
Wafa meraba-raba bagian sebelah tempat tidurnya, ia mengerjap saat tangannya tak mendapati suaminya. “Mas…” Panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Setelah pertempuran panas mereka, Wafa tertidur karena lelah, ia tak tahu kemana perginya Arsya, ia kira pria itu juga tertidur.
Samar-samar terdengar suara dari arah balkon, Wafa mengambil pakaiannya yang berserakan di atas lantai kemudian memakainya kembali. Ia langkahkan kainya menuju balkon, Arsya tampak tengah berdiri membelakanginya di sisi balkon. Pria itu tengah berbicara melalui sambungan telponnya, dan pembicaraan Arsya membuat Wafa terdiam penuh tanya.
“Aku mau dia di pecat, dia sudah berani mengganggu istriku. Pecat dia dengan tidak hormat dan jangan biarkan dia di terima bekerja di perusahaan mana pun. Biarkan dia merasakan penderitaan yang dulu istriku rasakan.” Ucap Arsya dengan penuh penekanan.
Arsya menutup sambungan telponnya setelah seseorang di seberang sana menyatakan kesiapannya dalam melaksanakan tugas dari Arsya. Pria itu berbalik dan terkejut saat mendapati Wafa di belakangnya.
“Sayang, kenapa bangun??” Tanya Arsya dengan gugup.
“Aku nyari kamu mas.”
“Aku disini, aku gak bisa tidur tadi. Makanya aku keluar cari udara segar.”
“Udara malam tidak baik mas, apalagi kamu tidak memakai baju.” Kata Wafa, karena saat ini Arsya tak memakai pakaian, ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya sampai ke atas lutut untuk menutupi area terlarangnya saja.
Arsya tak menjawab, ia hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya. Kemudian menghampiri perempuan itu dan memeluknya. “Kamu sedang menggoda ku lagi.” Bisiknya.
__ADS_1
“Ap..apa??” Tanya Wafa tergagap.
Arsya tak menjawab, namun matanya meneliksik penampilan Wafa dari atas hingga ke bawah. Dan Wafa pun melakukan hal yang sama, perempuan itu membulatkan matanya saat menyadari jika ini akan menjadi senjata makan tuan untuknya. “Oh tuhan..” Batinnya.
Arsya hendak kembali menyerang bibir manis istrinya, namun tatapan perempuan itu menghentikan pergerakannya. “Kenapa??” Tanya Arsya.
“Kamu mau lakuin apa ke mas Fahmi??”
Arsya berdecak, ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan istrinya. “Kenapa bahas dia sih? Dan satu lagi, aku gak suka kamu masih memanggilnya mas.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan mas, kamu mau ngelakuin apa??”
“Aku akan memecatnya dengan tidak hormat, dan aku juga tidak akan membiarkan dia mendapatkan pekerjaan lagi dimana pun.”
“Kamu masih tanya kenapa?? Jangan tunjukin lagi rasa simpati kamu untuknya di hadapan ku Wafa.”
Arsya beranjak meninggalakan Wafa, namun langkahnya terhenti mendengar ucapan perempuan itu.
“Aku tidak simpati padanya mas, aku bahkan gak perduli kalau dia mati sekalipun. Yang aku cemaskan bukan dia, tapi adik ku mas. Adik ku adalah istrinya, meskipun mereka menyakitiku, tapi tetap saja darah tidak akan bisa berubah. Dia adik kandungku, jika kamu melakukan itu pada suaminya apa yang akan terjadi pada adik ku? Hidupnya akan terlunta-lunta mas, tolong sedikit aja kamu ngertiin posisi aku. Kalau Arini sampai kenapa-kenapa, dia pasti akan membuat ibu dan bapak sedih lagi mas, aku gak mau membuat orang tua ku kembali terbebani dengan masalah kami.”
__ADS_1
Arsya menghela nafas dalam, apa yang di katakana istrinya ada benarnya, dia tidak sampai berfikir kesana. Arsya kembali berbalik kemudian menghampiri Wafa dan memeluknya. “Maaf sayang, aku hanya benci melihatnya dekat dengan mu apalagi sampai menyentuh mu lagi. Aku sangat marah, rasanya aku ingin menghabisinya saat itu juga.”
“Aku juga minta maaf kalau tindakan ku itu menyakiti mu dan membuat kamu marah mas.”
Arsya mengeratkan dekapannya, ia mengecup puncak kepala Wafa berkali-kali dengan mata terpejam merasakan betapa dadanya berdebar-debar ketika ia tengah berada sedekat ini dengan istrinya. Namun sayangnya, ia msih belum menyadari perasaannya.
“Mas..”
“Ya??”
Wafa menjauhkan diri dari Arsya, ia mendongak menatap mata sendu suaminya. “Aku mendengar sesuatu..”
“Ap..apa??” tanya Arsya dengan gugup.
“Dada kamu mas, dada kamu berdebar-debar. Apa itu karena aku?? Dag dug dag dug, gitu mas.”
WAKWAAAW
Ambyar sudah suasana haru nan romantic itu, lagi-lagi kepolosan Wafa membuat Arsya merasa malu. Pria itu memejamkan matanya, mengatupkan kedua bibirnya agar tak sampai menggigit istrinya itu.
__ADS_1
Wafa menatap Arsya dengan tatapan polos, “Kamu kenapa mas??”
“Elaaah punya bini begini amat.”