
Arsya menatap Wafa, tatapan seolah bertanya apakah yang di bicarakan Sisi itu benar atau tidak. Dan Wafa menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak pernah meng..”
“DIAM!!!” Sisi kembali berteriak, mengundang perhatian banyaknya orang yang tengah berada di resto tersebut. “Jangan bicara apapun lagi, aku sudah tidak mau mendengar hinaan mu lagi.” Pekik Sisi dengan berderi air mata.
Wafa menoleh pada Arsya. “Mas, ini tidak benar.”
“Mas?? Wanita itu bahkan memanggil Arsya dengan sebutan mas??” Batin Sisi dengan kesal.
“Kamu memilih percaya pada siapa Sya? Pada ku yang sudah lama kamu kenal, atau padanya? Perempuan asing yang belum lama ini kamu kenal?”
Arsya terdiam, ia menatap Sisi dan Wafa bergantian. Ia merasa bingung dengan situasi ini, satu sisi ada Sisi teman yang sudah lama ia kenali, dan setahu Arsya, Sisi bukanlah seorang pembohong. Sisi tidak pernah semarah ini sebelumnya. Tapi di sisi yang lain, ada Wafa yang merupakan istrinya, dan Arsya juga ragu jika Wafa bisa menghina orang lain seperti yang Sisi tuduhkan.
“Kenapa kamu diam saja Sya? Kamu percaya sama aku kan??” Tanya Sisi lagi.
Arsya menatap Wafa. “Fa, apa benar kamu menghina Sisi??”
Wafa menggelengkan kepalanya dengan raut putus asa. Dengan Arsya bertanya padanya, itu artinya Arsya meragukannya. Ia tak menyangka jika suaminya sendiri tak mempercayainya. “Mas, apa kamu meragukan aku? Aku benar-benar tidak menghinanya. Dia berbohong.”
“Tapi Fa, Sisi bukan seorang pembohong. Aku sangat mengenalnya.”
“Oyah?? Kamu sangat mengenalnya? Sedekat itu mas? Hingga kamu sangat mempercayainya.”
“Bukan begitu Fa, aku hanya tidak yakin kalau dia berbohong.”
__ADS_1
“Dan kamu lebih yakin kalau aku yang berbohong.” Wafa tertawa getir, air matanya menetes begitu saja meski ia sama sekali tak ingin menangis di hadapan Sisi. Wafa menghapus air matanya. Ia kembali menoleh pada Arsya. “Maaf mas, aku permisi.”
“Fa, Fa tunggu Fa. Wafa..”
Wafa tak lagi menoleh, ia tak ingin Sisi melihat air matanya yang kembali berjatuhan.
Sisi tersenyum puas, ia menghapus air matanya. “Bagus Sisi, ini awal yang baik.” Batinnya.
“Si, aku minta maaf. Tapi aku harus pergi.”
“Tapi Sya, kita kan..”
Arsya berlari menyusul Wafa, membuat Sisi mengepalkan tangannya dengan kesal. “Sial!!!” Umpatnya.
***
Arsya sudah mencoba melihat ke ruangannya, namun Wafa juga tak nampak disana. “Kamu dimana sih Fa? Kenapa pergi begitu saja.”
Arsya mencoba menghubungi Wafa, namun ponsel perempuan itu tak dapat di hubungi. Tak dapat menemukan sang istri, Arsya memutuskan untuk turun ke lantai Lima, untuk menemui Lastri, sahabat istrinya. Semoga gadis itu tahu Wafa berada di mana, atau mungkin Wafa memang tengah berada disana bersama Lastri.
Sampai di lantai Lima, Arsya menjadi pusat perhatian para karyawannya. Sebelumnya, Arsya sangat jarang menginjakan kakinya di lantai itu, ia akan mengutus Reno atau Wafa jika ada pekerjaan disana. Tapi kini, demi Wafa ia sampai turun kesana langsung.
“Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu??” Sapa seorang perempuan berkaca mata tebal yang menduduki posisi kepala Divisi di lantai itu.
“Apa is… maksud ku sekretaris ku ada disini??”
__ADS_1
“Bu Wafa? Beliau tidak disini pak presdir.”
“kalau begitu tolong panggilkan Lastri kemari.”
“Baik pak.”
Perempuan paruh baya itu melangkah menuju meja Lastri. “Las, Pak presdir mencari mu.”
“Apa?? Untuk apa? Apa aku melakukan kesalahan??” Tanya Lastri dengan gugup.
“Aku tidak tahu, cepatlah temui dia. Jangan sampai dia marah karena terlalu lama menunggu mu.”
“Baik bu, permisi.”
Lastri berjalan cepat menghampiri Arsya. “Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu??”
“Apa kamu tahu dimana Wafa??”
“Wafa? Tidak pak, aku belum menemuinya hari ini."
"Ya Tuhan, kemana dia?" Gumam Arsya.
"Apa yang terjadi pak? Apa anda menyakitinya lagi?" Bisik Lastri pada Arsya.
Arsya tak menjawab, ia meninggalkan Lastri begitu saja dengan berjalan sedikit berlari.
__ADS_1
"Apa yang terjadi lagi dengan mereka? Awas saja kalau sampai pak Arsya menyakiti Wafa lagi." Batin Lastri.