PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 66.


__ADS_3

Pagi hari yang sedikit mendung di kota Jakarta tak menyurutkan semangat seorang bocah yang akan mulai sekolah hari ini. Sejak bangun tidur ia sudah sangat semangat dan bahagia.


"Pagi, Daddy." Anan tersenyum menghampiri Arnan yang baru saja akan naik ke lantai atas untuk menyusul anak dan istrinya.


"Eh! Pagi juga anak Daddy yang tampan," sahut Arnan tersenyum tak kalah bahagia dari istri dan anaknya.


"Aku tampan sepelti Daddy, kan?" Anan memeluk tubuh Arnan yang mensejajarkan tinggi mereka.


"Oh, sudah pasti dong. Anak Daddy ya harus setampan dan sekeren Daddy nya."


Tubuh Anan di bawa ke dalam gendongan oleh Arnan lalu di kecupnya kedua pipi gembul Anan hingga bocah itu tertawa senang.


"Sudah, ayo kita turun sarapan." Fadila mengajak Arnan dan Anan untuk turun ke ruang makan yang bersatu dengan dapur.


Ketiganya sarapan bersama dengan nikmat hingga selesai. Setelahnya mereka naik mobil untuk pergi bersama ke sekolah Anan.


"Belajar yang rajin ya anak Daddy yang tampan, nanti kalau gak sibuk Daddy jemput kamu sama Mami." Arnan mengelus kepala Anan penuh kasih.


"Iya, nanti kita beli es klim tapi ya Dad!" Pinta Anan di angguki Arnan.


Fadila mengecup tangan Arnan sopan sebelum sang suami berangkat bekerja.


"Nanti kalau Mas gak sempat jemput, pak Hakim yang akan datang menjemput kalian ke sini."


"Iya, Mas hati-hati di jalan ya."


Setelah sesi berpamitan selesai, Arnan pergi meninggalkan istri dan anaknya yang juga berjalan masuk ke dalam tanam kanak-kanak.


"Selamat belajar ya anak Mami," ucap Fadila.


"Mami, tungguin aku kan?" Tanya Anan yang takut di tinggalkan.


"Iya, Mami tungguin kamu kok di sini."


Anan tersenyum senang lalu masuk ke dalam kelas yang di depannya di tunggui oleh guru.


"Selamat datang anak tampan," sapa sang guru ramah.

__ADS_1


"Telimakasih, Tante." Sang guru terkekeh mendengar kalimat Anan.


"Panggil Ibu Guru ya, Nak."


"Ibu Guru, itu altinya apa?" Tanya Anan dengan wajah polosnya.


"Ibu Guru itu adalah orang yang membagi pengetahuan untuk anak muridnya," jawab sang guru dengan sabar.


"Pengetahuan itu apa? Anak mulid apa?" Tanya Anan lagi.


"Ya ampun, anak cerdas, anak bijak." Sang Guru yang gemas dengan sikap keingin tahuan Anan yang tinggi mencubit pelan kedua pipi gembul Anan.


"Anan! Masuk ya, Nak. Nanti tanya sama Daddy aja," ucap Fadila mengalihkan perhatian sang anak agar tidak terus bertanya.


"Iya, Mami. Ayo Tante, eh Ibu Gulu." Anan tersenyum lebar menatap gadis yang menhadi Gurunya.


"Ayo." Guru dan Murid itu masuk ke dalam kelas bergandengan tangan.


Di sisi lain, Arnan baru saja tiba di kantornya bersama pak Hakim sang supir. Arnan berjalan memasuki kantornya dengan raut wajah datar. Meski berwajah datar namun banyak para wanita baik yang single maupun yang sudah bersuami mengidolakan Arnan.


Biasanya hanya para petinggi saja yang bertemu dengan Arnan untuk melakukan rapat virtual. Kini mereka bisa bertemu langsung dengan sang big bos yang ternyata begitu tampan.


"Lihat-lihat, pak Arnan tampan banget gak sih?"


"Iya, bikin susah berpaling ke yang lain."


"Andai aja belum punya istri dan anak, aku mau di jadikan pasangan."


"Penuh pesona banget sih."


"Hot Daddy."


Bisik-bisik para karyawan yang membicarakan Arnan yang melewati mereka tentu sedikit banyaknya terdengar oleh pria itu. Namun Arnan yang pada dasarnya tidak pernah perduli dengan orang lain dan selalu bersikap datar serta dingin.


Hanya lewat begitu saja dan memasuki lift untuk menuju ruangannya sendiri. Sikap hangat dan lembut Arnan hanya untuk keluarga saja, bukan untuk halayak ramai. Yang terpenting baginya, semua orang yang bekerja dengan baik kepada perusahaannya mendapatkan upah yang menjanjikan.


"Wah, sugar Daddy sudah datang nih! Pepet ah, siapa tahu dia tergoda," gumam seorang wanita dalam hati. Posisinya wanita itu satu lift dengan Arnan di lift khusus para petinggi.

__ADS_1


Saat lift berhenti di lantai yang berada satu lantai di bawah tempat tujuan Arnan. Wanita tadi berjalan keluar dan dengan pura-pura ia menabrak Arnan.


"Aduh! Maaf Pak saya terburu-buru," ucapnya sembari memasang wajah bersalah dengan menunduk berulang kali.


"Hm," sahut Arnan acuh lalu menekan tombol tutup pada pintu lift karena ia ingin cepat naik ke lantai atas.


"Eh," kaget Wanda si wanita yang sejak tadi ingin modus dengan Arnan.


Wanda dengan cepat berlari keluar dari lift karena pintu yang akan tertutup. Para petinggi perusahaan yang satu lantai dengan Wanda bahkan sudah keluar lebih dulu. Hanya Wanda yang ingin cari perhatian pada atasannya jadi memperlambat langkah.


Hingga pintu lift tertutup rapat, Wanda masih saja menatap luft itu hingga pintu tiba di lantai atas.


"Huh, datar banget sih! Tapi untung aku sudah jadi Manager, masih punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan pak Arnan dan berusaha menggodanya." Wanda tersenyum manis memikirkan keinginannya sendiri.


Arnan sendiri tidak perduli dengan apa yang di lakukan oleh Manager barunya itu. Ia tentu sudah hafal dengan modus para wanita seperti itu. Karena di luar negeri modus yang di lakukan para wanita kepadanya bahkan lebih mengerikan lagi dari yang di lakukan Wanda.


"Hah, kenapa di mana-mana selalu saja ada penggoda? Untung saja istriku bukan tipe orang yang mudah terpengaruh," gumam Arnan yang sedang berjalan memasuki ruangannya.


"Ada yang bisa di bantu, Pak?" Tanya Iwan Sekretaris Arnan.


"Tidak, apa jadwal hari ini?"


"30 menit lagi jadwal rapat dengan perusahaan Anggar Grup di ruang meting, Pak. Lalu setelahnya memeriksa seluruh berkas yang sudah menumpuk di ruangan. Ada juga rapat dengan para direksi perusahaan setelah makan siang nanti," jelas Iwan di angguki oleh Arnan.


"Ingatkan saya lagi kalau sudah waktunya."


"Baik, Pak. Tapi ada hal yang harus Bapak ketahui tentang perusahaan itu." Arnan yang sudah duduk di kursinya menatap Iwan dengan alis terangkat.


"Katakan."


"Pihak Anggar Grup selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Salah satunya adalah menggunakan wanita," jelas Iwan.


"Hm, saya mengerti. Kembalilah ke tempatmu." Iwan mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan Arnan.


"Bukankah menggunakan wanita merupakan trik lama? Kenapa masih saja berlaku hingga kini?" Arnan geleng kepala mengingat ucapan Sekretarisnya tadi.


Jack sendiri masih di Amerika untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pemuda itu baru akan datang saat pernikahan Dwi tak lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2