PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 65.


__ADS_3

Di Bali, Febri bersiap untuk pulang karena ia ingin mengejar Fadila. Bahkan kemarahan ibu dan istrinya tidak ia hiraukan sama sekali.


"Harusnya kita pulang 3 hari lagi, Mas. Kenapa harus sekarang kita pulangnya?" Kesal Baby.


"Kalau kamu gak mau pulang, tetaplah di sini bersama ibu. Aku akan bawa Beni pulang," ucap Febri acuh.


"Beneran, Mas? Aku sama ibu boleh tinggal lama di sini?" Tanya Baby memastikan dengan senyum bahagianya.


"Iya, tapi pakai uang kamu sendiri." Senyuman Baby hilang seketika itu juga.


Kalau hanya dirinya sendiri yang tinggal bukan masalah baginya untuk membiayai dirinya. Namun jika sang ibu mertua ikut tinggal dan dia yang membiayai, maka lebih baik tidak usah.


Kebutuhan dirinya sendiri saja sudah banyak, kalau harus mengurus sang mertua yang keinginannya mengimbangi dirinya. Bisa habis uang yang di berikan suaminya.


Meski Febri memberikan uang yang banyak pada Baby hanya untuk kebutuhan pribadi wanita itu. Namun itulah yang membuat Baby tidak mau berbagi dengan mertuanya. Uangnya maka dia sendiri yang harus menghabiskannya, begitulah kira-kira prinsipnya.


"Kok kamu gitu sih, Mas? Ya kamu lah yang bayarin semua kebutuhan kami di sini," protes Baby.


"Aku cuma bayarin biaya hotel aja, selebihnya kalian bayar sendiri. Makan sama belanja kalian, tanggung sendiri."


Baby berdecak sembari menghentakkan kakinya ke lantai cukup kuat. Ia kesal tapi tidak bisa membantah karena tidak mau membayari mertuanya jika hanya tinggal berdua.


Akhirnya Baby membereskan semua pakaian mereka untuk pulang. Febri hanya melirik istrinya yang sedang berkemas itu. Ia sendiri menemani Beni yang sedang duduk sembari bermain.


Hingga akhirnya waktu keberangkatan mereka ke bandara tiba juga. Karena jadwal penerbangan 1 jam lagi dan perjalanan ke bandara dari hotel hampir setengah jam.


"Kenapa cepat banget sih kita pulangnya, Feb? Bukannya masih ada 3 hari lagi kita di sini. Ibu belum puas jalan-jalannya, kita juga belum beli oleh-oleh dan yang lainnya."


Bu Rita mengeluarkan semua omelannya sejak tadi. Febri sendiri hanya acuh saja dengan semua ucapan ibunya. Heran saja dia, entah apa lagi yang akan di beli ibunya di Bali. Padahal barang-barang yang di inginkan ibunya rata-rata semuanya ada di Jakarta.

__ADS_1


"Ibu, belum sempat beli perhiasan yang cuma ada di Bali. Kemarin Ibu lihat postingan teman arisan Ibu, dia posting kalung berlian yang katanya di belinya di Bali. Ibu pengen punya juga tapi yang lebih bagus dan mahal," gerutu bu Rita.


"Memangnya kalung berlian yang gimana, Bu?" Tanya Baby pada sang mertua.


"Ini." Bu Rita menunjukkan gambar yang sejak tadi di maksudnya.


"Wah, ini bagus banget kalungnya. Kalau ini sih aku juga mau Mas, kita beli kalung yang seperti ini dulu yuk Mas. Nanti baru kita lanjut ke bandaranya," ucap Baby menatap suaminya penuh harap.


"Silahkan pergi sendiri, waktuku gak banyak untuk sekedar beli kalung yang banyak di jual Jakarta." Baby cemberut mendengar ucapan suaminya.


"Memang di Jakarta banyak, tapi ini katanya cuma ada di Bali, Febri. Jadi bisa di pastikan kalau di Jakarta gak ada yang model beginian" kata bu Rita.


"Kalau cuma menuruti katanya, artinya belum tentu ada. Apa lagi kalau berlian yang bagus tentu gak akan banyak di produksi. Stok terbatas, jadi dari pada cari kalung berlian yang belum tentu masih ada, lebih baik gak usah."


"Kalau memang sudah gak ada kita bisa beli yang lain, Mas. Yang penting kita beli sesuatu yang mahal dari kota ini. Masa jauh-jauh liburan ke Bali tapi gak beli apa-apa," ujar Baby mendukung mertuanya untuk beli berlian.


"Oleh-oleh untuk keluarga udah aku beli, semuanya di koper kecil itu. Kalau kalian mau beli seusatu yang mahal di kota ini pergilah, tapi jangan sampai kalian ketinggalan pesawat. Karena aku sama Beni gak akan nungguin kalian berdua."


Bu Rita dan Baby berdecak kesal mendengar kalimat Febri. Hilang sudah impian mereka untuk membeli perhiasan berlian baru. Padahal mereka sudah memiliki banyak perhiasan. Namun namanya perempuan kalau sudah punya banyak uang dan selalu mengikuti jaman. Maka barang yang sudah banyak akan selalu kurang di matanya.


Hingga mereka tiba di bandara dan beberapa menit berikutnya pesawat mengudara meninggalkan Pulau Bali.


Baby diam saja dan sangat acuh pada suami dan anaknya. Bahkan saat Beni mengantuk dan ingin bersamanya pun. Baby tetap acuh dan sibuk dengan dunianya sendiri.


Febri berdecak kesal melihat tingkah istrinya yang sama sekali tidak perduli dengan sang anak. Padahal Beni anak kandung Baby sendiri, tapi entah kenapa tidak ada sedikitpun rasa sayang Baby pada anaknya.


Lain di pesawat lain pula di Jakarta, keluarga kecil Fadila sedang jalan-jalan untuk menyenangkan bocah kecil di gendongan Arnan.


Anan sempat merajuk pada daddy nya karena tidak menemaninya membeli peralatan sekolah dan mendaftar. Apa lagi saat di mall tadi pria yang di panggilnya daddy itu tidak menemani.

__ADS_1


Jadilah saat ini mereka datang kembali ke mall dan menuju pusat permainan. Kedatangan mereka ke mall khusus untuk bermain di timezone.


Fadila hanya bisa memandangi suami dan anaknya bermain bersama. Ia tersenyum senang melihat kebahagiaan kedua pria beda usia itu.


"Mami, lapal." Anan menghampiri Fadila setelah ia merasa lapar.


"Oh, anak Mami sudah lapar ya? Capek gak mainnya, Nak?" Fadila mengusap keringat di wajah Anan.


Walau tidak banyak tapi itu membuat anaknya sedikit kurang nyaman.


"Main sama Daddy mana mungkin capek, iyakan sayangnya Daddy." Arnan mengangkat tubuh gembul Anan setelah Fadila selesai mengelap keringat Anan.


"Hahaha, iya main sama Daddy selu." Anan tertawa senang karena tubuhnya di angkat tinggi oleh Arnan lalu perutnya di gelitik menggunakan wajah daddy nya.


"Sudah Daddy, aku mau pipis."


Arnan menghentikan aksinya lalu menurunkan tubuh Anan.


"Kalau gitu kita ke toilet dulu, Mami mau ikut atau mau langsung ke restoran?" Arnan menatap istrinya sembari mengusap pipi Fadila lembut.


Arnan tidak ingin istrinya merasa di abaikan hanya karena ia lebih perhatian pada Anan.


"Mami, langsung ke retoran aja Dad. Nanti datang ke restoran itu, Mami tjnggu di sana." Fadila menunjuk restoran yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Baiklah, langsung pesan seperti biasa saja. Supaya nanti cepat datangnya." Fadila mengangguk lalu berjalan ke restoran setelah suami dan anaknya pergi ke toilet.


Fadila memesan makanan kesukaan suami dan anaknya. Tak lupa pula minuman untuk mereka ikut di pesannya langsung.


Hingga saat kedatangan Arnan dan Anan, pesanan mereka juga datang tak lama kemudian. Ketiganya menikmati waktu kebersamaan itu dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2