PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
KESAL


__ADS_3

Selesai mengadakan pertemuan itu, Arsya memutuskan untuk kembali ke kantornya meski waktu sudah menunjukan berakhirnya jam kerja.


“Ren, tolong antar Wafa pulang.” Kata Arsya pada Reno, hal itu membuat Wafa menoleh pada Arsya yang tampak sibuk dengan beberapa berkas di tangannya.


Sebagian orang telah keluar dari ruangan itu, ada juga yang masih mengerjakan tugas yang belum selesai atau sekedar berbincang-bincang setelah penatnya melakukan pekerjaan.


“Kamu mau kemana mas??” Tanya Wafa akhirnya.


“Kantor.”


“Tapi ini sudah waktunya pulang.” Kata Wafa lagi.


Arsya tak menjawab, ia terus membolak balikkan beberapa berkas yang sebenarnya ia sendiri pun tak tahu dengan apa yang dia lakukan.


“Mas..”


“Ren, kamu dengar saya??” Kata Arsya dengan suara meninggi. Membuat orang-orang yang masih berada disana menoleh pada Arsya dengan tatapan ingin tahu namun juga takut.

__ADS_1


Reno tersentak kaget, begitu pun dengan Wafa. Wafa tak menyangka jika Arsya semarah itu padanya, padahal ia tak melakukan apapun dengan Fahmi, salahnya Wafa, ia masih mau mendengarkan Fahmi dan di ajak bicara oleh mantan suaminya itu. Tapi itu pun ia lakukan dengan tanpa sengaja.


“Baik pak.” Kata Reno, ia menatap Wafa yang tampak menunduk. “Ayo Fa.”


Wafa mengangguk, tanpa bicara apapun lagi ia keluar dari ruangan itu lebih dulu.


“Saya permisi pak.” Kata Reno.


Arsya tak menjawab, ia sibuk memupuk emosi dan kebencian pada Fahmi. Sedangkan pada Wafa, ia tak marah, ia hanya kesal dan cemburu. Jika saja Wafa bisa tegas menolak, mungkin Fahmi tidak akan berani menyentuh perempuan itu. Jika saja Wafa tak mau lagi mendengar apapun yang di katakan Fahmi, Fahmi tidak akan berani bersikap kurang ajar pada perempuan itu.


“Fahmi, berani-beraninya dia menyentuh milik ku. Wafa istri ku, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuhnya dan bersikap kurang ajar padanya. Aku tidak akan mengalah, karena dia hanya milik ku.” Batin Arsya, tangannya mengepal kuat, bahkan buku-buku tangan pria itu tampak memutih karena kerasnya kepalan tangannya.


***


“Kenapa kamu babak belur begini mas??” Tanya Arini dengan panic saat Fahmi kembali ke rumahnya. Setahu Arini, Fahmi pergi bekerja, dan pekerjaan pria itu bukan seorang petinju, tapi kini suaminya itu pulang dalam keadaan babak belur penuh luka memar.


Fahmi mendudukan dirinya di sofa, wajahnya menengadah dengan mata terpejam. Punggungnya yang masih terasa ngilu ia sandarkan di sandaran sofa. “Aku gak papa.” Jawabnya masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


“Gak papa gimana? Wajah kamu penuh luka mas.”


“Ck, aku tahu. Jangan berisik, aku sangat lelah.”


“Maaf mas, biar aku obati dulu lukamu.”


“Tidak usah.”


“Tapi kamu bisa infeksi mas. Kali iniiii saja, tolong nurut sama aku mas.”


Arini menatap suaminya dengan sendu, pancaran matanya penuh dengan permohonan. Ia beranjak ke kamarnya untuk membawa kotak obat kemudian kembali menghampiri Fahmi.


“Tahan ya mas, ini akan sedikit perih.” Perlahan, Arini membersihkan luka suaminya, pria itu tampak meringis dan membuka matanya.


“Pelan-pelan. Ini sakit Rin.” Sentak Fahmi.


“Maaf mas, aku kan sudah bilang, tahan sedikit.” Arini meniupi luka Fahmi dengan lembut, tangannya dengan telaten membersihkan luka memar dan luka berdarah di wajah suaminya. “Sebenarnya apa yang terjadi mas. Cerita sama aku, aku istri mu. Setidaknya, dengan bercerita mungkin akan sedikit mengurangi beban fikiran mu. Aku siap mendengarkan mas.”

__ADS_1


__ADS_2