PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 64


__ADS_3

"Gak bisa gitu dong, Ar. Kamu cuma cinta sama aku, dan harus aku yang jadi istri kamu. Bukan perempuan itu atau yang lainnya," ucap Fika tidak terima.


"Tapi kenyataannya kamu bukanlah siapa-siapa, aku lah istri yang sah secara agama dan negara. Kamu hanya perempuan salah alamat yang tiba-tiba datang mengganggu," kata Fadila tidak mau kalah.


"Tapi tadi Arnan bilang kalau dia sudah menikah sebelumnya. Bahkan ia sangat mencintai dan tidak ingin kehilangan istrinya. Cinta Arnan tulus untuk istrinya dan gak mungkin bisa terbagi lagi. Jadi ..."


"Jadi ..." Fadila menyela ucapan Fika sembari menatap dengan pandangan gelinya.


"Jadi kamu jangan sembarangan peluk-peluk dan cium Arnan begitu saja. Kamu gak berhak," ucap Fika yang maish saja ngotot.


"Memangnya siapa yang pantas seperti ini pada Mas Arnan kalau bukan aku? Kamu?" Tanya Fadila.


"Ya istrinya lah," sahut Fika sewot.


"Aku istrinya, kamu pernah lihat berita tentang pernikahan kami kan?" Fika mengangguk.


"Ya sudah, artinya aku memang berhak atas suamiku sendiri. Kamu yang hanya orang asing jangan cari masalah disini, lebih baik pergi saja sana," usir Fadila.


"Gak bisa gitu dong, aku juga istrinya Arnan. Jadi aku juga berhak ada di sini dan mendapatkan segala fasilitas dari suami aku," ucap Fika yang tidak ingin pergi dengan tangan kosong.


"Oh, mau fasilitas ya? Ayo ikut aku," ajak Fadila sembari berjalan keluar dari ruangan Arnan di ikuti oleh Fika.


Arnan sendiri hanya geleng kepala melihat istrinya pergi. Ia yakin kalau akan ada hal di luar dugaan Fika yang di berikan oleh Fadila. Arnan tidak mau ambil pusing dengan hal itu dan membiarkan saja istrinya menyelesaikan sendiri urusan Fika.


Sudah cukup ia tadi berdebat dan mengusir Fika sang mantan pacar. Namun sama sekali tidak di gubris dan malah membuat keributan dengan segala ucapan ngelanturnya.


"Kamu mau bawa aku kemana, hah?" Tanya Fika saat mereka sudah keluar dari lift dan menuju lobi kantor.


"Katanya minta fasilitas, ya sudah ikut saja jangan banyak protes," ucap Fadila santai sembari terus berjalan di ikuti oleh Fika di sampingnya.

__ADS_1


Fika menatap bingung kala langkah mereka keluar dari area perusahaan Arnan dan menuju halte.


"Kenapa kita ke sini? Bukannya kamu mau kaish aku fasilitas?" Tanya Fika lagi setelah mereka tiba di halte yang terisi dengan beberapa ibu-ibu yang menunggu bus.


"Ini fasilitasnya, silahkan nikmati fasilitas yang ada. Di sini kamu bisa pakai sepuasnya fasilitas halte, asal jangan di bawa pulang." Fadila terkekeh pelan lalu balik arah hendak masuk ke dalam perusahaan lagi.


"Maksud kamu apa? Yang aku mau itu fasilitas mobil untuk pulang," kesal Fika.


"Ya sudah kamu tunggu di sini, sebentar lagi juga ada mobil yang lewat walau bus. Kalau yang lebih nyaman pesan taksi," kata Fadila.


"Maksudku itu mobil pribadi."


"Taksi juga mobil pribadi, bahkan fasilitas yang bisa kamu pakai kapan saja selama kamu bayar."


Fadila memberikan senyum terbaiknya untuk Fika yang sudah nampak sangat kesal.


"Aku tahu, kamu cuma perempuan yang datang ke kantor suamiku lalu menggodanya. Dengan mengaku sebagai mantan istrinya kamu ingin mendapatkan fasilitas mewah dari suamiku. Aku benar kan?" Sinis Fadila.


Menghadapi wanita modelan Fika yang bisa menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Tidak perlu beramah tamah apa lagi berlembut ria dan mengalah. Harus tegas tapi tetap santai.


"Aku memang mantan istrinya dan sudah sepatutnya aku mendapatkan separuh fasilitas yang di miliki mantan suamiku," ucap Fika sombong.


"Aneh ya, sudah mantan kok masih menuntut harta mantan suami bersama istri baru. Apa dulu saat bercerai gak bahas gono gini?"


"Mungkin suami mbak yang sana gak kasih sama mbak yang jadi mantannya ini."


"Mungkin ada masalah serius makanya mbak mantan ini gak di kasih harta gonk gini."


"Tapi namanya gono gini harus tetap di kasih walau sudah bercerai, dan itu mutlak."

__ADS_1


Bisik-bisik para ibu-ibu yang sejak tadi menonton itu terdengar hingga ke telinga Fadila dan Fika. Tentu saja hal itu membuat Fika merasa senang karena mendapat dukungan. Ia yakin kalau sebentar lagi istri dari mantan pacarnya ini akan malu.


"Benarkah kamu mantan istri suamiku? Boleh aku tahu kapan kalian menikah dan bercerai? Apa alasan dari perceraian kalian itu?" Tanya Fadila yang membuat Fika gugup, tapi perempuan itu berusaha menutupinya.


"Kami menikah 5 tahun lalu dan bercerai satu tahu lalu. Kami bercerai karena kamu yang merebut suamiku, dasar pelakor." Fika sekalian mengolok Fadila dan membalikkan fakta kalau sebenarnya dia yang ingin jadi pelakor. Serta mengarang saja waktu yang di ucapkannya tadi.


"Dimana kalian menikah? Pastinya mengadakan pesta besar dong, secara Mas Arnan kan pengusaha," kata Fadila yang masih tetap santai .


"Tentu saja pestanya sangat meriah, apa lagi kami mengadakan pesta di salah satu hotel terkenal di negara ini. Kamu tahu hotel di bawah naungan grup AR? Di sanalah kami menikah." Sombong Fika yang malah membuat Fadila ingin tertawa.


"Astaga ternyata kamu sangat pandai mengarang cerita, ya. Tapi suamiku sudah 10 tahun lebih di luar negeri dan selama itu belum pernah kembali ke negara ini. Baru beberapa bulan lalu kembali bersamaku, itupun untuk merayakan pernikahan kami. Apa mungkin kamu salah orang dengan mengaku-ngaku sebagai mantan istri suamiku? Tapi suamiku masih lajang loh waktu kami akan menikah."


Wajah Fika berubah panik mendengar semua ucapan Fadila. Ia tidak menyangka kalau istri dari mantan pacarnya ini bukan orang yang mudah di sakiti apa lagi di hina. Sepertinya ia sudah salah target.


Dengan tergesa Fika pergi meninggalkan halte di mana ia sudah mendengar cibiran para ibu-ibu yang menuduhnya pelakor. Bahkan menyoraki dirinya karena sudah berbohong juga.


Fadila tersenyum tipis menatap kepergian Fika lalu berjalan kembali masuk ke dalam kantor. Namun baru sampai di lobi, Fadila sudah melihat kedatangan suami dan anaknya.


"Mau kemana, Mas?" Tanya Fadila.


"Pulang, kerjaan Mas sudah selesai."


Fadila meraih tas selempangnya dari bahu Arnan, di belakang lria itu ada Sekretarisnya yang mengikuti membawakan tas belanjaan Fadila.


"Terimakasih, Mbak." Fadila tersenyum pada wanita berhijab itu setelah semua belanjaannya masuk ke bagasi.


"Sama-sama, Nyonya." Ramahnya tersenyum pula dan melambaikan tangan pada Anan. "Ba bay anak ganteng," ucapnya lagi pada Anan yang membalas lambaian tangannya.


Mobil melaju meninggalkan kantor yang baru akan masuk jam pulang kerja 30 menit lagi. Sekretaris Arnan kembali ke atas lagi dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda sebelum pulang.

__ADS_1


__ADS_2