
Siang ini Arsya meminta Wafa agar ikut dengannya menghadiri acara lounching iklan produk milik sebuah pabrik dimana Sisi bekerja. Awalnya Wafa menolak, ia sangat malas kembali bertemu dengan perempuan itu. Tapi Arsya memaksa dan meyakinkan Wafa jika dia harus datang, bukan hanya sekedar sebagai sekretaris Arsya saja, tapi juga sebagai istri dari pria itu.
Setelah Wafa memikirkannya berulang kali, akhirnya Wafa menyetujui ajakan Arsya. Ia juga tak mau salah faham atau berprasangka buruk lagi pada suaminya jika ia tak ikut.
Acara itu akan di laksanakan di sebuah hotel berbintang pukul 14.00 WIB. Sebenarnya bukan hanya Wafa saja yang malas bertemu dengan Sisi, tapi juga Arsya. Ia masih tak menyangka jika Sisi akan melakukan hal itu pada istrinya hanya demi mendapatkan perhatian darinya. Namun memegang teguh sikap profesionalisme, mau tidak mau Arsya harus datang menghadirinya. Ia harus mengesampingkan masalah pribadinya saat tengah terlibat pekerjaan seperti sekarang ini.
“Sayang, masih ada waktu satu jam lagi. Ikut aku yuk.” Kata Arsya saat ia memasuki ruangan Wafa.
“Kemana mas??”
“Udah ikut aja, nanti juga kamu tahu.”
“Tapi pekerjaan aku belum selesai loh.”
“Simpan itu untuk besok, yuk cepetan.”
Meski tak tahu suaminya akan membawanya kemana, Wafa memilih mengangguk saja dan mengikuti langkah pria itu dari belakang.
“Kita mau kemana sih mas? Kita harus menghadiri acara louching iklan itu bukan??” Tanya Wafa lagi, saat ini mereka tengah dalam perjalanan, tapi Arsya belum mau mengatakan mereka akan pergi kemana.
Tak terlalu jauh dari gedung perusahaan GalaMedia, Arsya membelokan mobil mewahnya ke salah satu mall terbesar di pusat kota. Hal itu membuat Wafa mengerutkan dahinya dan tak tahan untuk tak kembali bertanya.
“Kok ke mall mas??”
Arsya masih bungkam, ia meraih jemari Wafa kemudian ia genggam dan membawa perempuan itu memasuki mall tersebut.
“Mas..” Wafa menghentikan langkahnya, membuat Arsya pun melakukan hal yang sama.
“Apa sih sayang??”
“Mau bawa aku kemana sih? Kenapa ke mall? Katanya mau ke acaranya Sisi??”
“Iya, makanya aku bawa kamu kesini dulu. Udah ikut aja.”
Wafa melangkah kembali karena Arsya pun kembali menarik tangannya dan melanjutkan niatnya untuk membawa perempuan itu ke suatu tempat.
Tepat di depan sebuah Salon ternama Arsya menghentikan langkahnya. “Kamu harus tampil cantik sayang.” Ucapnya.
“Jadi selama ini aku gak cantik mas??”
__ADS_1
“Bukan gitu, kamu cantik tapi kamu kan jarang make up-an. Sekarang acara besar, akan ada banyak wartawan disana, aku punya kejutan buat kamu.”
“Kejutan apa??”
“Kalau aku ngomong sama kamu dari sekarang bukan kejutan lagi dong namanya. Pokonya kamu duduk manis dan nurut aja ok??”
Wafa mengangguk pasrah. Ia di bawa ke suatu ruangan khusus oleh Arsya. “Mike, urus istriku. Buat dia berbeda. Jika kamu berhasil, dua kali lipat akan masuk ke rekening kamu.”
Perempuan bernama Mike itu mengangguk meski ia terkejut dengan yang Arsya katakan, karena setahunya Arsya belum menikah, tapi sekarang pria itu memperkenalkan wanita cantik yang ia bawa sebagai istrinya. Dan Mike tahu jika Arsya bukanlah tipe pria pembual. Jika Arsya mengatakan itu istrinya, maka itulah yang sebenarnya.
“Mari nyonya ikut saya.”
“Sayang, aku tunggu kamu disana yah.” Kata Arsya seraya menunjuk ruangan yang tak jauh dari sana.
Wafa mengangguk. “Jangan kemana-mana.”
“Iya enggak..” Arsya mendekat, ia mengecup kening Wafa sekilas sebelum akhirnya pergi ke ruangan yang ia tunjukan tadi.
“Mari Nyonya..” Kara Mike lagi, ia menggandeng tangan Wafa dan membawa Wafa ke ruangan khusus. “Ini ruangan khusus milik bos Arsya nyonya, setiap beliau kesini, inilah ruangan yang selalu beliau pakai.”
“Oyah?? Jadi suami saya sering kesini? Ngapain?? Maksud saya, ini kan salon, apa dia kesini untuk berdandan juga??” Kepolosan Wafa muncul.
“Jadi disini juga ada terapi dan pijat??”
“Tentu nyonya, kami menyediakan pelayanan yang komplit.”
Wafa tak menjawab, ia justru sibuk berfikir bagaimana caranya agar suaminya itu tak datang lagi kesini untuk di pijat. Wafa sungguh tidak rela jika tubuh seksi suaminya di sentuh dan di nikmati oleh orang lain selain dirinya. “Apa aku kursus memijat saja yah??” Gumamnya, terlalu asik dengan fikirannya sendiri membuat wafa bergumam tanpa sadar.
“Kenapa Nyonya?? Apa nyonya mengatakan sesuatu??”
“Eh?? Apa?? Enggak kok.”
Mike menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Ia mulai menyiapkan peralatan tempurnya, tangan lenturnya itu harus bisa menyulap wajah cantik alami Wafa terlihat lebih cantik lagi. Bukan karena bonus yang Arsya tawarkan, tapi karena kepuasan pelanggan adalah kebahagiaan untuknya. Apalagi pelanggannya kali ini adalah Arsya, pengusaha tampan yang sudah sejak lama percaya pada dirinya dan pada usahanya itu. Mengenai Fulus itu adalah sebuah bonus yang merupakan penghargaan atas kerja kerasnya.
“Waah ini sih udah cantik banget nyonya..”
“Ah mbaknya bisa aja.”
“Asli loh nyonya, pantesan aja tuan bos kesemsem.”
__ADS_1
Wafa tersenyum hambar, “Kesemsem apanya, dia tidak mencintai ku. Kita berhubungan hanya saling membutuhkan saja.” Batin Wafa.
“Kalian sudah lama menikah??” Tanya Mike lagi.
“Lumayan lama, sekitar Enam bulan mbak.”
“Semoga cepat dapat momongan ya Nyonya. Pasti akan menjadi berita heboh.”
“Kenapa Heboh??” Tanya Wafa, matanya terpejam saat sapuan koas make up bergerak di daerah matanya.
“Nyonya, bos Arsya itu kan pengusaha terkenal, banyak yang mengaguminya, berita tentang bos selalu jadi berita heboh. Kalau sampai bos mempunyai anak, pasti akan menghebohkan jagat Surabaya. Wuaaahhh kebayang nyonya.”
“Memangnya suami saya seterkenal itu mbak??”
Mike mengerjap. Masa iya ada perempuan yang tidak tahu siapa Arsya, mungkin begitu fikirnya. Ia pun tak tahan untuk tak bertanya, “Memangnya mbak benar-benar tidak tahu siapa bos Arsya??”
Wafa menggelengkan kepalanya. “Enggak mbak, kita menikah saja mendadak. Maksudnya, waktu itu mas Arsya hanya berniat melamar saya, tapi ternyata dia menikahi saya langsung. Saya gak tahu siapa mas Arsya dan bagaimana kehidupannya, yang saya tahu dia pria yang menikahi saya yang siap bertanggung jawab atas diri saya. Siap membahagiakan saya, dan ya, saya memang sangat bahagia. Suami saya sangat baik.”
“Wuaaahh manisnya, saya jadi meleleh nyonya.”
Mereka berbincang-bincang, namun tangan lentur Mike tak berhenti menyulap setiap lekuk wajah cantik Wafa.
“Selesai…” Pekik Mike.
“Sudah mbak?? Kok cepat??”
“Ya karena wajah nyonya sudah cantik, saya hanya menambahkan sedikit saja agar semuanya tampak lebih sempurna. Mari ganti pakaiannya.”
Wafa menurut, ia bangkit berdiri dan berjalan mengikuti Mike ke ruangan kecil yang terdapat di ruangan tersebut.
Sekitar Lima menit saja, wafa sudah kembali keluar.
“Sebentar Nyonya, kita pakaikan jilbabnya dulu.”
Wafa kembali duduk di kursi sebelumnya. Ia dia pasrah saat Mike menatap jilbabnya.
“Selesai. Ayo keluar, kita dengar apa pendapat bos.”
MAAF GUYS MAK BARU UP.. MAK ATIT GUYS, MOHON DOANYA SEMOGA PULIH LAGI. JANGAN LUPA JAGA KESEHATAN YA KALIAN KESAYANGAN MAK...
__ADS_1