PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 45.


__ADS_3

Selesai sarapan, mereka semua bersiap untuk pulang. Begitupun dengan Fadila dan keluarga kecilnya.


Berjalan menuju lobi hotel, mereka berbincang hangat sembari bercanda.


"Fa, kalian mau bulan madu kemana?" Tanya Dwi kepo.


Fadila menatap suaminya, karena mereka memang belum membicarakan soal bulan madu. Jadi Fadila tidak bisa menjawab apapun pertanyaan Dwi.


"Mas!" Panggilnya.


"Kenapa, sayang?" Arnan yang tadi sedang bercerita dengan Riki dan Surya menoleh pada Fadila di sampingnya.


"Kapan kalian mau bulan madu, Ar?" Tanya Dwi.


"Diaman kalian mau bulan madunya?" Tanya Sinta pula.


Arnan yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum. Ia yang sedang menggandeng Anan berjalan segera mengangkat tubuh bocah itu ke gendongannya.


"Anan, mau gak jalan-jalan?" tanya Arnan pada anaknya.


"Mau-mau, mau jalan-jalan Daddy." Semangat Anan tersenyum lebar.


"Maunya kemana kalau jalan-jalan?" Tanya Arnan.


Anan nampak berpikir sembari menggembungkan kedua pipinya. Jari telunjuk tangan kanannya di letakkan di dagu.


Hal itu sukses membuat gemas orang-orang dewasa di sana.


"Jangan terlalu gemesin kenapa sih, An? Tante jadi gak tahan pengen cubit pipi kamu." Siska mendekati Anan dan mencubit gemas pipi Anan.


Akhirnya keinginannya untuk mencubit pipi Anan tersampaikan juga.


"Jangan Tante, aku lagi mikil," ucap Anan dengan wajah cemberutnya karena di ganggu.


"Mikirin apa sih, Nak? Berat banget sepertinya." Dewi ikutan gemas juga dengan Anan.


"Kami mau jalan-jalan, Tante. Aku lagi mikil, mau jalan-jalan ke ..." bocah itu menggantung ucapannya dan berpikir lagi.


"Kepantai," pekiknya senang setelah menemukan tempat yang ingin di kunjunginya.


Pandangan Anan berpindah ke daddy nya dan merangkul leher pria itu dengan senyum lebarnya.


"Daddy, aku mau jalan-jalan ke pantai." Arnan tersenyum pada anaknya lalu mengecup pipi Anan gemas. "Baiklah, Boy. Besok kita kepantai," ucap Arnan yang membuat Anan bersorak senang.


"Yey ... Ke pantai, ke pantai. Mami, kita mau kepantai besok." Anan menoleh ke belakang tubuhnya di mana maminya berada.


"Iya, Nak." Fadila mengelus kepala Anan sembari tersenyum.


"Mama! Kami mau ke pantai juga," ucap anak Dewi pula.

__ADS_1


"Iya, kami mau ke pantai juga."


Anak-anak yang lainnya jadi ikutan ingin ke pantai karena Anan. Hal itu sukses mengundang tawa para orang dewasa. Wajah polos anak-anak mereka saat meminta ke pantai.


"Baiklah anak-anak, akhir pekan besok kita semua akan ke pantai," seru Dwi dan Sinta memprovokasi.


Padahal para orang tua belum menyetujui permintaan anak-anak mereka. Tapi kedua gadis itu sudah memprovokasi.


"Wah, minta di batalin pernikahan mereka sepertinya." Riki menatap kedua adiknya kesal.


"Jangan ..." Dwi dan Sinta serempak bersuara.


Kembali mereka terkekeh bersama karena kelebayan Sinta dan Dwi berbicara.


Tak terasa waktu terus berlalu, saat ini Fadila dan Arnan sudah sampai di rumah bak istana yang sudah di tempati selama dua hari ini.


"Mas! Anan!" Panggil Fadila yang tak melihat keberadaan suami dna anaknya di lantai 3.


Taid suaminya itu masih bersama Anan bermain kejar-kejaran. Tapi sekarang keduanya sudah tidak terlihat lagi.


"Mas! Anan!"


Fadila turun menggunakan tangga ke lantai dua, ia terus memanggil suami dan anaknya. Hingga seorang pelayan memberitahu Fadila di mana keberadaan dua orang yang di cari Fadila itu.


"Tuan Muda dan Tuan Muda Kecil berada di lantai bawah, Nyonya Muda. Mereka tadi menuju kolam berenang."


"Ah baiklah, terimakasih ya." Fadila tersenyum pada pelayan itu lalu beranjak turun ke lantai bawah.


"Baik banget sih Nyonya muda, mana lembut banget lagi suaranya. Cantik orangnya, paket komplit pokoknya. Cocok lah sama Tuan Muda," ucapnya.


Pelayan itu melanjutkan pekerjaannya bersih-bersih di lantai dua.


Sedanhkan Fadila berjalan menyusuri lantai satu menuju kolam renang. Saat baru saja melangkahkan kakinya ke area kolam renang. Faidla menghentikan langkahnya ketika kedua matanya melihat keberadana kepala pelayan.


Wanita muda itu berdiri tak jauh dari kolam renang sembari menatap suaminya penuh kagum. Belum lagi di tangannya ada baju Arnan yang sedang di peluk sembari di cium-cium.


Sedangkan baju Anan tergeletak di bawah kakinya. Bahkan di injak dengan satu kakinya. Fadila jadi berkesimpulan buruk tentang kepala pelayan itu.


Ia tetap diam di tempatnya menatal dan mengawasi apa yang di lakukan perempuan itu. Sampai ucapan si kepala pelayan membuat Fadila menyadari satu hal.


"Tampan banget sih, Tuan Muda. Andai belum menikah, aku pasti bakalan berusaha untuk dapatkan dia. Eh, tapi istrinya kan seorang janda, pasti gak ada apa-apanya kalau di bandingkan sama aku."


Kepala pelayan itu memeluk erat baju Arnan semabri tersenyum bahagia. Belum lagi ia menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri tanda sangat senang.


Bibit pelakor sudah muncul, batin Fadila.


Tidak tahan melihat kelakuan kepala pelayan itu, Fadila berjalan lagi sembari berdehem yang membuat kepala pelayan kaget dan gugup seketika.


"Nyo-Nyonya Muda," ucapnya sembari menunduk pada Fadila untuk menyembunyikan ke gugupannya.

__ADS_1


Fadila membungkukkan tubuhnya ke bawah dna mengambil pakaian Anan yang maish saja di injak kepala pelayan itu.


Melihat apa yang hendak Fadila lakukan, kepala pelayan itu menarik kakinya dengan cepat dan mundur dua langkah dari tempat semula.


"Lain kali perhatikan pekerjaanmu," ucap Fadila menyerahkan bau Anan pada kepala pelayan itu.


Pandangan ibu satu anak itu juga menajam menatap kepala pelayan yang semakin gugup.


"Ba-baik Nyonya Muda. Maafkan kelalaian saya," kata kepala pelayan itu sembari menerima baju Anan.


Fadila melihat kepala pelayan dari atas sampai bawah.


"Kenapa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan dengan suami saya?" Satu alis Fadila naik menatap kepala pelayan yang tak juga pergi.


Tanpa menjawab pertanyaan Fadila, kepala pelayan itu pergi begitu saja dari hadapan Fadila. Fadila sendiri terus memperhatikan gerak-gerik wanita muda yang baru pergi itu.


"Aku akan terus memantaumu, gak akan ku biarkan bibit pelakor sepertimu merusak rumah tanggaku," gumam Fadila.


"Kenapa, Mi?"


Fadila kaget dan langsung menoleh ke belakang, dimana suami dan anaknya sudah berada di belakangnya. Mengenakan handuk putih besar yang membalut kedua tubuh pria beda usia itu.


"Sudah selesai berenangnya? Kok Mmai gak tahu, ya?" Fadila tersenyum sembari menyentuh pipi Anan.


"Mami, lihat apa dali tadi? Kami datang Mami telus lihat ke sana," ucap Anan sembari menunjuk arha keluar area kolam.


"Lihat apa, ya?" Fadila pura-pura berpikir sembari menatap anaknya.


"Lihat Daddy pastinya, karena Daddy sangat tampan rupawan siapapun gak bisa menolak pesona Daddy," kata Arnan dengan percaya diri yang membuat Fadila tersenyu..


"Aku yang ganteng, Daddy. Kata Mami, aku anak yang paling ganteng," protes Anan pada daddy nya.


"Kamu ganteng versi anak-anak, boy. Kalau Daddy, versi dewasa." Arnan tak mau kalah dengan anaknya.


"Tapi aku yang paling ganteng, Daddy."


"Daddy, yang paling ganteng dari siapapun."


"Aku."


"Daddy."


"Aku."


"Daddy."


Fadila memegangi kepalanya sembari geleng-geleng. Tidak menyangka kalau akan melihat perdebatan kecil antara suami dna anaknya.


"Sudah, sudah, kalian berdua yanh paling tampan untuk Mami," ucap Fadila melerai.

__ADS_1


Wanita itu memeluk suami dan anaknya bersamaan. Melabuhkan kecupan di kening Anan lalu berpindah ke pipi suaminya.


Mereka tersenyum bersama dan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Anan harus segera ganti baju sebelum masuk angin.


__ADS_2