buku lainnya. Buku yang di belikan Fadila dan selalu di gunakan untuk belajar menulis serta membaca.


Fadila hanya mampu melihat anaknya dari kursi samping. Anan yang sedang serius memang tidak pernah mau di ganggu.


"Dia sangat cerdas," ucap Arnan pelan sembari memeluk Fadila di sampingnya.


"Iya, sejak mulai belajar menulis dan membaca, Anan jadi semakin cerdas dan kritis," sahut Fadila.


"Apa kamu sudah hamil lagi, sayang?" Pertanyaan Arnan membuat Fadila menoleh.


"Kenapa, Mas?" Tanya Fadila balik.


"Mas, sudah gak sabar pengen punya anak lagi. Pasti bakalan seru kalau ada Anan lain yang gak kalah menggemaskan dari Anan kita itu."


Fadila tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Belum rezeki, Mas. Sabar dulu, mungkin nanti bakalan ada adiknya Anan."


"Mas, selalu sabar kok sayang. Yang satu itu saja sudah bersyukur, apa lagi nanti kalau punya lagi."


Keduanya tersenyum bersama menatap Anan yang sedang fokus.


Hingga beberapa saat kemudian, Anan selesai dengan kerjaannya. Bocah itu melihat kedua orang tuanya yang tertidur di kursi samping.


Karena keasikan bercerita, Fadila dan Arnan tanpa sadar tertidur.


Anan mendekati orang tuanya dan menaiki tubuh sang Daddy. Memeluk daddy nya dan ikut tertidur di pelukan pria itu.


Sampai beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di bandara. Keluarga kecil itu bangun karena di bangunkan oleh Pramugari.


Mereka keluar dari pesawat dan menuju mobil yang sudah menunggu.


"Pantainya masih jauh, Dad?" Tanya Anan menatap daddy nya.


Bocah itu sudah tidak sabar lagi untuk bermain di pantai. Dan perjalanan yang terlalu lama membuatnya bosan.


"Sabar ya, Nak. Besok kita baru bisa ke pantai, soalnya kan kita harus cari tempat tinggal dulu," ucap Arnan pura-pura sedih karena harus menunda ke pantai.


Arnan ingin menggoda anaknya saja sebenarnya.


"Ya ... Daddy bohong, aku ndak mau sama Daddy."


Anan berpindah duduk dari pangkuan Arnan ke pangkuan Fadila. Bocah itu menyembunyikan wajahnya di dada sang mami dengan sedih.


Arnan menghela napas melihat kesedihan anaknya. Namun ia maish ingin menggoda bocah itu. Sedangkan Fadila geleng kepala saat mendapatkan kedipan dari suaminya.


Wanita itu segera mengelus kepala Anan.

__ADS_1


"Gak boleh begitu, Nak. Daddy gak bohongi Anan, kok. Daddy cuma gak mau kamu kecapean karena jauh perjalanannya. Kita tidur dulu, nanti baru ke pantai." Gantian Fadila yang membujuk anaknya.


Tapi pandangan matanya melirik tajam suaminya yang malah terkekeh tanpa suara.


"Maafin Daddy ya, Nak. Janji deh besok kita ke pantai, Daddy juga bakalan beliin apapun yang Anan mau. Maafin Daddy, ya!" Arnan memasang wajah sedih untuk menarik perhatian Anan.


Anan mengangkat wajahnya dan melihat daddy nya yang sedih. Bocah itu melepaskan pelukannya pada Fadila lalu mengecup wajah Arnan.


"Janji ya, Daddy. Besok kita ke pantai benelan, aku juga mau di beliin pesawat telbang yang sepelti tadi."


Arnan tersenyum seraya mengangguk setuju. Sedangkan Fadila melotot tak percaya menatap suaminya yang begitu mudah menyetujui permintaan Anan.


"Mas, jangan semua permintaan Anan di turuti. Pesawat itu mahal, Mas. Masa iya kamu mau beliin Anan pesawat sebesar itu," bisik Fadila pada suaminya.


"Tenanglah, Mami. Itu urusan Daddy, yang penting anak kita tenang," bisik Arnan pula.


Fadila tercengang dengan kesantaian suaminya berucap. Bagaimana ia bisa tenang kalau begitu caranya. Pesawat seperti yang nereka naiki tadi sangat mahal harganya.


"Tapi, Mas ..."


Arnan malah mengecup kening Fadila sejenak lalu mengkode kalau Anan memperhatikan mereka. Fadila diam dan menatap anaknya yang memang sedang melihatnya dan sang suami bergantian.


"Aku mau cium Mami juga," ucap Anan lalu meraih wajah Fadila.


Melabuhkan kecupan di pipi Fadila lalu bergantian di pipi Arnan. Mereka tersenyum bersama dengan bahagia saat Anan selesai mengecup kedua orang tuanya.


Setelah mendapatkan kunci kamar, mereka menuju kamar yang sudah di pesan.


"Mami, aku mau mandi lagi." Pinta Anan begitu sampai di kamar.


"Ayo mandi sama Daddy, Nak." Arnan menyambar tubuh anaknya dan pergi ke kamar mandi bersama.


Fadila hanya bisa geleng kepala saat melihat kepergian suami dan anaknya yang malah saling bercanda menuju kamar mandi.


Wanita itu menyiapkan pakaian anak dan suaminya serta handuk juga.


"Daddy! Anan! Ini handuknya," panggil Fadila seraya mengetuk pintu.


Anan membuka pintu lalu tersenyum lebar pada maminya.


"Ini handuknya, Nak." Fadila mengulurkan dua handuk di tangannya.


Bukannya menerima handuk yang di ulurkan Fadila. Anan malah bergeser dan berganti dengan tangan besar yang menarik tangan Fadila.


Akh


Kaget wanita itu saat mendapatkan tarikan tiba-tiba. Pintu kamar mandi di tutup oleh Anan, sedangkan Arnan menarik handuk di tangan Fadila lalu menyiram wanita itu.

__ADS_1


"Ayo mandi juga, Mami." Arnan mengarahkan air ke istrinya.


"Daddy, hentikan!" Fadila menutupi wajahnya agar tidak kena air.


Walau itu sia-sia karena bajunya sudah basah.


"Telus, Daddy. Silam Mami, silam." Anan malah senang sambil tepuk tangan menyaksikan maminya di siram.


"Daddy, sudah." Pinta Fadila yang tak di hiraukan Arnan.


"Mandi, Mami. Kami saja sudah basah," ucap pria itu.


Anan tertawa dan ikutan merangkul kaki Fadila agar kena siram pula.


"Silam aku, Daddy." Pintanya yang di turuti oleh Arnan.


"Siram, siram." Arnan semakin menyirami anak dan istriya, tidak lupa pula dirinya sendiri.


Mereka bermain di kamar mandi bersama dan saling tertawa bahagia. Meski terlihat kekanakan dan konyol, nyatanya mereka bertiga bahagia dengan apa yang mereka lakukan.


Yang penting kebahagiaan mereka datangnya bukan hasil dari penderitaan orang lain.


Selesai mandi dan berganti pakaian, mereka bertiga keluar dari kamar untuk mencari makan. lelah bermain air tadi membuat ketiganya lapar.


Selesai makan barulah keluar hotel dan pergi menuju suatu tempat.


"Kita mau kemana, Daddy?" Tanya Anan.


"Kemana, ya? Daddy lupa," ucap Arnan menggoda anaknya.


"Daddy ..." rengek bocah itu memeluk leher Arnan dan menyembunyikan wajahnya di leher Arnan.


Pria itu tergelak melihat wajah menggemaskan anaknya kala merengek. Hingga tak lama berjalan, mereka tiba di pantai yang hanya berjarak 100 meter dari pantai.


"Wah, indahnya ..." seru Arnan memancing anaknya untuk melihat.


Mata Anan berbinar begitu melihat pantai yang sangat ingin di datanginya sejak tadi.


"Tulun Daddy, tulun."


Arnan menurunkan putranya yang berontak ingin turun. Setelah turun bocah itu menarik kedua orang tuanya untuk bermain.


Anan bahkan mengajak daddy nya untuk bermain air lagi. Fadila hanya bisa mengamati saja kedua pria beda usia itu bermain.


Benarkan firasat Fadila, kalau dirinya hanya akan seperti orang ketiga di antara Anan dan Arnan. Mereka berdua asik bermain bersama di air, namun tidak terlalu jauh dari bibir pantai.


Fadila duduk di pasir tidak jauh dari suami dan anaknya dengan beralaskan sendal. Ia bukan tidak ingin bergabung bersama Anan dan Arnan. Wanita itu tidak ingin rok panjangnya basah.

__ADS_1


Sedangkan Arnan dan Anan memakai celana selutut, jadi mereka tidak akan basah karena hanya bermain.


__ADS_2