
Fahmi diam tak menjawab, ia sibuk memikirkan dari mana ia harus mulai bercerita pada istrinya. Masa iya dirinya harus menceritakan yang sebenarnya pada Arini? Bahwa ia menemui Wafa dan mengajaknya rujuk kembali yang pada akhirnya menyebabkan Arsya marah lalu memukulinya karena Fahmi yang juga terlalu lancang menyentuh Wafa.
Melihat keterdiaman suaminya, Arini kembali berkata. “Mas…”
“Aku, aku bertemu dengan Wafa Rin. Dan suaminya melihatnya. Dia marah dan memukuli ku.”
Arini mengerutkan dahinya. “Hanya karena kalian bertemu, lalu suami mbak Wafa memukuli mu? Apa itu tidak terlalu berlebihan?” Kata Arini dengan ragu, ia takut memancing amarah suaminya kembali. Karena menurut Arini, mana mungkin suami kakaknya itu akan semarah itu jika Fahmi dan Wafa hanya sekedar bertemu biasa tanpa sengaja. Ia merasa ada yang di sembunyikan oleh Fahmi.
“Memang seperti itu Rin, kamu menuduhku berbohong??” Tanya Fahmi dengan nada bicara yang mulai naik.
__ADS_1
Arini menunduk. “Bukan gitu mas, aku merasa suaminya mbak Wafa terlalu berlebihan, dia memukuli mu hanya karena kamu dan mbak Wafa bertemu biasa saja.”
“Aku juga tidak tahu. Pria itu sangat tempramen, mungkin Wafa juga di perlakukan tidak baik. Ya, aku yakin begitu.”
“Sudahlah mas, biarkan saja mbak Wafa menjalani hidupnya sendiri. Jangan terlalu ikut campur lagi, kamu bukan siapa-siapa dia kan??”
“Aku hanya mencemaskannya, itu saja. Lagi pula dia juga mbak mu, apa kamu tidak punya rasa simpati sedikit pun padanya??” Sentak Fahmi.
Fahmi terdiam, ia hanya menatap kosong langit-langit ruangan itu. Sedangkan Arini, ia harus kembali menelan kekecewaan karena sikap suaminya. “Apa ini yang di rasakan mbak Wafa dulu? Apa dia lebih menderita dari ku? Kenapa begitu cepat aku mendapatkan balasannya??” Batinnya.
__ADS_1
Tak sanggup menahan air mata lagi, Arini hendak bernjak, namun Fahmi menahan tangannya. Tatapan mereka saling mengunci.
“Duduklah..” Kata Fahmi dengan lembut.
Arini duduk kembali, ia menunduk dalam menyembunyikan air matanya.
“Rin, maafkan aku. Sikap ku melukai mu kan?? Maaf, aku melakukannya tanpa sengaja.” Ucapnya seraya menangkup kedua pipi Arini kemudian mengangkat wajahnya agar perempuan yang tengah menangis itu menatapnya.
“Kenapa kamu berubah mas? Sikapmu menunjukan seolah kamu menyesal melepaskan mbak Wafa dan menikahi ku. Apa yang membuatmu berubah seperti ini? Apa aku punya salah pada mu? Katakana kalau aku punya salah, tapi jangan bersikap seperti ini lagi padaku, aku tidak tahan mas. Aku sangat mencintai kamu.” Ucap Arini dengan terisak.
__ADS_1
Fahmi tak menjawab, ia justru menarik Arini ke dalam dekapannya. Ia sendiri pun tak punya jawabannya, kenapa sikapnya pada Arini berubah? Ia merasa keputusannya salah. “Maaf..” Hanya kata itu yang mampu pria itu ucapkan.
Arini menatap nanar pria yang di cintainya. bukan kata maaf saja yang ia butuhkan, tapi penjelasan dari pria itu. Sikapnya, cara bicaranya, dan semua tentang pria itu kini berubah. Tak semanis dulu, tak selembut dulu dan tak seceria dulu.