PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
Bab 38.


__ADS_3

"Fadila! Anan!" Mama Marni masuk ke dalam rumah anaknya dengan begitu hebohnya.


Ia sudah nerasa sangat rindu dengan menantu dan cucu menggemaskannya. "Fadila ... Anan ... Dimana kalian?" Mama Marni terus berteriak memanggil.


"Astaga, Mama. Jangan teriak-teriak! Ini bukan di hutan," ucap papa Simon mengingatkan istrinya.


"Ck, kemana sih mereka?" Gerutu mama Marni tanpa memperdulikan ucapan suaminya.


Papa Simon yang sudah paham akan kerinduan istrinya dengan Fadila dan Anan hanya bisa geleng kepala. Mengabaikan istrinya, papa Simon duduk di ruang keluarga dan mengambil koran yang ada di meja untuk di bacanya.


"Dimana anak, menantu dan cucuku yang menggemaskan itu?" Tanya mama Marni pada kepala pelayan yang baru muncul dari belakang.


"Tuan muda, Nyonya Muda dan Tuan Muda Kecil masih di lantai atas, Nyonya Besar." Wanita yang terlihat masih muda itu menunduk hormat.


"Hah, pantas saja sejak tadi gak ada yang jawan panggilanku." Mama Marni geleng kepala.


Wanita paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan suaminya saja.


"Tolong buatkan jus dingin 2," lanjutnya pada kepala pelayan itu.


"Baik, Nyonya Besar."


Kepala pelayan berjalan pergi setelah mama Marni menjauh.


Wanita paruh baya itu duduk di samping suaminya sembari menghela napas panjang. Papa Simon menatap istrinya yang duduk tak semangat di sebelahnya.


"Kenapa, Ma? Kemana mereka?" Tanya papa Simon. "Masih di lantai atas, Pa." Lesu mama Marni cemberut. "Padahal Mama sudah bilang kalau mau datang, tapi anak kamu malah sembunyiin menantu sama cucu kita," lanjutnya.


"Maklumin saja, Ma. Mereka baru tiba 15 menit yang lalu, dan kita sudah tiba di sini. Mereka pasti masih istirahat," kata papa Simon santai melanjutkan bacaannya.


"Iya sih, tapi Mama kan sudah kangen sama Fadila. Apa lagi Anan, ugh ... Rasanya Mama gak sabar pengen ketemu." Mama Marni tersenyum penuh rindu.


"Sama aku gak kangen, Ma?"


Mama Marni sontak menoleh dan berdiri dari duduknya saat mendengar suara Arnan. Dapat di lihatnya kedatangan keluarga kecil itu.


"Agrh ... Akhirnya kalian muncul juga. Halo cucu Nenek yang tampan." Heboh mama Marni mendekati Fadila dan Arnan yang sedang menggendong Anan.


Anan yang tadi begitu bangun di bawa mandi oleh Arnan masih badmood dan hanya diam saja dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Anan, kenapa? Kok diem saja cucu Nenek ini?" Tanya mama Marni heran.


"Lagi gak mood, Ma. Tadi belum mau mandi sewaktu bangun tidur, tapi Daddy nya maksa. Jadi dia badmood dan gak mau di turunin dari gendongan Daddy nya," ucap Fadila.


Tangan wanita itu mengusap punggung Anan pelan. Baru kali ini Anan bersikap demikian jika di ajak mandi setelah bangun tidur. Apa karena ada Daddy nya?


"Haduh ... Haduh ... Memang dasar Daddy kamu itu gak pengertian banget ya, sayang. Sini sama Nenek saja, jangan mau sama Daddy kamu yang jahat itu." Mama Marni mengulurkan kedua tangannya pada Anan.


"Gak akan mau dia, Ma. Tadi saja sama Maminya gak mau. Dia nempel terus sama ..."


Kalimat Arnan terhenti karena ternyata Anan mau berpindah pada Mama Marni. Tentu saja hal itu membuat Mama Marni sangat bahagia.


"Wwek ... Dia mau sama, Mama. The power of Nenek-Nenek lah ya," ejek mama Marni pada Arnan.


Arnan hanya bisa mendengus mendapatkan ejekan dari mamanya. Namun itu tak membuatnya kesal, pria itu memilih untu merangkul Fadila dan duduk bersama.


"Aduh, aduh ... Cucu Kakek sudha mandi, ya? Gantengnya ... Wangi lagi," ucap papa Simon bahagia saat mama Marni duduk di sebelahnya dengan Anan di pangkuan wanita itu.


"Iya dong, Kek. Aku memang ganteng, karena Nenek aku juga cantik banget." Bukan Anan yang menyahuti ucapan papa Simon. Melainkan mama Marni sendiri.


"Nenek kamu narsis banget, Nan. Jangan ikutan seperti Nenek, ya?" Papa Simon mengusap kepala Anan lembut.


"Iya, narsis. Nenek kamu orang yang narsis," ucap papa Simon mengangguk.


"Ck, jangan ajari cucu yang bukan-bukan." Sinis mama Marni.


"Nalciss itu apa, Kek?" Tanya Anan.


Mama Marni dan papa Simon saling pandang. Tak menyangka cucu mereka akan menanyakan hal itu.


"Narsis itu terlalu percaya diri," jawab papa simon.


"Pelcaya dili itu apa?" Tanya Anan lagi dengan wajah polos.


Papa Simon berpikir sejenak, harus bangaimana ia menjawab agar cucunya paham dan berhenti bertanya lagi. "Cerewet! Ya, cerewet. Nenek sangat cerewet," alibinya.


Meski terdengar tidak nyambung antara pertanyaan dan jawabannya. Papa Simon cukup lega karena Anan mengerti apa yang di katakannya.


"Ssepelti Buna ya, Kek? Kata Mama aku, Buna itu celewet banget." Papa Simon menatap Anan bingung. "Mama siapa, Nak? Buna itu, siapa?" Tanyanya.

__ADS_1


"Ya Mama cama Buna, Kek." Anan menatap papa Simon seperti pria itu menatapnya.


Papa Simon dan Mama Marni saling pandang tak tahu. Mereka memang tidak tahu siapa itu mama dan buna yang di maksud oleh Anan.


"Mama itu Dwi dan Buna itu Sinta. Anan, panggil mereka begitu, karena sejak lahir mereka berdua yang temenin aku ngurusin Anan." Fadila memberitahu kedua mertuanya.


"Oh, begitu. Jadi Buna itu cerewet seperti Nenek ya, Nan?" Tanya papa Simon setelah paham.


"Iya, Kek. Itu kata Mama, bukan kata aku," ucap Anan yang membuat semua orang di sana melongo.


Bagaimana mungkin anak kecil sudah bisa melemparkan kesalahan pada orang lain. Padaha jelas-jelas Anan yang baru mengatakan hal demikian, tapi sudah menyalahkan Dwi.


"Anan, siapa yang ajari kamu seperti itu? Gak boleh menyalahkan orang lain atas apa yang kamu ucapkan sendiri, Nak. Segala ucapan dan perbuatan kamu, itu tanggung jawab kamu sendiri." Fadila berbicara lembut pada Anan.


Anan menatap maminya polos dan bibirnya sedikit di runcingkan bagian atasnya.


"Mama yang sseling bilang cama aku, Mi. Bukan aku yang bilang. Mama juga sseling bilang kalau Mami itu cebenalnya dulu nakal. Mami, waktu ssekulah pelnah panjat dinding kalena pengen mangga di belakang ssekulah."


Kedua mata Fadila melotot sempurna mendengar ucapan anaknya. Apa yang sudah di katakan temannya itu pada anaknya? Awas kamu ya Dwi, batin Fadila geram.


"Itu ... Jangan di dengerin ucapan Mama kamu," ucap Fadila sembari tersenyum tak enak pada mertuanya dan suaminya.


Bagaimanapun juga apa yang di ucapkan Anan tentangnya benar adanya.


"Kenapa, Mi? Buna pelna bilang, kalau Mami pelnah ssembunyikan celana om Iki kalena Mami malah. Mami, juga pelna buat anak laki-laki nangiss kalena jahati Mami."


Fadila menghela napas panjang saat kenakalannya di sebutkan sang anak. Wanita itu juga tersenyum canggung menatap anaknya.


"Anan, temenin Nenek makan dong! Nenek laper banget nih," ucap mama Marni dengan wajah sedih.


Wanita paruh baya itu tak tega melihat Fadila yang terlihat jelas kecanggungannya. Tak ingin membuat sang menantu semakin tidak nyaman, mama Marni mencari alasan agar Anan lupa dengan ucapan mama dan bunanya.


"Ah iya, Kakek juga belum makan. Ayo, ayo ... Kita makan bersama." Papa Simon menggendong Anan dan membawa bocah itu pergi.


Fadila menurunkan bahunya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Awas saja kalian berdua, ya!" Fadila mengepalkan kedua tangannya erat dengan wajah sangat kesal. "Berani-beraninya cerita semua itu sama anakku, tunggu pembalasanku."


Arnan menahan tawanya melihat sang istri yang begitu kesal saat ini pada kedua sahabatnya. Sungguh ia tidak menyangka kalau istrinta begitu nakal saat sekolah dulu.

__ADS_1


__ADS_2