
TING
Pintu lift terbuka, Wafa melarikan diri dari Arsya saat pria itu terkejut dan lengah. Dan dengan bodohnya Arsya meraba matanya sendiri, ia kira Wafa mengatakan hal yang benar, padahal itu hanya siasat Wafa agar Arsya melepaskannya.
Arsya menggerutu dengan berdecak kesal saat ia tak menemukan apapun di matanya. “Ck, dasar istri yang aneh. Bukankah seharusnya dia terpesona dengan keromantisan ku? Kenapa dia justru mengatakan ada belek di mata ku? Siyyaaall!!”
Arsya keluar dari lift, meski ia sangat kesal pada Wafa, tapi ia tak bisa menahan tawanya saat melihat Wafa lari terbirit-birit memasuki ruangannya. Mungkin Wafa takut menerima kemarahan Arsya karena sudah membuat pria itu kesal.
“Dia emang beda..” Gumam Arsya. Dia melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya.
***
“Ini kopi anda pak.” Kata Wafa.
Arsya mengalihkan pandangannya dari dokumen yang tengah ia lihat pada Wafa. Ia berdehem, “Ekheemmm..”
“Ma..maaf pak saya permisi.”
“Mau kemana kamu? Saya belum suruh kamu pergi loh.”
“Sa..saya mau ke ruangan saya pak, saya banyak pekerjaan.”
“Yang bos disini siapa??” Tanya Arsya seraya beranjak dari kursi kebesarannya.
“Anda pak.”
__ADS_1
“Kenapa main pergi gitu aja? Mana pertanggung jawaban kamu setelah kamu berbohong berbicara kalau di mata saya ada beleknya? Kamu tahu? Itu bisa membuat saham ketampanan saya anjlok, saya orang yang bersih, perfectionis, mana mungkin kalau di mata saya ada belek??”
“Bi..bisa saja pak, anda kan juga manusia, kadang sebagai manusia tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi bukan? Termasuk mata anda saat mengeluarkan belek, bisa saja bukan?” Kata Wafa dengan gugup.
“Oyah??” Arsya berdiri tepat di hadapan Wafa, membuat Wafa mengerjap gugup dan beringsut mundur memberikan jarak antara dirinya dan suaminya. “Mau kemana kamu? Jangan kabur lagi atau kita akan bertempur sekarang juga disini.”
Wafa semakin bingung, kabur atau tidak kabur dia tetap akan di serang juga. Kalau pun tidak di serang di sini, pasti Arsya akan menyerangnya di rumah.
“Ma..maaf pak, tadi itu saya..”
Pintu ruangan terbuka, Wafa mendorong Arsya hingga pria itu mundur beberapa langkah menjauh darinya.
“Arsya? Kamu ngapain sama sekretaris kamu??”
“Aku udah nelpon kamu dari tadi, tapi kamu gak angkat-angkat.”
“Oyah?? Maaf, mungkin tadi aku lagi sibuk.”
“Sibuk sama dia??” Sisi menunjuk Wafa dengan dagunya, terlihat jelas jika Sisi tak menyukai Wafa.
“Maaf pak, saya permisi ke ruangan saya.” Kata Wafa.
Arsya mengangguk, ia kembali menoleh pada Sisi dan berbicara padanya.
“Sudahlah, itu bukan urusan kamu. Ada apa kamu kesini??”
__ADS_1
“Aku mau membahas lounching iklan produk aku. Syutingnya tinggal satu hari lagi, aku rasa kita sudah harus membicarakan untuk lounching produknya."
“Ok, kamu bisa membahasnya dengan sekretaris ku.”
“Gak sama kamu aja??”
“Aku ada pertemuan dengan klien hari ini. Atau enggak gini aja, kamu dan Wafa bisa lebih dulu meeting, aku akan menyusul kalian nanti.”
“Boleh deh, kamu ketemu klien dimana??”
“Di resto Bintang seberang kantor.”
“Yaudah, aku sama sekretaris kamu juga meeting di sana aja, sekalian nungguin kamu.”
“Boleh. Kita pergi sekarang??”
Sisi mengangguk.
“Aku akan memberi tahu Wafa dulu sebentar.”
“Ok, aku tunggu di bawah aja ya Sya.”
Arsya mengangguk, ia membiarkan Sisi pergi lebih dulu sementara dirinya pergi ke ruangan Wafa.
**guys, selagi nunggu Mak update Wafa sama Arsya, kalian bisa baca novel Mak yang lainnya YESS...
__ADS_1