
Saat tiba di lobi perusahaan, tepat ketika itu pula mobil kantor yang di kendarai Arnan bersama Iwan berhenti.
Arnan menatap mobil yang bisa di pastikannya berisi istri dan anaknya langsung mendekat. Ia cukup heran dengan kedatangan Fadila yang tiba-tiba. Pada hal tadi wanita itu mengatakan tidak ingin mengganggu Arnan bekerja saat di minta datang.
"Sayang, kamu datang? Bukannya tadi gak mau?" Tanya Arnan saat Fadila menurunkan kaca mobil setelah melihat kedatangan suaminya.
"Ada mobil yang ngikuti kami, Mas. Aku takut dia mau berbuat jahat, jadi aku minta pak Hakim bawa kami ke sini," jelas Fadila yang membuat kedua mata Arnan melotot kaget.
"Apa? Ada yang ikutin mobil kalian? Mana mobilnya?" Arnan menatap sekitar lobi hingga jalan.
"Daddy, mau sama Daddy." Anan yang baru menyadari keberadaan Arnan langsung ingin menempel.
"Sini anak tampan." Arnan membuka pintu mobil lalu menggendong Anan.
"Ayo masuk, nanti pulangnya sama-sama." Fadila turun dari mobil dan menuruti apa yang di katakan suaminya.
Setelah anak dan istrinya turun, Arnan meminta keduanya untuk naik lebih dulu. Karena Arnan ingin bertanya dan memastikan hal yang di ucapkan istrinya tadi. Siapa tahu saja pak Hakim bisa menjelaskan lebih detail.
Karena kalau ada Anan, Fadila pasti tidak akan mau menjelaskannya secara detail dan langsung. Jadi setelah memastikan Fadila serta Anan menjauh dengan di ikuti Iwan di belakang keduanya. Barulah Arnan menatap pak Hakim yang sudah berdiri di hadapannya setelah memarkirkan mobil.
"Pak, bisa di jelaskan lebih detail tentang apa yang di ucapkan istri saya tadi."
"Begini, Pak. Tadi saat saya mengendarai mobil hendak pulang, saya melihat ada yang aneh dengan satu mobil. Saya bilang aneh karena mobil itu mengikuti kemana mobil kita pergi. Bahkan saat saya mencoba mengambil jalan lain dan berhenti beberapa kali. Mobil itu juga melakukan hal yang sama. Itu sebabnya bu Fadila meminta saya untuk ke sini karena terlihat khawatir dengan keselamatan mas Anan."
Pak Hakim menjelaskan secara singkat saja tentang apa yang mereka alami tadi. Apa lagi Arnan tidak akan suka dengan penjelasan yang terlalu panjang jika intinya hanya sedikit.
"Apa Bapak sempat melihat plat mobilnya dan ciri-ciri mobil itu sendiri bagaimana?" Tanya Arnan di angguki pak Hakim.
"Sangat melihat dan ingat, Pak. Apa lagi saya juga sesekali memantau pergerakan mobil itu."
"Kalau begitu Bapak ikut dengan saya, nanti jelaskan pada Iwan tentang apa yang Bapak ketahui itu. Saya gak mau anak dan istri saya merasa ketakutan dan khawatir lagi," ucap Arnan.
"Baik, Pak."
__ADS_1
Arnan dan pak Hakim naik ke lantai atas gedung perusahaan. Di mana ruangan tempat Arnan berada dengan Iwan yang duduk di kursinya sedang fokus.
Saat menyadari kedatangan sang atasan, Iwan langsung berdiri dari duduknya.
"Iwan, saya mau kamu mencaritahu siapa pemilik mobil yang akan di jelaskan oleh Pak Iwan." Arnan berucap langsung tanpa basa basi lagi.
Perasaannya sangat terganggu dengan laporan Fadila tadi. Juga penjelasan dari pak Hakim yang membuatnya harus segera mencaritahu siapa orang itu dan apa maunya.
"Baik, Pak."
Setelahnya Arnan pergi ke dalam ruangannya dan bertemu dengan Anan dan Fadila yang ternyata sudah tertidur di sofa. Arnan mendekati keduanya dan mengelus kepala Fadila serta Anan bergantian.
"Daddy, akan selalu melindungi kalian bagaimanapun caranya." Arnan menghela napas untuk menetralkan amarahnya yang sejak tadi di tahan kala pertama kali mendengar ada yang mengikuti mobil yang berisi istri dan anaknya.
Apa lagi memang sangat terlihat jelas kalau tadi Fadila sangat khawatir dan sedikut takut. Arnan memindahkan Fadila serta Anan ke dalam kamar lalu ia melanjutkan pekerjaannga yang harus segera di selesaikan hari ini juga sesuai jadwal.
Sementara di luar ruangan, Iwan dan pak Hakim sedang berbincang serius. Membahas hal tentu saja membuat Iwan kaget juga karena ada orang yang melakukan tindakan tidak berguna seperti itu.
Setelah mendapatkan beberapa informasi yang di butuhkan dari pak Hakim. Iwan segera melakukan tugasnya untuk mencaritahu siapa orang kurang kerjaan itu.
Setelah selesai mengurus orang-orang di mini market tadi. Febri langsung ambil langkah seribu untuk mengikuti Fadila. Pria itu ingin tahu di mana rumah Fadila saat ini. Hingga nanti ia tidak perlu susah-susah lagi mencari Fadila jika tidak bisa ditemuinya di luar.
Febri bahkan sudah berencana akan mendatangi rumah itu dan mengacaukan kehidupan rumah tangga Fadila dengan suaminya agar ia bisa memiliki Fadila lagi.
"Mau apa mobil itu masuk ke perusahaan besar itu? Itukan bukan perusahaan sembarangan. Bahkan nama perusahaannya sangat terkenal, apa Fadila kerja di sana?" Gumam Febri.
Febri tidak berani masuk ke area perusahaan itu karena memang tidak sembarangan orang bisa masuk. Dan untuk melewati satpam penjaga pintunya saja harus menunjukkan identitas lebih dulu dan meninggalkan sidik jari.
Entah untuk apa semua itu di lakukan, batin Febri yang memangtahu bagaimana proses masuk ke dalam perusahaan AR Company itu.
Tahu bukan karena pernah datang tapi karena ada beberapa rekan kerjanya yang membicarakan hal itu dan mengatakan bagaimana proses agar bisa masuk.
"Mungkin Fadila memang bekerja di perusahaan itu. Apa aku sebaiknya masuk saja dan bertanya, ya? Dari pada harus menunggu di sini dengan terus bertanya-tanya gak jelas," ucap Febri membulatkan tekatnya.
__ADS_1
Mobil yang di naiki Febri memasuki area lobi perusahaan. Setelah parkir ia langsung berjalan mendekati pintu masuk.
"Untung tadi masih sempat lihat Fadila masuk mobil, jadi bisa ngikutin sampai sini."
Langkah Febri terhenti di depan pintu yang di jaga dua orang satpam.
"Maaf, Pak. Bisa tunjukkan kartu identitas," ucap salah satu satpam dengan sopan.
"Boleh, Pak."
Febri menunjukkan apa yang di minta oleh satpam di depannya.
"Baiklah, silahkan letakkan telapak tangan di sini." Satpam itu menunjuk satu layar di mana dia harus meletakkan telapak tangannya.
Setelah semua proses selesai, barulah Febri di ijinkan masuk oleh kedua satpam itu. Akhirnya Febri bernapas lega juga karena sudah melewati penjagaan.
Sesampainya di depan meja Resepsionis, pria itu bertanya tentang Fadila pada seorang wanita di sana.
"Maaf, Pak. Tapi di perusahaan ini yang bernama Fadila masih single, belum menikah apa lagi punya anak," ucap si Resepsionis memberitahu.
"Masa gak ada sih, Mbak! Tadi orangnya baru aja masuk kok sama anaknya," kata Febri tak mau kalah.
"Tidak ada karyawan di perusahaan ini bernama Fadila yang memiliki anak, Pak. Bulan lalu memang ada tapi sudah pensiun, sudah punya cucu malah bukan hanya sekedar anak."
Febri meradang mendengar kalimat tidak memuaskan dari perempuan di depannya.
"Kamu jangan sok tahu ya, Mbak. Tadi Fadila baru saja masuk ke dalam bersama anaknya," ujar Febri ngotot.
"Bapak, jangan ngegas dong. Lagian siapa juga yang sok tahu? Saya memang tahu karena nama saya yang sejak tadi Bapak sebutkan. Dan saya belum menikah apa lagi sampai punya anak. Saya baru tunangan, Bapak jangan ngadi-ngadi kalau kasih pertanyaan. Jatuhin harga diri orang saja dengan menyebutkan hal yang tidak terjadi."
Si Repsionis ikutan ngotot karena kesal dengan Febri yang terus memaksanya. Febri sendiri yang mendengar apa yang diucapkan perempuan di hadapannya hanya bisa menghela napas.
Saat hendak kembali bersuara, Febri mapah di usir oleh perempuan itu.
__ADS_1
"Silahkan keluar dari sini, Pak. Anda salah tempat mencari orang, kalau mau cari orang di kantor polisi sana."
Karena tidak mau merusak reputasinya di perushaan besar dan berpengaruh itu. Akhirnya dengan terpaksa Febri pergi juga dari sana.